09 February 2009

IMPIAN ITU, SEKARANGLAH WAKTUNYA

Image (182)Saya suka travelling dengan budget minim. Hanya dengan modal nekat dan keinginan menjawab tantangan. Walaupun saya seorang wanita buat saya tidur di terminal ketika travelling ke luar negeri bukanlah hal yang perlu ditakuti. Selain saya percaya keselamatan diri sendiri. Saya juga percaya bahwa Tuhan akan selalu menyertai perjalanan saya. Naif memang tapi ternyata berpikir positif sangat berguna lho untuk membangun kepercayaan diri sendiri. Kalo hal yang buruk saja bisa terjadi dari hasil pemikiran negatif kenapa saya tidak belajar mengubah cara berpikir saya jadi positif biar selalu hal positif dan kebaikan lah yang akan saya temui dalam perjalanan hidup saya.

Dua minggu saya cuti dan mengisinya dengan conference dan petualangan kebeberapa negara. Menyenangkan dan saya kembali menemukan apa yang saya banget ditengah-tengah rutinitas pekerjaan saya. Melanglangbuana seperti dua minggu itu membuat saya lebih mengenal diri saya sendiri. Memang dengan posisi yang saya miliki saat ini rasanya seperti membalikan telapak tangan untuk holiday ke beberapa negara dengan fasilitas lebih baik. Tapi bukan itu yang saya inginkan. Saya menginginkan petualangan. Coba bayangkan petualangan seperti apa yang bisa saya dapatkan jika saya berpergian layaknya pelesir saja. Dengan semua fasilitas terbaik dan tour yang menyenangkan. Wah, itu sih bukan saya banget.

Sejak kecil saya memimpikan satu hari nanti entah dimanapun saya bekerja dan dengan profesi apapun, saya tetap ingin menjadi seseorang yang sederhana dan pencinta travelling. Yang jika menginginkan sesuatu harus bekerja keras tanpa memanfaatkan fasilitas yang saya miliki. Impian itu sudah saya simpan selama puluhan tahun, tanpa tahu kapan akan bisa terwujud. Dan kemudian terwujud di tahun 2008 ini, membuat saya sangat bahagia. Tentu saja. Setiap orang pasti punya mimpi. Punya cita-cita yang suatu hari ingin diwujudkan, apapun tantangannya. Sekalipun dengan keringat dan airmata. Apakah seperti itu juga, kawan?

Saya begitu. Tapi impian saya tidak bisa langsung terwujud hanya dengan selalu memeluknya dalam tidur saya sekalipun. Saya memupuknya dengan buku-buku, majalah-majalah atau Koran-koran yang berhubungan dengan petualangan. Sehingga ketika membaca artikel-artikel perjalanan membuat bibit mimpi yang ada dalam diri saya semakin subur. Begitulah cara saya menjaga dan membesarkan impian saya.

Sampai satu waktu ketika saya sedang duduk dimeja kerja saya setelah office hour yang melelahkan, kenekatan saya yang pertamakali menyuarakan kehausan akan petualangan itu. Thailand ! Negara yang secara geografis diberkahi Tuhan dengan pemandangan alam yang cantik, Lekukan bukit dan tebing yang demikian sempurnanya. Pastilah petualangan saya akan punya banyak cerita. Namun logika saya tiba-tiba mengacungkan tangan ingin memberi komentar. Apa iya bisa mendapatkan cuti dua minggu untuk kenekatan ini ?

Saya memberanikan diri menghadap bos saya. Mengajukan satu minggu cuti. Ternyata keberanian saya hanya sampai disitu, protes kenekatan saya. Berbicara empat mata pada bos saya bukanlah hal menakutkan. Selain ramah bos saya adalah orang yang sangat pengertian dan bijaksana. Tapi ternyata semua embel-embel itu tidak cukup meredam gelisah kenekatan saya. Selesai bicara yang intinya cuti satu minggu untuk conferece, saya keluar dari ruangan dengan menyeret beban berton-ton, penyesalan. Ya sudahlah mungkin tahun depan.

Kembali pada rutinitas membuat saya bisa melupakan penyesalan dan kesedihan itu, sedikit !. Hey, ini impian puluhan tahun wajar toh jika saya sedih belum bisa mewujudkannya. Pintu ruang kerja saya diketuk dan muncul seseorang disana. Bos saya ! OMG, hanya hal-hal penting yang akan membawanya berada dalam ruangan saya seperti saat ini. Spontan saya berdiri dan menanyakan ada masalah apa di proyek. Dia tersenyum dan ehm…. terlihat ganteng wece, ganteng banget. Tapi bukan itu yang bikin saya tertarik. Ketampanan yang dia miliki telah jadi santapan setiap hari saya jika dia sedang berada di kantor ini. Bukan itu, justru yang membuat saya tertarik adalah ketika dia mengatakan memberikan saya cuti dua minggu. Dan terserah saya mau dipakai kemana.

Thailand, sudah jelas terbayang dimata saya. Ini perjalanan pertama dan saya ingin pergi sendiri. Berpetualang sendiri menikmati keindahan alam Thailand.

Dan mulailah saya sibuk mempersiapkan perjalanan ini. Dengan browsing di internet dan mencari situs-situs yang berhubungan dengan travelling dengan budget minim. Membaca saran-saran mereka dan menyimak persiapan apa yang diperlukan selama perjalanan itu.

Dan siang itu, tepatnya setelah lunch saya bekerja dengan begitu semangatnya. Seperti ada sesuatu yang dipompakan kedalam semangat saya. Sejak hari itu saya bekerja demi Thailand. Semua pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawab saya harus selesai sebelum Thailand menjemput. Sehingga dua minggu cuti itu bisa saya nikmati tanpa gangguan dari kantor.

Mulai dari menyelesaikan beberapa laporan sampai akhir bulan, mentrain asisten saya dan memberikan pekerjaan ekstra pada sekretaris menjadi agenda baru. Saya tidak ingin dua minggu diganggu dengan remeh temeh dari kantor. Membuat petualangan saya jadi berantakan nantinya. Saya ingin menikmati travelling saya.

Dan waktu itupun tiba. Waktu dimana saya akan mewujudkan impian sejak kecil saya.

To be continued

KETIKA NURANI BICARA

Rainbow

Pernah mengalami kehilangan muka, nama baik dan harga diri yang disebabkan oleh orang lain ?

Saya pernah. Dan itu menyakitkan. Apalagi dilakukan oleh orang yang baru beberapa hari saya kenal. Sedih, kecewa dan marah campur aduk jadi satu dalam diri saya. Ingin sekali rasanya mengeluarkan kata-kata yang sama menyakitkannya waktu itu. Tapi saya teringat sesuatu. Dan itu membuat saya memilih untuk diam saja.

