25 September 2013

BAHAGIA ADALAH KELUARGA

Ahhhh mantap pasangan serasi malam ini adalah iPad yang bersanding dengan kopi susu. Sempurna. Menulis ditemani si cokelat ini memang luar biasa. Mari kita mulai.

Didepan saya saat ini ada satu pemandangan yang sangat menyenangkan. Ayah, ibu dan anak ABG mereka yang sedang menikmati waktu makan malam sambil ngobrol santai. Terlihat sekali keberhasilan si ayah yang membangun hubungan yang cukup baik dengan keluarganya. Sang anak terlihat sangat nyaman, begitu banyak cerita meluncur dari bibirnya. Sementara si ibu mendengarkan ocehan sang anak dengan tersenyum dan sesekali menimpali memberikan respon. Pemandangan yang luar biasa. 

Kebahagiaan itu sederhana sekali. Saat kita bisa menikmati waktu yang berkualitas dengan keluarga, saat kita bisa ngobrol santai dan membangun komunikasi terbuka tanpa sekat dengan anak-anak, saat kita bisa membangun atmosfir yang nyaman sehingga anak-anak merasa nyaman untuk berbagi cerita dengan orangtuanya. Saat sang istri mendapatkan perhatian lebih dari suaminya dengan hal-hal sederhana seperti mengelap makanan yang tertinggal di sudut mulutnya. Saat sang istri memandang penuh kagum ke mata suaminya ketika si suami sedang meresponi cerita si anak. Well, ini saya sebut dengan bahagia. 

Bahagia tidak melulu masalah uang. Bahagia tidak selalu masalah harta. Bahagia itu tidak harus sesuatu yang mewah. Bahagia itu adalah ketika kita bisa menjadikan keluarga kita sebagai fokus utama dari perjalanan kebahagiaan itu sendiri. Hari ini ketika saya duduk di lantai satu outlet. Saya menemukan bentuk lain dari kebahagiaan. Terima kasih semesta, pembelajaraan hari ini menjadi pengalaman sangat berharga.

24 September 2013

THE OTHER SIGHT

What will happen when we're in our negative thought? You know exactly the answer right. Then why are you still round and round on it. Buddy, if you can create tornado from thinking negative, why don't you turn the negative be a positive one. You, yes you, yeah you.... if you're always blame people of what was wrong in your life, you're the one who never learn from anything. Make mistakes is normal as long as you know how to turn it into right. Sometimes, the right coming after we falling down into tons of mistakes. We only live once, but if you work it right, once is enough.

As for me, life isn't meant to be easy, it's meant to be lived. Sometimes happy, other days rough. I believe a thing that with every up and down we could learn 'something' special, something that we can archive ourself better, something that we can see ourself on the right sight, something that we can accepted ourself different and we learn a lesson that make us strong. 

22 September 2013

MY TWILIGHT MOMENT

Sore ini menikmati secangkir kopi hitam dikombinasikan dengan lemon squash & ditemani sebungkus emping sambil menikmati sebentuk anak anjing diawan yang sedang menengadah ke langit, what a wonderful twilight. Bahagia itu seringkali bisa didapatkan dari kesederhanaan seperti saat ini. Saat saya menikmati pergantian sore dengan duduk-duduk dilantai 1 outlet. Sempurna sekali. Ditengah seabrek aktivitas harian, hari ini saya sengaja melepaskan semua embel-embel pekerjaan demi istirahat sejenak. Tidur lebih lama, istirahat lebih banyak dan makan lebih sehat.

Hal sederhana yang justru hilang empat bulan belakangan ini. Tanpa disadari ketika hari ini bisa menikmatinya lagi, justru menjadi moment berharga untuk dilewatkan begitu saja. Terima kasih Tuhan, terima kasih semesta, moment sore ini semoga menjadi titik balik untuk hari-hari kedepan.

ANUGERAH TERINDAH


Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, saya tahu itu. Namun ini juga tidak sesulit menemukan jarum dalam tumpukan jerami. Buat saya sederhana saja, hidup yang kita jalani saat ini, pekerjaan yang kita miliki hari ini dan keputusan-keputusan yang sudah kita pilih. Semuanya itu akan bermuara pada konsekuensi. Hidup adalah perjuangan, itu betul. Tapi hidup juga merupakan anugerah terindah dari surga. Mengisinya dengan selalu bersyukur akan lebih baik bukan daripada setiap hari mengeluh. Hidup akan terus bergerak walaupun qta memutuskan untuk berhenti. Hidup akan terus berlanjut walaupun kita memutuskan untuk diam. Hidup akan selalu memberikan warna baru tanpa peduli kita siap atau tidak. Bersyukurlah jika sampai saat ini hidup masih memberikan banyak pembelajaran buat kita.

Tidak mudah memang namun bukan berarti tidak bisa. Selama ada kemauan, selama selalu berusaha, selama masih punya keyakinan, selama masih mampu menghasilkan ide-ide kreatif, semuanya pasti akan lebih baik. Suatu hari nanti ketika perjalanan ini sudah lebih jauh dari garis awal kita memulainya, ketika kita menoleh sejenak ke belakang, kita akan menemukan pemandangan terindah dari sebuah perjuangan, menemukan arti sesungguhnya dari sebuah kesuksesan dan menikmati bentuk lain dari sebuah keberhasilan. Semangat!!!

09 September 2013

CORETAN MALAM

Mencintai itu sebuah perjalanan. Ada pengertian didalamnya yang perlu dibina. Ada kesepakatan-kesepakatan yang perlu dibuat. Ada toleransi yang perlu dibangun. Ada kepercayaan yang harus dijaga. Ada komitmen yang harus diperjuangkan. Ada sikap yang perlu mengalami perubahan dari hari ke hari. Ada proses yang harus dijalani. Ketika saya mencintai kamu, saya tahu bahwa saya akan bahagia bersamamu. Hal lainnya mari kita anggap sebagai bagian dari perjalanan yang akan membuat hubungan kita jadi lebih berkualitas. Terima kasih untuk segalanya. Kamu tetap yang terbaik. 


13 May 2013

FELLING BETTER

Walpap (268)
Setelah ngubek-ngubek file lama taraaaa ketemu juga satu tulisan yang well, cukup menarik hati. Ahyaaa menarik hati, berasa dapat kalimat jadul. Udah berapa lama ya saya gak menggunakan istilah ini.

Akhirnya bisa menikmati hidup lagi setelah hampir 11 bulan ini dunia saya serasa roller coaster. Naik turun berdasarkan mood. Banyak tekanan yang akhirnya sukses bermunculan dalam waktu 11 bulan saja. Mulai dari masalah yang harus bisa ditoleransi sampai hal-hal sepele yang bikin kemarahan saya akhirnya naik sampai keubun-ubun. Gak tahu ya tapi saya hanya punya pendapat sendiri bahwa hidup itu tidak bisa diatur oleh orang lain apalagi jika kita tidak pernah memberikan akses bebas pada orang lain meskipun hanya sekedar untuk ‘menatanya'. Heran ada begitu banyak orang yang tiba-tiba merasa penting untuk mengatur hidup orang lain tanpa diminta. Merasa diri paling tahu apa yang seharusnya dilakukan lebih dari pada diri kita sendiri. Amaze aja ada orang-orang yang menjadikan kepala dan usaha orang lain sebagai batu pijakan untuk memanjakan ambisinya.

Bodoh bukan ketika kita membiarkan diri kita mengikuti aturan orang lain yang datang tanpa permisi dan langsung menjadi tuan tanah yang merintah-merintah seenak jidatnya. Semua orang, semua manusia punya kehendak bebas untuk menentukan apa yang ingin dikerjakan dengan kualitas yang pasti beda dengan orang lain. Belum tentu juga orang yang selalu berteriak dan membawa-bawa "baliho" 'i've been there for a long time' bisa bilang 'don't do that, i’ve tried so much times in this way and failed'. Well, let we look into this. Sejak kapan pengalaman pribadi orang yang belum kita kenal betul tiba-tiba bisa jadi pengalaman kita juga. Sejak kapan ada kejadian buruk akan terulang kembali jika kita melakukan hal yang sama, jika kita tidak belajar dari pengalamannya. Stupid, isn’t it? Saya menghargai bahkan sangat, orang-orang yang menjadikan hidupnya sebagai contoh nyata suatu perubahan atau kesuksesan. Lengkap dengan semua kegagalan yang mereka alami diwaktu lampau. Dengan catatan saya memberikannya akses untuk mereka menjadi 'mentor, guru atau yang lebih dekat dari itu. Namun akan terasa aneh jika tiba-tiba orang lain dengan percaya diri super poll masuk dalam hidup kita dan mulai mengatur bagaikan seorang majikan.

Saya jadi ingat. Seseorang pernah bercerita pada saya bahwa dia tidak akan pernah mau makan ikan lagi seumur hidup. Alasannya cukup sederhana: karena tuh orang pernah ketulangan dan sekarat waktu makan ikan dulu, kejadian itu sudah lama banget menurutnya. Sukses masuk rumah sakit dan dirawat beberapa hari disana. Lumayan berjuang lah antara hidup dan mati gara-gara tulang ikan itu nyangkut disaluran pernafasannya. Apakah itu berarti saya juga akan ketulangan jika malam ini makan ikan sementara dia lebih memilih daging ayam? Apakah itu berarti saya akan sekarat dan masuk rumah sakit karenanya? Kerdil bukan pemikiran seperti itu? Buat saya simple saja, saya tidak akan ketulangan, titik. Saya tidak akan sekarat, titik. Dan saya tidak akan masuk rumah sakit dan dirawat, titik. Why? Of course because i'm not him. I'm i and he is he. We’re different. Saya bisa menikmati makan ikan sekalipun tulangnya banyak. Saya bisa saja justru ketulangan makan daging ayam yang well sedikit lebih ramah tulang. So, tidak semua pengalaman buruk orang lain akan menjadi pengalaman buruk saya bukan.

Itulah dia selama 11 bulan ini. Coba mengatur hidup saya dengan segala macam permainan didalamnya dengan dalih "Saya tidak ingin kamu melakukan kesalahan yang sama dengan saya". Bahkan ketika saya sudah berada jauh darinya pun tetap saja intimidasti itu datang lewat handphone. Manusia tidak pernah puas itu, tetap saja ingin mempermainkan saya. Membuat saya merasa salah meninggalkan 'kehidupan' yang menurutnya nyaman. Buat dia, gak banget buat saya. Serasa hidup dipenjara iyaaaa. Bebas, itu yang saya rasakan. Saat ini hidup saya lebih tenang dari sebelumnya. Saya bisa mengeksplore apa yang saya mau. Bisa mengatur waktu untuk sesuatu yang lebih saya sukai. Dan yang lebih penting bisa menjadi diri sendiri. Biasanya jam segini, disana, saya sedang stress berat dengan semua tekanan yang dia berikan. Secara sengaja, mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya gak penting. Tapi harus diselesaikan sekarang juga. Seakan-akan besok dunia bakal lenyap jika saya tidak menyelesaikan pekerjaan itu sekarang juga.

Saya memutuskan berhenti akhirnya dari ‘neraka’ itu. Saya salah. Benar saya salah mengambil keputusan waktu bergabung dengan mereka. Tidak punya sistem yang jelas, satu orang mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus. Ambil saja hati si boss dan kamu akan dapatkan semua kemudahan dan kenyamanan berdekatan dengannya. Injak saja kepala dan harga diri orang lain dan kamu akan lihat promosi itu akan begitu cepat menghampirimu. Dan kemudian kamu berteriak dengan bangganya bahwa kamulah yang paling hebat disini sebab kepercayaan itu ada pada pundakmu. Namun sayang saya masih punya hati nurani. Dan saya bersyukur untuk itu. Hati nurani inilah yang terus menjagai keputusan-keputusan yang saya ambil. Hati nurani ini juga yang menjagai saya untuk tetap melihat orang lain sebagai manusia bukan mesin dan patung. Saya tidak bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apresiasi. Saya bahkan rela mengakui kesalahan yang dilakukan oleh bawahan saya ketika semua orang hanya saling menunjuk jari mencari-cari kesalahan orang lain. Yap betul saya tidak cocok dengan tempat itu.

Senin sampai sabtu saya menghabiskan 10 sampai 11 jam disana. Terkurung dalam ruangan ac bertembok tebal dan arogan. Dan minggu masih harus ditambah dengan gotong royong dan meeting yang akhirnya membuat saya merelakan waktu ke gereja dan kebersamaan dengan keluarga. Kemudian jika saya sakit karena kecapekan dan butuh waktu istirahat -bukan dokter-, saya masih harus menghadapi pemotongan gaji karena ketidakhadiran itu. Sabar, sabar *sambil mengurut dada*, hanya itu yang bisa saya lakukan. Protes aja. Sudah saya coba. Bahkan sering tapi tetap tidak ada perubahan. Capek sendiri akhirnya dan memilih diam. Saya bukan tukang gosip. Saya tidak suka menceritakan kejelekan dengan teman lainnya. Makanya saya memilih well, jalani saja sampai batas maksimal dan i'm felling so fed up, maka saya dengan sangat senang hati melepaskan semua itu. Selesai persoalan. Dan itulah yang saya lakukan saat ini. Saya melepaskan semuanya. Apa setelah melepaskan semuanya hidup jadi lebih baik? Pasti! Sekalipun entah sudah yang keberapa kalinya hari ini handphone saya berdering tetap saya diamkan.

Kamu yang memulai semua ini silahkan bereskan sendiri. Kekacauan yang terjadi saat ini bukan saya yang memulainya tapi kamu. Saya sudah membereskan semua kekacauan yang kamu buat sebelum saya melangkahkan kaki keluar dari tempat ini. Sekarang silahkan hadapi masalah ini sendiri. Selama ini kamu selalu berdiri dibelakang saya ketika saya menyelesaikan kekacauan yang kamu ciptakan. Namun sekarang grow up man. Hadapai secara laki-laki. Kamu laki-laki bukan? Tidak pantas rasanya selalu bersembunyi di belakang punggung saya. Akhirnya saya merasa tenang sekarang dan kamu….kebakaran jenggot. Selamat menikmati haha.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk semua orang yang telah berani mengambil keputusan paling sulit dalam hidupnya. Congratulation !!!!








08 May 2013

CERITA HARI INI

FROM IPAD 328   FROM IPAD 332Saya lahir dan dibesarkan di pulau kecil ini. Pulau yang seakan-akan berdiri sendiri dan terpisah dari pulau lainnya. Pulau yang teletak disebelah tenggara pulau Sumatera. Namun sayangnya tidak termasuk dalam jajaran pulau-pulau disekitar pulau sumatera. Pulau yang jika dilihat dari udara sangat tidak mengesankan dan cukup mampu mentautkan alis setiap orang yang melihanya. Komentar dari beberapa teman yang pernah mengunjungi pulau ini menegaskan hal itu. Mereka selalu berpikir “Apa bagusnya pulau ini, jika terlihat dari udara saja sejauh mata memandang adalah tanah merah dan kerukan disana-sini. Tenang sobat, pulau ini masih terus membangun. Pemandangan tanah merah dan cekungan disana sini hasil dari pengerukan tanah dan lain sebagainya masih menjadi pemandangan yang sangat akrab. Ya, sekitar 10-15 tahun lagi pulau ini akan penuh dengan gedung-gedung indah dan fasilitas perkotaan yang cukup memadai. Namun begitu saya lebih memilih untuk menikmati pulau ini sekarang. Selagi belum terimbas dengan modernisasi dan pengembangan tata kota yang pasti nantinya akan membuat hutan dan keindahan alami yang sekarang ada hanya tinggal sejarah. Saya lebih menyukai pulau ini apa adanya sekarang. Dengan laut yang indah dan jajaran pohon kelapa disepanjang pantai. Menikmati matahari terbenam dengan hanya duduk ditepi pantai, rasanya terbayarkan sudah semua rasa lelah setelah seharian beraktivitas. Pasir pantai yang berwarna putih dan bersih menjanjikan kedamaian dan ketenangan. Kota ini dianugerahi pemandangan alam yang luar biasa cantiknya.

Warna air laut yang sangat indah, kadang memancarkan gradasi warna hijau muda, hijau muda sekali, hijau gelap dan kuning dipadukan dengan pasir putih yang bisa terlihat jelas dari atas air. Bahkan seringkali jika alam sedang bersahabat matahari menawarkan pantulan gradasi warna biru muda, biru tua dan biru gelap pada pantai. Eksotis dan terlihat begitu seksi. Bahkan alampun mampu menterjemahkan keseksian dengan sangat sempurna. Entah dimana lagi saya bisa menemukan keindahan seperti ini. Adakalanya ketika alam sedang menawarkan awan hitam di langit. Tetap saja keindahan itu tidak pernah hilang. Keindahan itu tetap ada disana, ditengah kegelapan awan sekalipun. Perpaduan air sungai yang berwarna hijau dengan batang-batang kayu yang sengaja ditanam tidak beraturan. Ditemani dengan beberapa gubuk nelayan yang berfungsi untuk menjemur ikan. Lalu dilatar belakangi oleh bayangan gunung tertinggi dikota ini. Sempurna. Semua itu begitu indah dan alami. Saya betah berlama-lama menikmati pemandangan ini. Walaupun saat ini awan abu-abu dilangit sedang tebal, tidak melunturkan niat saya untuk tetap duduk dijembatan kayu ini. Selama bukan halilintar dan tornado yang ada didepan sana itu, saya memilih tetap duduk diam dan menikmati semua keindahan ini. Alam selalu menawarkan keindahan dengan caranya sendiri bukan. Setelah puas menikmati pemandangan itu saya beranjak. Tujuan saya sekarang bukan tempat ini. Saya tergoda untuk singgah sebentar saja. Hanya ingin memastikan tempat ini masih sama indahnya ketika saya datang waktu itu.

Saya sering, ketika berada dikota ini sengaja berkendara sendiri ke tepi pantai. Sepanjang jalan menuju pantai telah terlihat jejeran pohon kelapa dengan daun yang melambai-lambai. Pohon kelapa disini sudah seperti perkebunan. Berjejer rapi dan terawat. Hampir semua pohon kelapa itu berbuah. Saya beruntung datang dimusim panen kelapa seperti hari ini. Lihat saja buah yang ada dipohon itu begitu menggoda tenggorokan saya. Membangun kesadaran saya betapa nikmatnya duduk ditepi pantai sambil menikmati air kelapa. Buah yang langsung dipetik dari pohonnya akan memberikan sensasi rasa yang berbeda bukan, lebih segar. Well, sepertinya ide yang bagus untuk dijadikan prioritas pertama begitu saya tiba nanti. Disisi kiri dan kanan jalan sejauh mata memandang saya melihat taburan warna bunga yang indah. Merah, merah jambu, kuning, putih, orange, biru muda dan kuning. Kedepan sedikit bahkan saya bisa menemukan bunga dengan warna kelopak yang berbeda, separuh berwarna merah sedangkan sisanya berwarna putih. Entah bagaiamana cara kawin silang itu dilakukan sehingga menghasilkan sesuatu yang belum pernah saya temui seumur hidup. Jujur saja, baru kali saya melihat serentengan bunga dengan kelopak yang beraneka warna. Indah, hanya itu yang terbersit dipikiran saya. Dikanan dan kiri jalan jelas terlihat rumah-rumah penduduk dengan segala aktivitas siang hari. Ada ibu-ibu yang sedang mengangkat jemuran.Anak-anak yang berlarian dengan gembira, sepertinya mereka sedang main perang-perangan. Sementara anak-anak perempuan duduk diayunan sambil memegang boneka lusuh. Beberapa pemuda sedang menjemur ikan disamping rumah. Ada juga yang sedang duduk dipondok yang terbuat dari kayu dan hanya beratapkan jerami sambil merokok dan menikmati kopi dingin. Terlihat dari tidak adanya kepulan asap yang keluar dari gelas itu. Sementara beberapa motor terparkir disamping pondok. Oh, tukang ojek ternyata. Pemandangan ini sangat familiar bukan. Sangat bersahaja. Aktivitas yang mereka lakukan membuat otak saya dipenuhi dengan gambaran kehidupan normal para penduduk kampung. Dan itu membuat saya merasa biasa. Pemandangan seperti ini sangat mudah ditemui di daerah kecil seperti ini.

Semakin mendekati tujuan pemandangan rumah-rumah penduduk tergantikan dengan bangunan-bangunan yang lebih modern. Resort dan restoran. Walaupun beberapa restoran beratapkan jerami, tetap saja memancarkan atmosfir modern, lihat saja fasilitas internet yang tersedia buat para pengunjung membuat saya tersenyum. Bahkan ditempat seperti ini orang lebih memilih berfoto-foto ria dan mengunggahnya langsung ke jejaring sosial. Sah-sah saja. Saya melihat satu restoran yang kelihatannya sangat menyenangkan untuk dijadikan tempat beristirahat sejenak. Saya memutuskan untuk mengisi perut terlebih dulu. Setelah memesan beberapa makanan, saya sibuk memperhatikan pasangan yang sedang duduk persis diseberang sana. Menikmati kemesraan dan kebersamaan mereka. Tentu saja dengan diam-diam saya mengabadikan mereka dengan kamera. Lalu sibuk mengisi pikiran sendiri dengan cerita yang terbangun diotak saya tentang hubungan mereka. Kepo sih memang, tapi sudahlah toh saya sedang menikmati hari ini. Kapan lagi coba saya bisa berkepo-kepo ria dengan hanya melibatkan saya dan diri sendiri.

Perut kenyang, saatnya melanjutkan perjalanan ini. Saya memacu si roda empat agak lebih kencang sekarang. Tidak ada pemandangan menarik dijalan setelah ini. Paling hanya bisa melihat tanah luas dengan rumput dan jejeran batang pohon kelapa yang sudah botak. Tinggal batang pohonnya saja. Setengah jam kemudian saya tiba. Memasuki jalan setapak yang hanya cukup dilewati oleh 2 mobil. Saya menyetir dengan perlahan menghindari lubang dibeberapa badan jalan. Wajarlah musim penghujan lalu meninggalkan lubang-lubang seperti ini.

Angin sepoi-sepoi menyambut kedatangan saya. Setelah memesan buah kelapa yang langsung dari pohonnya. Saya berjalan menuju pasir putih yang sangat terawat dan bersih. Tidak terlihat satupun sampah. Sepanjang pantai sangat terawat. Saya duduk bersila dipasir putih menikmati pemandangan laut yang teduh. Matahari diatas kepala bersinar sangat terik. Membuat kulit kepala seakan-akan terpanggang oleh api. Namun itu tidak mengganggu. Sendiri, duduk disini membuat saya benar-benar bisa menikmati hidup. Mengedarkan mata disepanjang pasir putih dan melihat hamparan birunya air laut menimbulkan kedamaian dihati. Ada saat dimana saya ingin menikmati diri sendiri. Ada saat dimana saya butuh waktu untuk sendiri. Ada saat dimana saya tidak ingin diganggu oleh siapapun dan apapun. Saat-saat seperti sekarang ini. Hanya ada saya, pasir putih, pohon kelapa dengan daun yang menari kekanan dan kekiri, laut yang terbentang luas, batu-batu berwarna gelap di beberapa sisi laut dan pantai, awan biru dan putih yang bergerak entah kemana, nyanyian ombak dengan riak-riak kecil yang memecah bibir pantai, air kelapa dan pikiran yang kosong. Saya sengaja mendiamkan semua teknologi yang menemani saya dalam perjalanan ini. Saya membutuhkan keheningan. Indah sekali.

Saya mengistirahatkan kamera sejenak. Melepaskan semua isi kepala membiarkannya kosong. Membiarkan pikiran saya mengembara kemana-mana untuk menciptakan ruang yang selauas-luasnya. Membenamkan kaki saya dipasir putih. Membiarkan jari-jari kaki saya merasakan sensasi didalamya. Membiarkan tangan saya menggenggam pasir sebanyak-banyaknya, memanjakannya bermain-main dengan butiran-butiran kasar itu sejenak. Menikmati kehangatan pasir yang entah telah berapa lama terpanggang matahari. Merasakan teksturnya tanpa banyak berpikir kemudian menerbangkannya perlahan-lahan. Mata saya melihat dengan seksama ketika pasir itu mulai berjatuhan keluar dari genggaman. Mengulanginya beberapa kali. Membiarkan mata saya tetap menangkap momen sederhana ini, membiarkan memori saja yang merekam dan menyimpannya di laci yang telah tersedia khusus disana. Tangan saya bergerak menyentuh rambut menaikan keatas dan menjepitnya. Merasakan terpaan angin sepoi-sepoi ditengkuk lalu memutuskan berjalan menyusuri pinggiran pantai. Beberapa langkah kemudian saya berhenti menghadap laut. Berdiri disana membenamkan kaki diair. Membiarkan pikiran saya mengembara. Berjalan lagi, sesekali menunduk membiarkan tangan saya dibasahi riak-riak kecil berwarna putih. Melangkah lagi dan menemukan kerang. Meraihnya dan membenamkan pikiran saya disana. Diantara lubang-lubang kecil si kerang. Membiarkan mata saya menjelajahi rongga-rongga kecil itu tanpa harus berpikir dengan rumit. Ini adalah saat pribadi saya. Saat hanya saya dan diri sendiri yang bisa menterjemahkan bentuk lain dari kebahagiaan. Saat dimana saya berdiam diri. Saat bahkan logika pun tidak saya ijinkan untuk bekerja seperti biasa. Saat semuanya hanya mengandalkan intuisi dan rasa.

Keindahan pantai seringkali membuat saya terpesona. Sejak kecil pantai dan laut telah menjadi bagian hidup saya. Pantai dan laut jugalah yang menemani saya dan keluarga diujung minggu. Laut yang ditakuti oleh beberapa orang mampu membuat saya jatuh cinta. Jika pantai sedang tenang seperti saat ini semua keindahan itu memancar dengan sendirinya. Pantai didepan saya ini contohnya. Jika sedang tenang seperti sekarang ini bahkan mampu mengantarkan getaran kedamaian sampai jauh kedalam hati saya. Namun jika sedang mengamuk bahkan nyawa manusia yang jadi taruhannya. Damai sekali. Begitu tenang. Sampai mampu membuat saya dengan mudah menghentikan lalu lintas otak. Jika semua keindahan alam bergabung jadi satu didepan mata. Apalagi coba yang mampu kita pikirkan selain menikmatinya. Mata saya mengarah kedepan tertuju pada titik-titik pudar di sebelah sana. Itu adalah pulau-pulau yang biasa disewakan kepada turis-turis asing atau lokal yang membutuhkan ketenangan dan privasi. Agak kesini sedikit terdapat beberapa batu yang berdiri begitu saja. Saya sendiri tidak tahu sejarahnya bagaiamana batu-batu itu bisa ada disana. Jika air sedang pasang batu-batu itu terlihat jauh. Namun jika air sedang surut bahkan kita bisa berjalan kaki menuju batu itu. Batu-batu yang sejenis dan besar seperti itu terdapat juga dipingiran pantai. Cocok buat tempat bersantai atau leyeh-leyeh. Sayang tidak ada ayunan disana. Dengan cuaca seperti ini ayunan menjadi teman pas buat tidur sejenak.

Semua terlihat sempurna dimata saya. Pemandangan yang ditawarkan alam begitu indah saat ini. Namun angin terasa agak lain sekarang. Berhembusnya seperti lebih kencang. Musim pancaroba seperti sekarang ini rasanya sulit ya memastikan alam. Panas terik sekalipun bukan harga mati jika satu hari itu akan baik-baik saja. Tapi entah kenapa saya merasa bahwa sebentar lagi akan hujan. Entahlah kenapa saya merasa seperti ini. Alam masih baik-baik saja. Saya mengamati sekeliling. Tiba-tiba terlintas pikiran ingin tetap berada disana menikmati perubahan alam. Ingin menyaksikan jika awan cerah berubah menjadi awan hitam. Gila memang. Tapi saya ingin melihatnya jika memang perasaan saya akan perubahaan alam akan terjadi. Saya ingin menyaksikannya. Mata saya terus memperhatikan hamparan laut. Semoga ini menjadi hari terbaik saya. Tiba-tiba angin yang saya rasakan bukan lagi angin sepoi-sepoi. Lebih kencang. Sepertinya perasaan saya benar. Sebantar lagi akan turun hujan. Bukan hanya hujan tapi juga angin kencang. Kurang kerjaan memang. Saya tetap saja mematung disana. Menikmati angin yang mulai tidak biasa. Riak-riak kecil mulai berubah menjadi ombak dengan suara yang agak berisik. Saya menjauh dari bibir pantai. Sepertinya air laut mulai naik. Saya mendongak ke langit, mendapati awan biru itu telah berubah jadi putih dibeberapa tempat dan abu-abu ditempat lainnya. Kira-kira berapa lama awan abu-abu itu berubah menjadi hitam ya. Saya benar-benar ingin menyaksikannya. Saya memandang berkeliling, sama seperti tadi, tidak ada orang lain selain saya. Mata saya terus memandang awan abu-abu yang semakin lama semakin kelabu dan di beberapa bagian telah berubah menjadi gelap. Saya masih bertahan disana. Semakin lama suara ombak semakin berisik dan air naik semakin jauh. Angin pun semakin kencang. Daun-daun pohon kelapa tidak lagi melambai tapi doyong kekanan.

Jujur saja saya benar-benar terpesona dengan semua yang ada didepan mata saya. Bagaimana alam bisa berubah dengan cepat. Bagaimana semua perubahan ini bisa terjadi secara tiba-tiba. Seperti tinggal menekan tombol on/off saja. Namun kesenangan saya tidak berlangsung lama ketika seorang laki-laki dan perempuan menghampiri. Memberitahu sepertinya akan ada badai sebentar lagi dan mereka menyarankan saya untuk segera berteduh ditempat mereka. Setelah mengucapkan terima kasih saya memutuskan untuk pergi saja. Rasanya pulang merupakan jalan terbaik daripada harus berdiam disana. Dalam perjalanan pulang saya mengamati pemandangan awan hitam dan gelap disekitar saya. Saat itulah kenormalan saya seperti kembali dan berpikir apa jadinya ya jika saya tetap bertahan di pinggir pantai sementara angin mengamuk. