09 September 2012

M.E.N.E.R.I.M.A

Footprint

 

Sekarang lebih baik dari sebelumnya. Lebih tenang, lebih bisa menerima, lebih berjalan diatas kenyataan bahwa saya tidak perlu lagi mencemaskan beberapa hal itu. Hal-hal yang menyita hampir separuh isi kepala ini dan memonopoli semua kekhawatiran yang saya miliki. Menerima memang kata ajaib yang sulit untuk dijelaskan kekuatannya. Seberapa jauh pun manusia berlari, bersembunyi bahkan sampai keujung dunia sekali pun, hanya menghasilkan kesia-siaan. Menghindar, menghilang hanya demi menyembunyikan diri bukanlah jawaban yang tepat. Ya, walaupun bersosialisasi pun bukan merupakan solusi terbaik. Paling tidak buat saya. Menerima adalah satu-satunya pintu masuk dan keluar yang paling selamat. Well, menyelamatkan hati dan pikiran saya dari ketidakwarasan. Walaupun kadang masih harus menangis dan berteriak, semua itu sekarang hanya demi kelegaan. Saya berani bertaruh ketika harus kembali kesana tidak akan sesulit sebelumnya. Tidak akan perlu melakukan persiapan.

Saat ini saya sudah siap. Siap untuk melihatmu lagi tentunya dengan cara yang berbeda. Siap menemukanmu dalam, mungkin, 'penampakan' yang berbeda. Ya 'penampakan' yang berbeda kata yang okelah lumayan tepat. Saya menyadari satu hal, rasa yang ada untukmu. Tertinggal terus disana. Tidak pernah bisa pergi sampai kapanpun. Ternyata ada satu ruang yang tidak akan pernah terbuka lagi. Sekeras apapun saya berusaha mendobrak pintu itu. Tetap saja ruang itu ada disana. Saya lupa meminta kembali satu-satunya kunci yang pernah saya titipkan padamu. Sampai saya menyadari bahwa ruang itu tidak akan pernah tergantikan oleh yang lain...nya. Jadi bukankah lebih baik menerima saja, sehingga saya bisa berhenti dari semua pelarian dan penyangkalan ini. Rasanya itulah yang seharusnya.... M.e.n.e.r.i.m.a. Semua akan baik-baik saja setelah ini.

This is the hour of lead remembered if outlived, as freezing persons recollect the snow--First chill, then stupor, then the letting go. ( By Emily Dickinson)

Picture taken from: http://www.publicdomainpictures.net

SEBAL ITU MASIH ADA

images Sedih, marah, kecewa, itu yang saya rasakan. Dia tidak perlu bersikap pura-pura hanya untuk menjaga perasaan saya. Mungkin dia lupa bahwa saya orang dewasa yang mampu mengatasi penolakan. Saya mampu menanggulangi penolakan lebih dari pada apa yang mampu dia bayangkan. Mungkin betul sikap yang saya tunjukkan selama ini yang akhirnya mempersempit sudut pandangnya. Dan itu membuat saya ingin berteriak menghardiknya, menyuarakan teriakan protes bahwa 'saya bukan anak kecil, jadi berhentilah bersikap seperti malaikat yang berusaha melindungi perasaan saya setiap waktu'. Tapi saya tidak melakukannya. Saya memilih untuk diam disana, melawan semua perasaan protes. Terus berusaha membungkam rasa marah yang benar-benar mendesak keluar. Saya tidak ingin mengejutkan yang lainnya dengan alih-alih mengamuk disana. Hanya memperburuk keadaan. Dan saya tidak mau hal itu terjadi. Diam lebih baik daripada dianggap gila oleh orang-orang disekitar saya.

Tanpa saya sadari, pengalihan topik pembicaraan adalah pilihan yang tepat saat ini. Dan saya bersyukur untuk memilih dengan tepat. Tapi itu ternyata tidak membuat perasaan saya lebih baik, bahkan berhari-hari setelah kejadian itu. Hah! Saya pengen hilang ditelan bumi saat ini.... Berharap terjadi gempa bumi lokal yang mampu menyedot tubuh saya dan melemparkannya di kerak bumi terbawah. Aaaarrrgghh, sebel.