Dihadapan orang banyak yang semuanya saya kenal dan mengenal saya. Rasa malu yang saya rasakan benar-benar membuat saya merasa kehilangan harga diri. Saya marah. Sangat marah. Saya kesal. Sangat kesal. Tapi Sesuatu itu lebih pantas untuk dihargai dibandingan dengan kata-kata pembalasan.

Saya bukan manusia pengecut dan cengeng untuk sesuatu yang bernama kesedihan dan kekecewaan. Bukan karena terbiasa tapi memang saya tidak bersahabat dengan airmata. Jika airmata ada di kelopak mata saya itu pertanda rasa itu terlalu dalam.

Manusia tidak penting itu telah merusak nama baik saya. Menghancurkan harga diri yang telah susah payah saya bangun selama ini. Terserah orang lain mau beranggapan apa, buat saya nama baik itu sangat penting. Sekian lama saya menjaga nama baik itu. Hanya dalam sekejap manusia tidak penting itu merusaknya.

Saya diam tapi bukan berarti saya bisa menerima perlakuan itu. Saya memutuskan untuk kembali ke tempat duduk saya di lantai satu, Masih dalam diam. Berjalan keluar dari ruangan itu dengan beban yang teramat berat, mengumpulkan harga diri saya yang berserakan tidak karuan. Sambil menahan airmata yang sudah mengembang diujung, akan tumpah.

Dalam perjalanan ke lantai satu airmata itu telah jatuh. Dan tangis itu pecah saat saya tiba ditempat duduk saya. Kejadian itu sanggup menghilangkan konsentrasi saya. Saya meratap sendiri ditempat duduk. Mulai melawan semua logika yang ada dengan rencana pembalasan. Saya mengintepretasikan kejadian ini dengan sikap yang salah.

Ketika siang menjelang kekecewaan itu terus saja menuntut saya melakukan pembalasan. Saya mulai berdebat dengan hati nurani, membenarkan semua perasaan kecewa, sakit hati dan sedih itu. Bilang pada saya nurani dibagian mana saya tidak sah untuk meratap dan membalas.

Tapi nurani tetap keukeh dengan sarannya, “Belajarlah mengampuni, maafkan dia, karena hanya itu satu-satunya jalan kesembuhan untukmu”.

Manusia tidak penting itu, pantaskah untuk dimaafkan. Dia bukan teman saya, bukan saudara saya, bukan pula keluarga saya. Dia hanya seseorang yang baru saya kenal beberapa hari. Pantaskah menerima kebaikan itu.

Kemudian nurani berbicara lagi pada saya: “Masalahnya bukan siapa yang menimbulkan kejadian ini, tapi respon seperti apa yang kamu hasilkan dari pembelajaranmu tentang kehidupan selama ini. Siapapun boleh merusak nama baikmu tapi nama baik itu bisa kembali sempurna jika kamu selalu memberikan kata maaf dengan tulus”.

Menyakitkan bahkan nurani pun tidak mendukung saya. Nurani bersilangan pendapat dengan saya. Hanya diam kemudian yang bisa saya lakukan. Diam selama yang logika saya butuhkan.

Lalu saya teringat sesuatu itu kembali. Sesuatu yang saya hargai dan hormati dalam hidup. Haruskah saya membuat sesuatu itu terbeban dengan pembalasan saya ?

Saya menyerah. Saya tidak ingin berdebat lagi. Saya mengaku saya salah. Respon yang saya tunjukkan salah.

Sedetik kemudian saya diam dengan kepala terpuruk. Ada doa yang terucap. Meminta pengampunan dan memberi maaf. Setelahnya apakah nama baik saya kembali seperti dulu, itu sudah tidak penting lagi. Yang terpenting buat saya saat ini adalah memaafkan. Itu saja.

Dan perasaan tidak menyenangkan itu hilang begitu saja. Detik itu saya bersyukur bahwa nurani ada disana, disaat saya perlu mengambil keputusan penting dalam hidup. Terima kasih untuk selalu menjaga hidup saya sehingga saya tidak perlu jatuh dalam persoalan yang tidak perlu.

BABY CIKA

Fransisca (32) Fransisca (31) Fransisca (33)

Dia adalah bidadari kecil saya. Pertama kali melihat wajahnya hari Minggu tanggal 11 Mei 2008 jam 02.09 minggu lalu, hati Saya benar-benar bahagia. Bidadari cantik ini lah yang akan selalu menjadi kebahagiaan saya nantinya. Namanya :Fransisca Divasta Liefde Ricardo Ayal. Cukup panggil bidadari kecil ini dengan nama Cika. Dia memanggil saya dengan sebuatan tante atau sekali-sekali papanya yang adalah kakak saya menyebut saya dengan panggilan mama. Ya saya telah menjadi mama bagi bidadari kecil ini. Telah sembilan bulan saya menantikan kehadirannya. Heboh sendiri malah menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kehadirannya. Segala macam ingin saya beli. Bahkan buku. Bah, dia kan masih bayi mana bisa membaca! Saya dong yang akan mendongeng buat dia.

Senyumannya cantik sekali. Wajahnya yang cantik membuat siapapun betah berlama-lama menggendongnya. Suara tangisannya akan selalu terdengar jika dia sedang lapar. Ketika kenyang dia akan selalu tenang bermain sendiri. Sejak kelahirannya selalu ada keceriaan di rumah saya. Seakan semua penghuni rumah rela menghentikan aktifitas hanya demi mengajaknya bermain.

Hari pertama ketika bidadari kecil ini dibawa pulang orang serumah dibuat kebingungan dan stress. Dia menangis terus tidak mau berhenti. Bahkan ketika kami telah merasa sangat kelelahan pun dia tetap saja menangis. Tidur sebentar bangun dan menangis lagi. Terus seperti itu sepanjang malam. Kami semua mengira dia kepanasan AC pun dipasang. Tapi tetap saja menangis tidak berhenti. Ketika pagi setelah mandi dia tertidur dengan nyenyaknya. Sang perawat yang datang untuk memandikan bidadari kecil ini berasumsi kemungkinan besar bidadari kecil ini tidak cocok dengan susu kaleng pertama yang diminumnya. Mau bagaimana lagi ASI sang mama belum keluar.

Melihatnya menangis hati saya jadi miris sekali. Tidak tega rasanya melihat bidadari kecil ini harus menderita merasakan sakit perut. Kebahagian saya seketika lenyap mendengar tangisan itu. Syukurlah ASI itu segera keluar sehingga bidadari kecil ini bisa mendapatkan asupan makan terbaik. Terima kasih Tuhan.

