20 July 2010

HIDUP TIDAK AKAN PERNAH SAMA LAGI

Saya mencintai dia setengah mati. Namun dia pergi dengan cara seperti ini. Tanpa kata perpisahaan. Saya harus siap dengan kehidupan tanpanya, disamping saya menemani seperti kemarin. Saya harus tahu cara menghadapi dunia sendirian.

Philippines,

Teroris,

Hutan belantara,

Kelelahan,

Kebingungan,

Keputusasan

dan..................

Kematian.

Saya ingat, suatu siang saya menatapnya. Mengajaknya bicara namun dia menatap dengan enggan. Saya tahu, beban ini sudah terlalu berat. Namun pada akhirnya saya putuskan untuk berkata: “Sayang,kamu harus tahu ini. Entah kamu yang mati lebih dulu atau aku. kamu harus tahu, bahwa aku bahagia ketika kamu mengajak aku menikah. Aku bahagia hidup dengan kamu. Aku bahagia menjadi istri kamu. Kamu adalah bagian terindah dan terbaik dalam hidupku. Kamu memberikan kebahagian padaku dan anak-anak kita. Terima kasih dan aku mencintai kamu selamanya”.

Tak berapa lama beselang saya menguping pembicaraan para teroris yang menyandera kami berkata bahwa tentara Philippines semakin dekat memasuki daerah persembuyian di tengah hutan belantara itu, yang saya pun tidak pasti kedalamannya. Saya dan dia senang. Namun kami tidak bisa mengekspresikan perasaan itu. Para teroris yang menyandera kami selalu berjaga-jaga. Berjalan hilir mudik sambil menggendong senapan dan terus mengawasi kami. Lelah hanya itu yang saya rasa, bahkan para teroris itu pun. 9 hari kami tanpa makan dan minum. Kami tak berdaya. Hanya selalu berdoa agar pertolongan itu segera datang. Setiap hari kami hanya bisa memupuk harapan dan semangat untuk tetap berjuang demi keluar dari tempat ini.

Saya dan dia sedang berbaring lemas di ayunan hasil karya kami. ketika tiba-tiba suara tembakan mengejutkan kami. Saya dan dia terlempar dari ayunan. Peluru itu mengenai kaki saya. Kami panik. Para teroris itu pun sama paniknya dan tidak bisa melawan. Kondisi mereka sudah sangat terjepit. tentara memborbardir kekuatan mereka & lumpuh total. Satu-satu dari mereka terkapar dengan berlumura darah. Mereka berhasil menyelamatkan para sandera. Akhirnya hari kebebasan itu datang juga.

Mereka berhasil menyelamatkan saya namun peluru dari senjata mereka ternyata juga mengenai dia. peluru itu bersarang di dada kirinya. Darah mengalir deras. Saya memanggil namanya, dia hanya mengerang. Saya memegang tangannya dan tubuh itu mengejang. Saya mendengarnya mengerang sekali lagi. Kali ini dengan nafas yang tidak biasa. Dia sekarat. Saya menaruh tangan saya pada perutnya dan merasakan nafasnya. Tiba-tiba 2 orang tentara memegang tubuh saya dan menyeret naik perlahan-lahan. Sementara pandangan saya masih terus menatap lurus tubuhnya yang tergeletak tak berdaya. Saya masih mendengar erangan nafasnya namun kali ini pelan dan lemah. Kemudian diam tak bergerak. Terakhir, ya itu nafasnya yang terakhir. Saat itu saya tahu dia telah meninggal. Tidak ada kata perpisahaan yang biasa diucapkan kebanyakan orang ketika melepas jasad orang yang dicintai. Tapi saya sadar dia tahu ucapan itu selalu ada untuknya. Mereka berhasil menyelamatkan saya namun mereka tidak berhasil menyelamatkanya, suami saya.

Tubuh saya dibawa naik ke Helikopter. Dari atas saya melihat hutan belantara tempat selama 1 tahun ini kami hidup dan berkelana sebagai sandera. Kami selalu bergerak untuk menghilangkan jejak dari tentara. Berpindah-pindah dengan kondisi seadanya. Selalunya tanpa makanan selama berhari-hari, mengikuti perintah dan kemauan para teroris. Kejam, bengis tanpa perasaan. Itulah gambara hutan itu. Namun disana juga setengah dari hati ini tertinggal. Jasad suami saya tidak pernah dikuburkan. Saya membiarkannya tergeletak begitu saja. Dan saya sangat menyesalinya. Kondisi dan kelemahan fisik saat itu membuat saya tidak bisa berfikir banyak.

…………

Terbangun, membuka kelopak mata sama beratnya dengan memaksakan hati saya menerima semua kenyataan bahwa mulai saat ini saya akan hidup tanpa dia. Hari ini adalah hari terakhir saya di Manila. Bergegas itu yang harus saya lakukan saat ini. Selesai mandi saya menatap cermin didepan, mengambil sisir dan mulai merapikan rambut. Dia ada disana. Didalam cermin. Melihatnya sedang memeluk tubuh saya lalu memandang dengan tersenyum. Saya merindukan dia. Tapi seperti katanya bahwa saya harus hidup dengan normal demi anak-anak kami. Anak-anak butuh ibu yang kuat dan tegar untuk membimbing dan mengayomi mereka.

Saya berjalan kearah jendela, Perlahan, membuka tirai dan mendapati pemandangan kota Manila yang begitu sibuk. Pemandangan itu begitu indah. Pohon, matahari, gedung-gedung, kendaraan, kesibukan bahkan kepadatan menjadi lebih indah saat ini. Untuk orang yang baru keluar dari hutan, kota ini terlihat begitu mengagumkan. Saya melangkahkan kaki, berbalik sesaat untuk melihat sekeliling kamar, menutup pintu dan berjalan menyonsong kehidupan.

Saya tahu sejak hari ini hidup akan berubah. Semua tidak akan sama lagi. Semua tidak akan berjalan seperti dulu lagi. Kebahagiaan, senyum, optimisme dan harapan itu tidak akan pernah sama lagi. Ya, semua akan berbeda namun ada satu yang tidak akan pernah berubah bahwa saya akan selalu ada untuk anak-anak kami dan…….

Selamat jalan suamiku... Hidup tidak akan pernah sama lagi… saat ini.