08 July 2012

HADIAH UNTUKMU


Selamat ulang tahun.
Hari ini usiamu bertambah satu tahun lagi. Namun waktu telah berhenti di duniamu. Disana batasan itu sudah tidak berlaku. Tidak ada sekat, tidak ada celah, semuanya abadi. Saya sedang membayangkan meriahnya perayaan ulang tahunmu, disana. Lilin, kue, lampu- lampu indah, bahkan senandung ulang tahun pasti terasa berbeda. Lebih bekesan, lebih berwarna. Ceritakan pada saya berapa banyak bingkisan dan ucapan yang kamu terima. Pasti banyak. Bahkan teman-temanmu tak sabar menunggu hari istimewa ini, saya membayangkan hal itu. Menyenangkan bukan. Ada tawamu. Ada bahagiamu. Pasti. Itu pasti.

Dulu, saya tidak pernah sempat merayakan ulang tahunmu. Entahlah. Saya tidak tahu kenapa. Seakan tanpa alasan. Seperti katamu, tidak perlu selalu ada alasan atas semua hal yang terjadi. Selalu saja hari itu terlewati dengan sendirinya. Bahkan saya berusaha memotong bagian itu dari film memori tentang kamu. Ketika saya kembali menyatukannya, potongan film itu sudah terlalu lapuk dan berdebu. Saya tidak bisa melihatnya dengan jelas. Lelah saya terus mencoba mengingatnya, namun tidak berhasil. Potongan film itu sudah terlalu rusak untuk kembali ke memori saya. Maaf, hanya itu yang bisa saya katakan. 

Malam sebelum ulang tahunmu, kamu ada disana. Menatap dan tersenyum. Tidak ada kata-kata. Senyummu jelas merefleksikan kebahagian. Senyum itu, rasanya sudah lebih dari cukup mengatakan kedamaianmu. Kamu ingin tahu, ya, saya bahagia melihat semua itu. Pergi begitu saja, tidak meninggalkan pesan apapun. Tidak memberikan kepastian. Dan sekarang datang sesekali dalam diam, hanya tersenyum. Entahlah. Beberapa waktu ini kamu selalu berada disana. Menatapmu tenyata mampu membuang semua kegelisahan dan perasaan tidak nyaman saya. Coba lihat, setelah begitu lama sekalipun kamu masih menjadi yang terbaik.

Saya nyaman dengan kehadiranmu. Seakan semua beban dalam diri ini terlepas. Lelah yang telah lama saya rasakan, menyesakkan dada perlahan terangkat. Tergantikan dengan ketenangan. Kemana pun saya berlari, saya tahu saya tidak bisa lepas dari semua ini. Kehilangan, hal yang paling saya takuti saat ini. Saya pernah mencoba, tapi gagal. Saya takut kehilangan lagi. Saya tidak ingin kembali ke masa itu. Tidak ada perasaan sakit memang. Yang ada justru hampa. Yang ada justru lepas kendali. Tidak ada tuntunan. Kamu sadar betapa berartinya kamu dalam hidup saya.

Sudah terlalu lama saya memaksa diri sendiri untuk menguburmu di kedalaman hidup saya. Berusaha keras menekannya untuk tidak muncul sewaktu-waktu. Menyumpalnya dengan berbagai cerita baru yang lebih menarik. Ketika mulai terkoyak sedikit saja, cepat-cepat saya menambalnya dengan cerita yang paling tebal. Namun tetap saja. Selalu ada jalan. Selalu ada cara. Pada waktunya semua yang tersembunyi itu akan muncul. Betapa keras pun usaha saya menyembunyikannya. Suatu saat tetap akan muncul. Hanya soal waktu. Dan tentunya saat yang tepat itu sekarang. Di hari ulang tahunmu.

Sebuah buku pernah berkata pada saya. Munculkan saja. Biasakan hidup dengan semua itu. Sebab dia punya tempat sendiri di hidupmu selama bertahun-tahun. Buku itu menyarankan saya untuk berdamai dengan rasa itu. Berteman dengan kehilangan itu. Bersahabat dengan kenangan tentang kamu. Sampai akhirnya nanti saya terbiasa dan ketika berhenti sejenak, menengok ke belakang sekali lagi, saya telah mampu berjalan cukup jauh dengan kamu tanpa rasa kehilangan. Saya ingin sekali mencobanya. Saya akan mencobanya. Memulai dari titik manapun. Dan mengakhiri di titik terjauh yang saya mampu.

Selamat ulang tahun...
Ini hadiah ulang tahun untukmu yang tidak pernah sempat mengenal facebook dan twitter.

(Foto diambil dari sini: http://www.fotosearch.com)


08 June 2012

TENTANG KITA

Kehilangan itu sesuatu yang tidak menyenangkan. Ada perasaan bersalah, sedih, menyesal dan sedikit penghianatan. Awalnya saya tidak merasa kehilangannya. Namun hari ini kesadaraan itu tiba-tiba muncul " dia sudah pergi". Rasanya sulit mencegah air mata jatuh dan sebongkah hati yang kecewa selalu menuntut penjelasan versi saya.

Pilihan, balik lagi kesana. Dia memilih pergi, memilih jalan hidupnya dan bahagia disana. Saya tidak diijinkan lagi untuk masuk dan mengobrak-abrik pendiriannya. Sekarang hanya berteman biasa, tidak ada kata belahan jiwa lagi. Hanya teman. Kedengarannya kok sadis sekali ya. Menyerah! Saya menyerah. Maaf tidak bisa berbuat apa-apa.

Sore itu, seseorang menanyakan kabarnya. Dan saya menggeleng sedih. Menyadari bahwa tidak ada jawaban yang keluar dari mulut saya. Benar-benar menyedihkan. Sudah sampai setidaktahu begitu saya masih saja tetap membelanya. Menyederhanakan kata-kata tudingan padanya dengan serentetan kalimat yang diawali dengan "mungkin saja".

Sudah terlalu jauh dia melangkah, sulit rasanya untuk memanggilnya kembali. Dia telah terbiasa dengan hidup yang sekarang. Dia telah terbiasa dengan jalan pikiran yang sekarang. Dia telah terbiasa dengan dunia yang sekarang. Tidak mudah, bahkan sekalipun saya berteriak memanggilnya untuk kembali, suara saya hanya tertelan oleh jarak.

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, karena dulu impian dan masa depan begitu nyata. Semua ketidakpastian dan kemustahilan, jadi cambuk untuk diwujudkan. Ketika banyak mata menyipit, bibir mencibir dan kepala menggeleng justru itu menjadi sarana ajaib pengumpul tekad, membuktikan bahwa mereka salah dan kita cukup mampu membuktikannya.

Well, this is it! Inilah kehidupan. Nyata! Tidak bisa ditebak, naik-turun-menukik-mendaki, tidak ada yang tahu. Sadar atau tidak, jarak dan waktu berperan penting akan rasa itu. Rasa yang ada sekarang hanya sebuah kamuflase dari kehilangan dan ketidaknyaman yang telah ada sejak lama. Kita saja yang mengingkarinya, selalu.

Siapa sangka ternyata sekarang kita berbeda. Menjalani kehidupan yang sama dengan cara berbeda. Menjalani kehidupan yang sama dengan jalan berbeda. Menjalani kehidupan yang sama dengan pandangan yang berbeda. Menjalani kehidupan yang sama dengan rasa yang berbeda. Dan Inilah kita yang sekarang. Kita yang telah meninggalkan begitu banyak cerita "tentang kita".

Rasanya ini waktu yang tepat, memberanikan diri, mengucapkan selamat berpisah. Ini harus! Setelah ini kita bisa meneruskan perjalanan yang telah kita mulai dari titik kita berpisah.

06 June 2012

KARENA HIDUP ITU PILIHAN

Bersyukurlah....
Drama hidup diatur oleh seorang Sutradara yang tidak pernah tertidur. Sutradara yang tidak pernah kehabisan ide kreatif. Sutradara yang selalu mampu mengembangkan jalan cerita sekali pun kelihatan jelas jalan buntu di depan sana.

Bersyukurlah....
Hidup itu tidak selalu berjalan di atas rel yang benar, sesekali tergelincir itu biasa. Sesekali merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat itu perlu. Sesekali memilih berjalan diatas jalan yang penuh bebatuan, bergoyang ke kanan dan ke kiri bahkan tergoncang ada baiknya.

Bersyukurlah....
Peran yang kita mainkan tidak selalu sama dalam setiap episodenya itu pasti. Dunia yang kita hidupi tidak selalu berwarna putih sesekali berwarna hitam atau abu-abu itu harus. Alam saja memberikan sejuta warna-warni agar semua kelihatan lebih indah dan tidak monoton.

Bersyukurlah.... Ketika masih memberikan ruang pada hati nurani untuk bersuara, itu telah menjadi kelangkaan saat ini. Ketika memilih menghentikan langkah dalam perjalanan yang bahkan belum sampai sepertiga tujuan. Ketika merasa tidak nyaman dengan ketidakadilan, keterpurukan yang sedang dipertontonkan.

Bersyukurlah.... Memilih tetap berada dalam sebuah kotak besar yang belum tentu disukai banyak orang. Satu persatu menghilang. Rasanya bukan untuk menyerah. Lebih kepada penemuan mereka telah berakhir di satu titik dan rasa. Tidak perlu memberi penilaian. Biarkan saja, itu toh hak asasi. Hidup itu pilihan, kata orang bijak. Kotak manapun yang kita pilih, buka saja! Kita akan menemukan apa yang terbaik. Jangan pernah ragu. Bersyukurlah!

05 JUNI

Hari ini....
Ada begitu banyak cinta yang datang.
Ada begitu banyak ungkapan yang teruntai indah menghadirkan sebuah makna.
Ada begitu banyak ketulusan pertemanan, persahabatan dan
Ada begitu banyak keindahan yang terangkai cantik.
Ada begitu banyak nyanyian menyenandungkan bait demi bait menenangkan jiwa.
Ada begitu banyak ucapan 'selamat ulang tahun' yang terdengar tidak seperti tahun-tahun sebelumya.

TERIMA KASIH TEMAN....
Hari ini telah menjadi hari terindah dalam hidup saya, dengan keberadaan kalian semua. Terima kasih telah memberikan kata-kata dan doa terbaik untuk masa depan saya. Tuhan selalu menghadirkan kebahagian, menjaga hidup dan masa depan kalian, memberikan kesuksesan yang tak akan pernah putus dan melimpahi hidup kalian dengan berkat yang berlimpah.

TERIMA KASIH ini Rasanya tidak akan pernah cukup.

05 September 2010

PENGECUT KAU!!!

Pengecut, kau pikir melarikan diri ke tengah hutan belantara, ujung samudera, desa primitif, ujung dunia tempat paling aman untuk bunuh diri. Tak perlu sejauh itu. Kau tahu, dirumahku banyak pisau yang bisa kau gunakan jika ingin bunuh diri. Dunia akan menertawakan kebodohanmu. Menganggapmu bodoh. Maka semakin bodohlah kau.

Kau pikir apa tujuan masalah ada dalam hidup manusia. Hey, aku bilang manusia bukan. Baca, m-a-n-u-s-i-a, jadi bukan kau seorang. Semua manusia punya masalah. Kau bukan satu-satunya di dunia ini. Jadi jangan bertingkah aneh. Masalah itu hal biasa temen. Tapi kenapa kau mendramatisirnya menjadi hal besar. Seakan-akan dunia berhenti tanpa dia.

Aarrrrrhhhh, kau gila. Kau gila! Bahkan orang lain pernah merasakan yang lebih dari lukamu. Kau hanya kehilangan seorang. Menangis, aku maklumi itu. Tapi jika ‘berdarah-darah’ seperti ini? Kau pikir pantas atau tidak? Jawab aku! Hidup itu hanya satu kali dan kau sepengecut itu untuk bangkit lagi dari keterpurukan yang katamu sangat dalam. Bah, sampai disini aku tidak mengenalmu lagi.

Benar, kau sudah berubah hanya karena satu masalah. Aku mengerti perasaanmu. Aku tahu rasanya seperti apa. Aku pernah ada disana. Jadi tarik kata-kata putus asamu itu hanya demi melegalkan sikap cengengmu. Kau pikir hidup yang kujalani semulus jalan tol dari rumah ke kantormu. Kau pikir hidupku selalu sebahagia saat ini.

Aku tidak ingin menceramahimu. Hidup akan terasa indah jika kau bisa  bangit dari keterpurukan yang dalam *katamu*. Menghilang dari orang-orang yang kau cintai. Bersembunyi dari orang yang melukaimu. Hebat! Sudah puas kau. Sudah sembuh lukamu. Apa yang bisa kau dapatkan dari cengengmu itu. Bukankah hanya airmata yang semakin banyak.

Kalau begitu caramu melupakan dia. Jika begitu caramu menyembuhkan luka itu. Ya sudah, menangislah lebih sering. Semoga saja suatu saat Tuhan menjawab doaku untuk menguras airmatamu itu. Biar kau tidak perlu menangis lagi seumur hidupmu. Ada aku, ada orang-orang yang mencintaimu, merindukanmu, tapi kenapa matamu hanya melihat satu titik saja. Dia dan dia.

Ketika dia meninggalkanmu, dia meninggalkan luka disatu hati saja. Tapi ketika kau meninggalkan kami, kau meninggalkan luka dibanyak hati. Bangkitlah, jangan demi aku, jangan pula demi kami. Bangkitlah demi dirimu sendiri. Habis sudah kata-kataku membujukmu. Sekali ini aku ingin memarahimu, memakimu dan menjulukimu pengecut.

Buat kau dimanapun berada. Aku ingin kau kembali menjadi dirimu sendiri. Maaf, bukan dirimu yang sekarang. Aku ingin kau yang dulu. Agar aku punya teman berantem lagi. Aku merindukan kau.

22 August 2010

KLIK = INDAH

Tuhan menganugerahi kota ini dengan keindahan luar biasa. Pantai dengan hamparan pasir putih, gulungan ombak yang bersahabat dengan bibir pantai dibingkai oleh langit biru, kadang jika sore bias keemasaan dapat terlihat teman. Hampir semua pantai yang ada dikota ini dijadikan obyek wisata. Dengan batu-batu alami yang ada entah sejak kapan.

Agak ketengah sedikit terlihat betapa indah pemandangan didepan mata walaupun hanya hamparan pulau-pulau. Jangan dikira tak berpenghuni. Sejak lama banyak resort dibangun disana, hanya untuk kalangan tertentu. Para turis dimanjakan dengan fasilitas kelas dunia harga lokal. Pastilah mereka senang duduk berlama-lama bahkan ditepian laut sekalipun.

Tanjungpinang, Kota Gurindam dua belas, tepi laut, gong-gong, jagung bakar, bakso, siomay, sate ayam, mie ayam tak lupa ditemani secangkir kopi yang diseruput pelan-pelan seiring dengan terbenamnya matahari sore. What a wonderful day, by day. Life is never end. Terasa ada magnet yang menarik saya untuk selalu merindukannya.

06072010719 Tepi laut sore hari

06072010723 Bias sunset

01062010432 Senja biru

01062010433 Matahari

05062010439  Pasir putih

ANEH TAPI ADA

Awalnya gak ngeh kalau ada sesuatu yang aneh dengan pohon ini. Kelapa kan biasanya berbentuk bulat tapi yang satu ini bentuknya lonjong. Aneh, secara saya baru pertama kali ketemu buah kelapa berbentuk lonjong begini. Sebelum dimusnahkan alias ditebang saya photo dulu ah mana tahu bisa masuk muri *ngareppppp mode on*.

19082010828 

19082010829     

19082010827

Lokasi: Airport Raja Ali Fisabillilah Tanjungpinang

19 August 2010

PILIHAN

youCN_4333 Dulu saya berteman akrab dengannya. Polos, lugu, manja bahkan terkesan naif. Banyak hal yang membuatnya bengong bego karena ketidakmengertiannya. Saya pernah nungging-nungging pengen jedotin jidat dilantai *hiprbola deh* sangking terlalu polosnya dia.

Banyak pria yang sukses nempel kayak prangko dan dia hanya menjadikan mereka semua kakak, abang, mas, bung, uda terserah bagaimana mengistilahkannya. Semua anggota keluarga sangat memanjakannya, seringkali dengan cara yang berlebihan. Dibandingkan dengan saudara-saudaranya dia yang paling lebih. Lebih segalanya terutama dalam hal fisik.

Entah apa atau siapa yang membuatnya berubah. Saya bilang berubah bukan? Ya BERUBAH dari manusia jadi ‘manusia’. Bentar, bentar…. ‘manusia’. Ya manusia dengan tanda kutip *kali ini pake p bukan f*. Entah apa yang menyebabkan perubahan itu. Berubah selalu ada sebab bukan. Selalu ada alasan pendukung. Dan saya ingin sekali tahu alasan itu.

Tanya saja padanya? Gak Mungkin! Atau culik saja dia, sekap dalam sebuah kamar pada rumah kosong tak berpenghuni di tengah hutan dan interogasi dia jika masih diam. Hiperbola lagi deh. Gak mungkin teman! Tidak semudah itu. So, yang bisa saya lakukan adalah berasumsi. Saya kira dia begini dan begitu. Mungkin dulu dia pernah begitu dan begini. Atau Saya rasa sih si anu telah melakukan ini dan itu padanya.

Sejak SMU dia telah mengambil keputusan yang sangat berat untuk anak seusianya. Menjadi wanita penggoda. Mengoda suami orang. “Jika anda tergoda om saya akan memberikan’nya’ dan om wajib menafkahi saya”. Do you think that this is simple life? Do you think that this is easy? Anak SMU, usia belasan tahun mengambil keputusan untuk hidup dinafkahi om-om tanpa imbalan. Come on, bullshit, right.

Tapi toh memang itu pilihan hidupnya. Sampai sekarang. Mengaku sebagai pebisnis yang sering keluar negeri, dia melakoni ‘drama’ dan menciptakan sejuta kebohongan lain pendukung yang sebelumnya. Saya tidak ingin nyela. Sudah banyak celaan yang dia dengar. Semua orang menudingnya. Semua orang yang mengenal keluarga ini bahkan ikutan menjadi hakim atas orangtuanya. Jelas, nama baik itu sudah tidak terjaga lagi.

Coba tanyakan padanya mungkin dia pun sudah tidak perduli. Kenyataan didepan matanya lebih penting dari nama baik. Hidup harus terus berjalan bukan. Abang no 1, istrinya dan anak-anak mereka, kakak no 2, abang no 3, kakak no 4, orangtua yang sudah lanjut usia dan sakit-sakitan menggantungkan hidup padanya. Ditambah dengan seorang anak perempuan ABG dan anak laki-laki usia 5 tahun yang lahir dari rahimnya wajib dia pelihara bukan. Pikirkan teman!

Saat ini usianya tidak lagi muda. Terlihat jelas dengan make up tebal diwajah, dia berusaha keras menutupi semua itu. Persaingan teman. Diluar sana persaingan sangat ketat. Yang lebih muda, lebih cantik dan lebih segar, lebih segalanya, banyak. Namun hidup tidak akan berhenti karena semua itu kan. Bebannya tetap sama bahkan semakin berat saja.

Dan dia mengambil keputusan yang “lainnya”, beberapa waktu lalu. Pergi kesuatu ‘tempat’, menceritakan keinginannya, mendapatkan sesuatu dan pulang dengan senyum. Senyum itu ‘kematian’ bagi beberapa orang. Drama hidupnya tidak lagi sesederhana dulu. ‘Tempat’ itu menjanjikan sesuatu, kenyamanan dan keamanan baginya. Dan itu membuatnya semakin liar, tak terkendali. Bahkan pencipta jagat raya ini ditantang olehnya.

Apa yang dilakukannya salah?

Tergantung dari sisi mana menilainya teman. Saya hanya ingin melihatnya dari sisi yang lain, sisi yang berbeda. Saya tidak ingin menghakiminya. Saya hanya ingin melihat dari sudut pandang yang berbeda dari kebiasaan. Setiap orang punya prinsip hidup sendiri, dia pun. Setiap orang punya keyakinan sendiri, dia pun. Dan setiap orang punya cara hidup sendiri, dia pun…sama.

Setiap pilihan tentu ada konsekuensinya. Ada harga yang harus dibayar. Buat saya, yang terpenting dari semua itu adalah seberapa berguna harga yang kita bayar untuk sebuah pilihan. Dan seberapa pantas pilihan itu membuat kita berguna. Hidup hanya satu kali kan, membuatnya berguna rasanya itu tidak sulit.

Gambar dari: http://www.morguefile.com