Kemarin saya menemani dia ditempat tidurnya. Mati lampu yang belakangan ini seringkali terjadi di kota saya membuat saya tergesa-gesa masuk ke kamarnya. Saya takut bila terbangun bidadari kecil ini akan menangis karena terkejut. Bidadari kecil ini memang terbangun tapi dia tersenyum-senyum sendiri dalam keremangan lampu emergency. Terus menerus tersenyum sampai saya tertawa geli melihatnya. Senyum itu manis sekali. Melihat senyumnya saya bahagia sekali. Bagaimana bayi yang baru berusia 5 hari bisa tersenyum saat mati lampu. Padahal saya saja selalu mengeluh setiap PLN sedang tidak bersahabat.

Memandang bidadari kecil ini ketika tidur selalu menimbulkan rasa dihati saya. Saya jadi teringat pengorbanan ibu ketika saya seusia bidadari kecil ini. Di zaman 'purba' itu mana ada fasilitas seperti sekarang ini. Bahkan ayah saya selalu bercerita saat hamil ibu selalu duduk menjahit popok, bedong, gurita dan baju-baju saya. Saat itu belum ada satupun toko yang menjual perlengkapan bayi seperti sekarang ini. Kalau musim hujan tiba maka ayah harus menaruh baju, popok, gurita dan bedong saya diatas lampu strongkeng yang sekarang sudah sangat sulit ditemukan penampakannya. Ayah sampai terkantuk-kantuk menunggui segala atribut diatas lampu itu sampai kering. Padahal ayah tetap harus bekerja keesokkan harinya. Tapi saat ayah berceritapun saya tidak mendapati nada penyesalan atau pun tuntutan balas jasa atas pengorbanannya. Bahkan ketika saya bersilang pendapat dengan mereka pun mereka tidak pernah mengungkit deretan pengorbanan yang telah mereka lakukan dulu.

Saya tidak pernah sadar dengan begitu banyaknya pengorbanan orangtua saya ketika saya kecil sampai sekarang malah. Tangisan saya selalu membuat mereka kehilangan rasa kantuk mereka. Ketika saya menginginkan mainan yang dipajang di toko mereka membelikannya dengan mengorbankan keinginan untuk membeli baju baru buat mereka sendiri. Ayah pernah berkata pada saya: setiap orangtua akan melakukan apa saja demi kebahagian dan keinginan anak-anaknya.

Saya pernah ikut membantu teman kantor menjagai ibunya yang sama sekali tidak bisa bergerak akibat jatuh. Kata-kata protes selalu keluar dari sang ibu yang mencela semua hal yang telah dilakukan oleh anak-anak dan suaminya. Dan teman saya pun mengeluhkan kondisi kecerewetan sang ibu ketika kami dalam perjalanan pulang ke apartemen. Teman kantor saya sampai menangis, dia tidak mengerti kenapa sang ibu tidak bisa menghargai pengorbanannya. Bahkan dialah yang menanggung semua biaya perawatan harian sang ibu. Dan itu bukan jumlah yang sedikit, teman. Saya tau karena saya selalu mengikuti perkembangan sang ibu termasuk melirik kuitansi setiapkali teman kantor saya ini mengeluarkan dompet. Perasaan telah melakukan yang terbaik buat sang ibu tercinta membuatnya selalu sedih dan kecewa jika sang ibu tetap saja merespon dengan celaan. Setiapkali mendengar teman kantor saya ini mengeluh tentang ibunya saya langsung teringat sepertinya saya juga pernah kenal seseorang yang selalu mengeluh seperti dia. Siapa ya? Ya ampun saya ingat orang itu adalah saya.

Rasa malu merambat masuk dihati saya. Tidak seharusnya saya bersikap mengeluh pada orangtua saya. Walaubagaimana pun apa yang saya lakukan saat ini tidak akan pernah sebanding dengan apa yang mereka lakukan. Mulai dari menjagai kandungan dimana saya bisa tumbuh dengan sehat. Memastikan kebutuhan nutrisi saya terjamin. Dan ketika saya telah lahirpun. Pengorbanan orangtua saya malah lebih besar lagi. Melakukan semua hal terbaik demi tumbuh kembang saya. Menjamin masa depan saya agar selalu mendapat semua yang terbaik.

Ketika saya sadar dari lamuanan, bidadari kecil ini telah tertidur dengan pulasnya dan lampupun telah nyala kembali. Bidadari kecil yang baru berusia 5 hari ini telah memberikan saya pelajaran berharga. Bahwa merawat dan membuat orangtua selalu tersenyum bangga bukanlah suatu kewajiban tapi itu merupakan suatu kebahagiaan. Bahagia rasanya bila bisa membuat orangtua tercinta selalu bangga memiliki anak seperti saya.

FEBE MENIKAH

Walpap (2613) ‘Gue mau undang lo dateng ke merried gue’.

Waitz? Hey, ini email dari Febe. Tunggu, tunggu, bener dari Febe. Ya ampun dia akan menikah. Menikah?!? Penasaran saya telepon teman baik nan selengekan ini. Satu jam ngobrol seru di telepon terjawablah sudah pertanyaan “Menikah?” saya tadi.

Iya febe sekarang telah menikah tepatnya tanggal 3 Mei kemarin. Dimana? Jakarta. Tepatnya? Pulomas. Gedungnya mbak gedungnya? Oh emang penting ya. Dan resepsi akan dilangsungkan tanggal 10 mei, 2 hari lagi.

Febe adalah teman baik saya. Teman yang teramat baik malah. Kemurahan hatinya telah ‘menyuplai’ beberapa kebutuhan saya sebagai anak kost *Fie, terima kasih ya*. Saya mendapatkan buku-buku bagus darinya, kaset-kaset *woi jadul neh jadul*, dan beberapa barang penunjang masa depan *males deh*. Setiapkali bertemu dengan teman baik satu ini rasanya saya selalu terbawa keceriaannya. Mukanya itu lho tidak pernah sedih. Wajah gembira sedikit cengegesan membuat saya senang bertemu dengannya. Tidak pernah bosan, kangen iya. Tapi jangan salah, kawan, dia ini lulus dengan stempel Cum Laude dari kampus tercinta saya, kami dong. Oke oke kami. Kecerdasan otaknya pernah menggantarkannya menjadi mahasiswa pertukaran eropa. Hebat ya. Tapi ternyata teman baik saya ini punya pilihan sendiri yang jauh lebih hebat. Dan saya justru kagum pada pilihan itu.

Terakhir saya bertemu dengannya dua tahun yang lalu. Dia datang ke asrama tempat saya menginap selama training yang saya ikuti berlangsung. Senangnya minta ampun walaupun baru sekedar janjian di telepon tetap saja saya menginginkan kenyataan segera terjadi. Kok segitu senengnya? Ih, lupa ya itu lho mukanya yang ceria itu yang ingin saya lihat. Trus ketemu? Iya dong dan sumpah saya senang sekali. Ternyata dia datang dengan seseorang. Hah? Ya seorang pria. Saya diperkenalkan padanya. Namanya Hendra. Hendra apa ya? Gak penting deh. Hendra saja toch sudah cukup.

Kita ngobrol seru, awal ketemu dengan Hendra dan akhirnya pacaran pun jadi menu utama perbincangan . Oh ternyata pacarnya. Dan teman baik saya ini ternyata serius menjalin hubungan kali ini. Dari bicang-bincang waktu itu Hendra terlihat santun dan baik. Dari tampangnya pun semua orang pasti setuju dengan saya bahwa dia pria bertangung jawab. Pernah dengar quote seperti ini: bahwa mata dan kemilau wajah mencerminkan kepribadian seseorang. Hendra memenuhi kriteria itu. Dan ternyata teman baik saya telah menjadikannya pelabuhan hati seumur hidup.

Fie, selamat ya sekarang sudah jadi istrinya Hendra. Semoga kebahagiaan dan kedamaian selalu ada diantara pernikahan ini. Saya selalu berharap kamu tetap jadi febe yang selalu tersenyum walaupun persilangan pendapat itu akan kamu temui. Ketika nanti saya berlutut, saya pasti akan selalu menjadikanmu bahan ‘perbincangan’ saya dengan Tuhan. Meminta Tuhan selalu menganugerahi kalian dengan kedewasaan dan kebijakan. Saya percaya kamu akan selalu bahagia karena ketulusan yang telah saya terima selama ini akan di rasakan juga oleh pelabuhan hati kamu, Hendra.

SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU BUAT FEBE & HENDRA

Terima kasih banget Fie untuk semuanya. Kamu tetap selalu menjadi orang penting di hati saya.

HARI INI SAYA MENANGIS

Too Much Feelings Gundah itu masih terus saja ada. Berbagi pikiran yang jauh dari kata fokus. Seperti kehilangan semua detail yang saya harapan. Pikiran saya yang tidak bebas berpikir seakan-kan terbelenggu oleh pikiran dari masa yang seharusnya telah saya lupakan jauh hari sebelum waktu ini. Entah kenapa otak ini terasa bekerja lebih keras dari sebelumnya.

Saya benci dengan keadaan ini, keadaan yang membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa. Keadaan yang memaksa saya melakukan pekerjaan yang bukan SAYA. Saya ingin semua ini berakhir tapi saya juga tidak tahu bagaimana harus memulai yang baru. Saya cemas. Saya gundah. Saya tidak ingin seperti ini.

Jika saya bisa bernegosiasi dengan waktu untuk mengembalikan semua yang telah direnggutnya. Bahkan di waktu yang telah jauh itu saya tidak pernah rela memberinya ruang untuk merenggut apa yang menjadi milik saya. Saya hanya menginginkan dia. Saya menangisi kepergiannya, Tapi itu tidak lantas membuatnya kembali. Saya menginginkannya saat ini. Merindukannya. Tidak ada yang tahu. Hanya saya, waktu & Tuhan. Setidaknya saat ini saya masih menyimpan kenangan tentangnya. Tapi saya pernah berjanji untuk melupakannya. Hmmm lebih tepatnya merelakannya. Tapi setiapkali ketika kegundahan, masalah dan pesilangan jalan yang saya hadapi membuat saya kembali teringat padanya. Membuat saya tersiksa dengan sejuta keinginan untuk bertemu.

GILA. Tiap tahun saya selalu ingat semua kejadian itu di bulan April. Dan saya gak suka. Kenapa ada malapetaka April itu. Saya tidak bisa mengusir itu dari otak ini. 12 tahun ternyata belum mampu membuat kenangan itu pergi. Kenapa masih harus ada airmata di bulan April ini. Saya benci diri saya yang hanya bisa menangis karenanya. Ini masalah kecil yang seharusnya bisa saya selesaikan dengan baik. Tanpa harus menguras airmata lagi jika mengenangnya. Tapi seakan-akan kenangan ini tak pernah mau lepas dari diri saya. Saya telah berusaha, sangat keras. Tetap saja ada airmata di bulan April. Tolong pergi dari hidup saya bawa sekalian kenangan ini karena saya tidak menginginkannya.

12 tahun yang lalu kecelakaan maut jalan tol itu telah merenggut semua kebahagiaan saya. Keceriaan saya. Bahkan keinginan yang tidak pernah terjawab. Beri saya satu alasan kenapa masih harus mengenang semua ini. Saya ingin membuangmu paksa keluar dari alam bawah sadar saya. Saya benar-benar tidak menginginkan kenangan tentang kamu. Tolong, jangan paksa saya untuk melihat terus ke belakang, ke masa 12 tahun silam itu. Saya ingin ‘sembuh’. Saya benar-benar ingin sembuh. Cukup kok, cukup 12 tahun ini saya bersamamu. Lepaskan saja tangan kamu dari hidup saya. Jangan buat saya lelah seumur hidup. Saya punya mimpi-mimpi & cita-cita yang harus saya raih. Dan tanganmu yang mencengkram erat diri saya membuat langkah saya selalu berhenti untuk menangis. Saya sudah capek. Saya punya kehidupan sendiri. Saya lelah untuk menangis karena airmata saya telah cukup saya tumpahkan 12 tahun yang lalu. Jangan pernah ada lebih banyak lagi airmata. Ketika satu saat nanti saya mengingatmu, saya akan mengingat betapa bersyukurnya saya pernah mengenalmu. Memberi ruang khusus untukmu menjadi seseorang yang pernah istimewa buat saya. Saya punya kehidupan yang harus saya teruskan. Saya punya kerinduan, keinginan, kemauan-kemauan yang ingin saya raih tanpa airmata kenangan tentang kamu.

Ada seseorang yang akan menjemput saya, menghadiahi saya dengan cinta & ketulusannya. Dan itu bukan kamu! Waktumu sudah selesai di 12 tahun lalu bersama dengan mimpi-mimpi kita. Bahkan saya sudah tidak mengingatnya sama sekali. Tanyakan pada saya apa mimpi-mimpi kita waktu itu. Saya lupa jawabannya. Kamu, saya bahkan sudah melupakan mimpi tentang kita jadi tolong lepaskan tangan saya biar pengganti dirimu yang akan ganti menggandengnya, menggenggamnya dalam rengkuhan kehangatan yang saya inginkan.

Dia orang yang sangat baik, mengerti, menghargai dan mencintai saya seperti dirimu dulu. Lepaskan saja genggamanmu maka segala sesuatunya akan berjalan kembali normal. Saya tidak pernah menahanmu untuk pergi. Waktu itu jelas ada airmata. Buat saya itu normal. Tapi ketika tanah telah menutup perut bumi saya telah melepaskan genggaman tangan saya di lenganmu. Jadi sekarang waktunya untukmu melepaskan tangan saya. Saya bisa berjalan sendiri meskipun tidak ada lagi satu orangpun di dunia ini. Tenanglah disana. Saya akan baik-baik saja tanpamu. Jangan cemas, saya tidak pantas dicemaskan. Karena saya wanita yang kuat. Saya akan baik-baik saja sekiranya semua manusia didunia ini sekalipun memusuhi saya karena melepaskan kenangan tentangmu. Karena mereka tidak tahu dan tidak perlu tahu betapa tersiksanya saya selama 12 tahun ini. Berusaha untuk bangkit dan berlari meneruskan perjalanan tapi selalu saja kaki saya tak bisa digerakkan. Tanganmu masih ada disana mencengkramnya.

Terima kasih untuk melepaskan tangan saya. Tangisan ini tiba-tiba berhenti. S-e-k-e-t-i-k-a, ketika saya memintamu merelakan saya. Kamu tetap punya tempat yang khusus kok. Secara otomatis tersedia tanpa kamu minta. Semua kenangan itu tidak akan bisa saya pungkiri. Yang saya mau hanya ketika mengenangmu tidak ada lagi ganjalan hati & airmata. Diganti dengan rasa syukur yang tak terhingga karena kehadiranmu yang pernah bukan untuk selamamya ada. Dia yang nanti ganti menggenggam tangan saya adalah orang yang sangat baik. Kamu bisa beristirahat dengan tenang.

Yang pernah kita alami adalah bagian dari kehidupan tapi yang saya alami saat ini adalah keinginan saya. Saya bahagia tanpamu. Bisa tegar tanpamu. Bisa menjadi dewasa juga tanpamu. Saya juga menemukan jatidiri saya tanpamu. Justru 12 tahun silam bersamamu membuat saya sangat kekanak-kanakan dan manja. Saya bisa survive dan baik-baik saja. Kamu hanya bagian indah dari hidup saya bukan yang terindah tapi kamu tetap yang terbaik pertama dari terbaik berikutnya yang sedang ‘menciptakan’ hari-hari yang tak terlupakan.

Dedicated to: Kamu *terima kasih untuk menginspirasi saya* dan semua yang pernah kehilangan orang terdekat namun memilih untuk melanjutkan hidup dengan berani. Berjuanglah karena hidup selalu memihak kesungguhan dan ketegaran.

SAHABAT, KAPAN KETEMU?

 

Walpap (56)

Sumpah deh hari ini saya gembira banget. Sejak baca email dari seorang sahabat yang memang saya harapkan untuk bertemu. Aih… hanya membaca emailnya saja membuat saya seperti orang gila. Senyum-senyum sendiri. Beneran dia adalah seorang sahabat. Sumpah deh. Sudah satu tahun ini saya tidak pernah bertemu dia. HP? Ada dong. Memang kita selalu kok kirim-kiriman sms. Tapi rasanya itu belum cukup untuk membunuh keinginan bertemu saya. Oke deh, saya kangen sekali padanya. Berada didekatnya selalu membuat saya bisa menemukan hal-hal baru. Dia selalu membantu saya melihat apa yang tidak bisa saya lihat sebelumnya. Ya seperti kompas lah. Ketika jalan saya mulai ‘oleng’, dialah orang pertama yang selalu mengingatkan saya. Sayang kami terpisah oleh lautan luas membuat saya harus berpikir ribuan kali untuk mehek-mehek padanya ketika masalah seakan-akan tidak pernah berhenti. Dia sangat mengerti saya. Selalu menyediakan telinganya jadi gosong, bersabar demi saya. Dia selalu ada disaat saya butuh atau tidak butuh pendapat. Iya, dia memang seperti itu. Kebaikan hati, ketulusan jiwa yang selalu dia tunjukkan bukan palsu, bukan juga pura-pura. Dia tulus. Dan selalu tulus.

Saya sangat menghargai kebersamaan kami. Secara jarak yang pisahkan kita adalah ‘sibuk’. Eit, jangan bilang saya asal. Pekerjaan yang ‘capek deh’ banyaknya dan belakangan harus rela –yang sebenarnya gak rela- berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, bahkan negara lain membuat saya merasa persahabatan ini mulai terasa sangat berharga. Saya ingin sekali berjanji padanya untuk bisa meluangkan waktu saya. Sedikit saja pun oke untuk bersama dia. Tapi benar-benar sulit, ehm…. Susah. Ketika dia bertanya jawaban saya itu itu saja sibuk. Maap ini sibuk beneran. Saya punya banyak pekerjaan yang sudah ‘kangen’ ketemu saya setiap harinya. Satu saja terbengkalai maka saya harus siap-siap kerja dua kali lipat lebih keras keesokan harinya. Pekerjaan ini benar-benar menyita waktu saya. Tapi saya tetap ingat kok pada janji saya padanya. Ketika pekerjaan ini lebih ringan saya akan meluangkan waktu bersamanya. Ehmm, bersama blog-nya, maksudnya.

Masa sih?? Apa iya saya sesibuk itu. Padahal di kantor saya punya asisten dan seorang sekretaris yang siap sedia membantu saya. Shuuutttt…. Dia bukan sekretaris pribadi saya tau. Jangan bilang-bilang ya… Saya hanya meminjamnya dari departemen Finance & Accounting. Dari pada dia hanya mengurusi departemen itu saja yang semua pekerjaan saya & asisten saya yang menanganinya. Lebih baik saya karyakan dia. Biar kelihatannya dia repot begitu. Oh Tuhan saya baru sadar betapa liciknya saya selama ini. Maap Sheila.

Saya sendiri bingung apa iya ya saya sesibuk itu sampai mengirim email atau sekedar telepon pun tidak sempat. Kalo saya bilang tidak sibuk kok kesannya saya malah terima gaji ‘buta’ ya.

Waktu itu selalu ada. Tidak pernah berubah. Tapi kemudian saya menyadari prioritas sayalah yang mulai mengalami perubahan. Oke waktunya pengakuan dosa, hiks. Ketika banyak sekali ganjalan dalam otak yang tidak bisa saya ceritakan kepada orang lain -Ya namanya juga rahasia- saya mencari sahabat saya. Eit, jangan salah dia pun begitu. Hmmm terkesan membela diri ya. Ternyata saya yang lebih sering mengganggunya dengan cerita-cerita gak penting saya itu. Gak penting? Bagaimana penting kalo suatu hari saya meneleponnya malam-malam hanya untuk bilang saya tadi berhasil gol-in proyek kantor. Apa coba pentingnya buat dia tahu tentang gol-golan itu. Itu sudah tugas saya. Coba apa jadinya kalau sampai proyek-proyek yang saya pegang tidak pernah menghasilkan keuntungan untuk perusahaan, bagaimana coba? Bantu saya membayangkannya, plis. Nah, ketika ada sedikit waktu saja disela-sela makan siang saya atau perjalanan pulang ke rumah malah saya efektifkan buat –saya jadi malu, bilang gak ya- tidur. Maap, charge energi. Padahal kalau saya bisa lebih meluangkan waktu 30 menit saja buat sahabat saya. Pasti dia akan tersenyum. Pasti dia akan bahagia. Coba katakan manusia mana yang tidak butuh perhatian. Biarpun kecil perhatian tetaplah sebuah penghargaan. Sebagaimana saya senang ketika membaca email sahabat saya. Pastilah diapun akan senang jika saya mengiriminya email dari mencuri-curi waktu saya yang katanya sibuk itu. Kok berasa jadi tidak adil ya. Sahabat yang selalu ada disaat saya butuhkan. Sementara saya belum tentu ada disaat dia membutuhkan. Saya jadi merasa bersalah.

Kamu tau apa yang saya lakukan selesai membaca emailnya. Saya langsung mengirimkan reply. Wah sungguh suatu kemajuan di dunia perkamusan saya. Weitz, perkamusan *Garing.com*. Bener kok. Saya langsung mengirimkannya sebuah balasan. Bercerita malah. Tenyata ketika mata saya tergoda untuk melihat pergelangan tangan kiri saya. Hey, tidak butuh waktu 30 menit untuk melakukannya. Saya hanya memberikan 10 menit untuk itu. Ah, jadi malu padanya. Padahal hanya 10 menit saja. Saya jadi ingat 10 menit itu bisa saya curi dari waktu saya tidur dimobil. Atau menunggu client yang –sering sekale- terlambat. Atau setelah jam makan siang. Iya deh, saya seharusnya bisa. Hanya butuh kemauan berkorban di hal yang lain untuk ‘menjadi’ sahabat.

Saya sudah bilang kan kalau saya langsung me-reply email sahabat saya tadi. Udah kan? Harusnya seperti itu ya… Berpikir bahwa pekerjaan adalah hal terpenting dibandingkan persahabatan adalah salah. Maap, sempat terlintas seperti itu. Tapi sumpah itu dulu. Sekarang? Hey, sekarang sudah tidak lagi dong. Yang benar saja memangnya bersedia kehilangan sahabat.

Ini bagian pentingnya, halo halo ini bagian pentingnya… Apapun saya, bagaimanapun juga saya. Terima kasih sekali telah menghargai persahabatan ini. Kamu, yang jauh disana telah membuat saya merasa paling beruntung di dunia ini karena memiliki kebaikan dan ketulusan hatimu. Saya mau bilang saya sangat bersyukur memilki kamu sebagai sahabat. Saya tidak akan menjadi saya yang sekarang tanpa dukungamu. Doa-doamu yang begitu tulus telah mengetuk pintu kesuksesan saya. Kamu bagian dari saya ‘yang saat ini’. Kamu tahu saya sudah tidak sabar betemu denganmu secepatnya. Saya ingin berada di dekatmu, membuat saya berarti.

Geisye, JJ, Hannah, Louie, Agung, Santy kalian lah itu.

ES KOTENG

Es Koteng

Rasa haus saya hanya akan terbayar dengan minuman ini. Entah apanya yang bisa melegakan tenggorokan. Yang jelas saya rela menunggu malam tiba hanya demi menikmati minuman satu ini. Sayang, siang hari meskipun teriknya minta ampun sangat sulit untuk menemukan es koteng. Emangnya kenapa? stttt, tempat yang dipakai untuk berjualan hanya buka pada malam hari. Trus siangnya di pakai buat apa? kosong! Lha kenapa tidak difungsikan saja, lebih baik toch. Hey, maap ya gak tau tuch. Memang sejak dulu kawasan yang bernama potong lembu itu semarak dengan penjual aneka makanan dan minuman pada saat malam.

Es koteng ini benar-benar menyegarkan tenggorokan saya, apalagi dimusim panas begini. Wah rasanya surga dunia banget dah. Mau mencoba? Silahkan.

UNTUK KAMU

Udah baca judul diatas. Coba deh lihat sekali lagi. Sudah? Iya ini untuk kamu. Saya Cuma mau bilang terima kasih untuk kamu. Selama 16 tahun ini kamu sudah menemani saya. Ehm walaupun selama 12 tahun ini kita sudah kepisah jarak yang cukup jauh. Tapi kamu tetap ada dihati saya. Persahabatan itu tidak akan pernah putus. Kamu tahu khan kalo saya sayang sama kamu. Waitz!! Kok saya jadi malu ya. Jangan gitu dong. Emang sih ini kelihatan bukan saya banget. Tapi manusia berubah loh. Kamu lupa ya bahwa saya pun bisa berubah tentunya kearah yang lebih baik. Buktinya saat ini saya bisa bilang bahwa saya sayang sama kamu. Grrr, kok kamu gak percaya!. Sumpah, ini dari hati saya. Jangan ketawa, pliss deh…

Ini tidak mudah. Kamu tahu itu. Saya terbiasa dengan kamu. Pergi dengan kamu –kemana pun itu- selalu dengan kamu. Kesabaran kamu membuat saya kecanduan sama kamu. Kebaikan kamu membuat saya jadi manja. Uhhh padahal saya gak segitunya di keluarga. Kamu selalu melindungi saya, inget gak kejadian ‘bis dan pencopet’ itu. Saya merasa aman deket kamu, merasa di lindungi. Waktu itu kamu tuh sadar gak sih si pencopet bawa pisau. Man, pisau yang dia pegang bukan silet tau. Itu pisau beneran. Iya pisau yang biasa dipake tentara kalau sedang latihan ‘hidup bertahan di hutan’. Kok tau?? Jelas dong, ayah saya kan dulunya tentara. Pisaunya mirip banget ma si pencopet. Oke dech, cuma beda tipis kok. Tapi kamu kok gak takut ya malah kamu pelototin tuh copet dengan tatapan *berani sentuh dia lo yang bakal almarhum*. Keren, saya tersanjung banget waktu itu bahkan sampai sekarang ding -ada orang yang melindungi saya sampai sebegitunya-,siapa yang gak bangga. Seneng dong pastinya.

Terima kasih ya, walaupun terkesan terlambat.

Terima kasih sudah menyediakan telinga buat saya belajar ‘ngerep’ –Bosen bosen deh mang enak jadi tong sampah saya-.

Terima kasih untuk kebaikan hatimu yang selalu siap bantuin saya sepaket dengan teman-teman.

Terima kasih sudah menerima saya apa adanya –Hare gene yang begini udah langka buanget-.

Terima kasih untuk tatapan mata teduh kamu yang selalu membuat saya yakin saya tidak sendiri menghadapi masalah.

Terima kasih untuk ketulusan kamu melindungi, menjagai saya dari tangan-tangan tidak bertanggungjawab.

Last but not least

Terima kasih untuk cinta kamu *sebagai sahabat*. Saya tidak pernah sadar bahwa kamu begitu berarti dalam hidup saya sampai kita terpisah jauh seperti sekarang.

Hanya kamu yang terbaik buat saya dan semua ini hanya UNTUK KAMU.

Note: This is also for JJ : thanks dear for being my best sister forever.

NAMANYA YUNI

Namanya Yuni, mahasiswi semester sekian *maap saya lupa* di jurusan bahasa inggris STIA di kota saya. Sudah hampir sebulan ini dia bekerja di rumah saya. Tepatnya membantu saya mengurus rumah. Kesibukan dan ehm kemalasan saya membuat pekerjaan rumah sudah tidak bisa terpegang lagi. Badan saya rasanya butuh istirahat lebih banyak *di mall, maksudnya Open-mouthed* saat weekend. Saya butuh refreshing. Lima hari mengurusi ‘dompet’ dan weekend harus ditambah dengan pekerjaan rumah oh no cuapek deh.

Yuni sangat sederhana sekali tapi dia selalu berpakaian rapi padahal dia akan mengerjakan pekerjaan rumah tangga biasa di rumah saya. Selalu begitu sampai hari ini. Gadis yang sangat sederhana ini ternayata sangat rajin dan bersih. Saya menyukai hasil kerjanya. Saya ingin dia tetap bekerja di rumah saya tapi saya tidak pernah menganggapnya sebagai pembantu. Dia tidak sama dengan pembantu pada umumnya. Saya yang membedakannya! Dia seorang mahasiswi yang kebetulan orang tuanya bukanlah orang berada. Tekadnya untuk meneruskan kuliah membuat saya kagum padanya. Dia membuang semua gengsi dan rasa malunya untuk memperbaiki jalan hidupnya. Hari gene orang seperti Yuni sangat jarang. Lebih banyak minta ke orangtua iya. Gaji yang dia terima akan digunakan untuk membayar uang kuliah. Cukup? Iya dong kuliah di STIA tidak semahal Trisakti. Kok tau?? Pasti dong saya pernah tanya pada Yuni. Mendengar berapa uang kuliah yang harus dia bayar setiap semester membuat saya prihatin. Bukan pada nominalnya. Lebih kepada perjuangannya.

Dulu waktu saya kuliah di Jakarta bahkan biaya hidup bulanan yang dikirimkan orangtua saya lebih besar dari uang semesteran Yuni. Itu pun setiap bulan rasanya tetap saja selalu kurang. Saya tidak sadar bahwa uang dengan jumlah segitu akan berarti sekali ditangan orang-orang seperti Yuni. Orang-orang yang selalu menggenggam erat mimpi-mimpinya walaupun keadaan mengkondisikan TIDAK MUNGKIN.

Modalnya hanya mimpi untuk masa depan yang lebih baik. Itu yang saya tangkap setiapkali saya mengajaknya ngobrol. Jangan salah dia tetap bisa bekerja walaupun sambil ngobrol dengan saya. Saya memberikan ‘kelonggaran’ padanya, tidak membebaninya dengan pekerjaan rutinitas. Tidak. Yang paling penting buat saya rumah selalu dalam kondisi bersih. Itu saja. Hal terberat yang harus dilakukan wanita bekerja adalah membersihkan rumah dan segala perabotan. Sekalipun tidak banyak tapi tetap capeknya luar biasa. Dan yang saya inginkan hanya ketika pulang dalam kondisi ‘sekarat fisik’ adalah melihat kerapian dan keindahan di rumah sendiri. Kamu sependapat dengan saya?

Saya belajar banyak darinya bahwa meskipun kondisi menariknya pada keadaan TIDAK MUNGKIN tapi Yuni tetap berusaha semaksimal mungkin dengan tetap memimpikan semua KEMUNGKINAN yang bisa dia lakukan. Optimis, pekerja keras, tidak gengsian. Membuat saya melihat sosok ini perlu di teladani. Usianya jauh dibawah saya tapi semangat bekerjanya melebihi yang saya miliki. Dia mendapatkan gaji yang jauh lebih kecil dari yang saya dapatkan tapi dia tetap melakukan pekerjaannya dengan hati bukan dengan mulut. Mungkin dia telah belajar bahwa bekerja sebaiknya dengan tangan karena itulah tujuan Tuhan menciptakan tangan –bukan dengan mulut-. Tapi seringkali saya justru bekerja dikantor dengan mulut. Sementara tangan malah saya karyakan untuk menuding orang-orang yang -menurut saya- tidak bekerja maksimal. Padahal jika saya duduk 5 menit saja saya pasti mendapatkan jawaban dari bekerjanya mulut saya itu. Bahwa saya sebenarnya tidak lebih maksimal dari pada orang-orang yang saya tudingin itu.

Yuni bekerja dengan tangannya dan mengunci mulutnya. Melakukan pekerjaannya dengan hati. Saya bekerja dengan mulut dan mengkaryakan tangan saya untuk tindakan sangat sangat ‘terpuji’ *menuding orang lain*. Sumpah saya belajar. Belajar dari kehadiran Yuni.

Terima kasih sekali saya telah belajar dari Yuni.

HUJAN ITU

Edan! Hujan lebat disertai angin tak bersahabat sanggup mengintimidasi saya untuk tetap tinggal di ruangan. Saya bingung, cemas. Banyak pekerjaan luar kantor yang tertunda karena intimidasi keparat ini.

Saya pernah mengalami perubahan cuaca yang terjadi tiba-tiba. Waktu itu saya sedang duduk dipinggir laut makan jagung sepulang lembur dikantor dengan programmer software saya dari Jakarta. Tau apa yang terjadi dimalam yang membuat saya trauma itu??

Langit tiba-tiba berubah hitam pekat. Dan saya menyaksikan perubahan alam yang tidak bersahabat. Hanya dalam hitungan detik, angin kencang keparat itu telah ada diantara keindahan laut yang sedang saya nikmati. Perubahan muka saya sangat kentara pastinya. Saya takut. Ditambah lagi dengan kursi-kursi penjual jagung bakar yang berterbangan kesana-sini pasrah dihempaskan angin kencang semakin menambah suasana hati saya jadi semakin kacau. Saya kalut. Saya bahkan tidak berani untuk melangkahkan kaki menuju mobil. Ya iyalah saya takut ikutan terbang terhempas angin kencang. Kursi itu gak masalah terhempas ke trotoar atau jalan aspal itu. Tapi saya?? Ya ampun membayangkannya saja saya takut apalagi benar-benar terhempas ke dalam laut karena dorongan angin.

Saya menatap programmer saya dengan harapan penuh padanya. Dia laki-laki, kawan. Seharusnya lah dia melindugi saya, walaupun dia bukan pacar atau orang istimewa dalam hidup saya. Tapi dia tetap laki-laki yang saya harapan punya keberanian untuk melindungi saya. Ternyata?????? Dia lebih takut dari saya. Percuma saja mengharapkannya.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk melangkahkan kaki ke mobil setelah para penjual jagung memperingatkan saya untuk segera pergi dari sana. Di dalam mobil jantung saya benar-benar tinggal 1 cm dari rongganya, mau lepas, ketika tiba-tiba dengan mata kepala sendiri saya melihat air laut dihempaskan angin ke jalan aspal. Ya ampun padahal ada tembok pembatas antara jalan aspal dan laut. Pembatas itu dibuat bukan asala-asalan, haloooo. Itu telah dirancang khusus untuk mengendalikan laju hempasan air ke jalan aspal. Dan bukan hasil karya arsitek dengan IPK nasakom alias nilai satu koma. Plis deh jangan berpikir kalau arsiteknya bego getho. Tapi tetap saja tembok keras pembatas itu tidak dapat menahan hempasan air yang telah mulai tumpah ke jalan aspal. Iya jalan aspal itu jalan raya dimana kendaraan biasa lalu lalang. Dan itu adalah jalan protokol yang di sebelah sananya adalah komplek pemerintahan, berdiri dengan megahnya bangunan dan rumah dinas gubernur. Menyaksikan pemandangan tidak sedap di depan mata itu membuat nyali saya ikut-ikuan ciut.

Ya, walaupun saya tidak sampai berpikir bahwa akan ada tsunami. Saya percaya! Letak geografis kota ini tidak memungkinkan serangan tsunami. Pede banget ya. Tapi memang benar, kota ini walaupun dikelilingi laut tapi tidak berpotensi terserang badai besar atau mengamuknya air laut. Karena kota ini terletak di sebelah tenggara pulau sumatera. Tapi tetap saja saya takut dan cemas. Berlebihan malah. Ketika keberanian mulai mengalahkan logika ketakutan saya tiba-tiba bisa terkalahkan. Saya berlari kearah mobil terparkir & masuk. Saya mengendari mobil sekencang-kencangnya. Yang saya pikirkan Cuma menyelamatkan diri sendiri dan hmm, tentu saja laki-laki disebelah saya ini. Gilingan padi, ternyata dia telah menggigil ketakutan di jok sebelah saya.

Oh Tuhan maafkan hambamu ini yang tidak bisa melihat dengan jelas sebenarnya berjenis kelamin apa manusia disebelah hamba ini. Saya antar dia ke hotel dan saya langsung menyetir dengan hati-hati. Man, hati-hati tidak berarti lambat. Ngebut sambil memperhatikan sekeliling saya, sapa tau ada batang pohon segede bagong jatuh di lintasan jalan saya atau tragisnya malah menimpa mobil yang saya kendarai. Bisa langsung ketemu rumah sakit saya. Sampai dirumah angin sudah semakin kencang dan awan diatas sana sudah semakin pekat. Ketakutan saya semakin menjadi-jadi waktu saya merasakan hembusan angin yang semakin kencang. Saat itu lah saya melihat beberapa benda terpelanting kearah saya. Dan membuat saya tidak berani untuk bergerak. Ketakutan itu muncul lagi, seakan-akan mengejar saya. Saya ingin menangis. Hey, saya perempuan, pantas toch kalau menangis. Tiba-tiba entah kekuatan dari mana yang membuat saya sadar bahwa tetap berdiri mematung disitu bisa berakibat fatal.

Akhirnya saya tutup pagar rumah dan bergegas masuk. Dari dalam rumah saya mendengar suara angin yang menakutkan tapi perasaan saya sudah tidak setakut ketika masih berada di luar rumah. Saya naik ke tingkat atas rumah saya, menuju kamar saya, berjalan kearah jendela dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Jantung saya hampir berhenti seketika. Semua benda yang ada diteras luar kamar saya telah berterbangan ke udara. Seperti ada pesulap sedang mentas disana. Beberapa barang ringan berputar-putar di udara. Pohon-pohon doyong kekiri seakan-akan dahan-dahannya akan menyentuh tanah. Saya takut, kalut, galau dan mulai terserang panik berlebihan. Tapi saya tetap berdiri didepan jendela kamar yang tertutup. Ya iya lah hanya orang sinting yang akan membuka jendela saat angin kencang seperti itu. Saya berdiri disana sampai angin mulai reda. Dan segala sesuatu kembali normal. Pekatnya awan sudah mulai tergantikan dengan suasana malam yang tenang, seperti biasanya. Terucap kalimat syukur dari bibir saya. Sambil terus memadang akibat kekacauan diluar sana.

Sejak itu saya trauma hujan yang disertai angin kencang seperti yang terjadi beberapa minggu ini. Setiap kali itu terjadi hati saya langsung ciut. Saya tidak nyaman mendengar suara angin bergemuruh. Seakan-akan angin ingin menelan semua yang ada di depan saya seperti siang kemarin. Hujan yang disertai angin dan petir yang bunyinya sanggup mengintimidasi saya dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Rasanya ingin lari bersembunyi di ruang bawah tanah yang digali 20 km kedalamannya agar tidak perlu mendengar suara angin keparat itu.

Sumpah saya takut sekali. Karena perasaan aneh yang membakar habis keberanian saya selalu muncul saat itu, saat sepeti kemarin itu. Kejadian ini semakin sering terjadi belakangan ini, hanya sebentar tapi cukup membuat saya berpikir ribuan kali untuk keluar ruangan kantor setelahnya. Walaupun hujan telah reda, petir telah hilang sama sekali dan angin telah bersahabat kembali. Bahkan alam telah berdamai dengan keadaan tapi saya tetap takut.

Grrrr…. Kenapa sih harus merasa takut. Bikin susah saja. Kenapa pula harus trauma hanya karena angin kencang. Bikin pusing saja. Tapi itulah, saya tidak bisa menghindar. Seberani-beraninya saya dikenal dikalangan teman-teman, saya tetaplah manusia yang bisa merasa takut. Bukan takut mati. Itu sudah ada yang mengatur. Saya takut angin memutar-mutar tubuh saya pada pusarannya dan menghempaskan saya kedalam laut. Saya gak bisa berenang, tau, dan itu pasti menyakitkan.

Arhhh….. Saya Cuma bisa beharap alam dan cuaca akan lebih bersahabt hari ini dan seterusnya. Saya merindukan musim panas. Walaupun panasnya menyengat sekali biarkan saja. Saya suka musim dimana angin tidak punya hak mengintimidasi saya. Biar saja badan saya penuh dengan keringat. Yang penting saya tak perlu merasa tak nyaman dengan alam. Saya sangat merindukan musim panas.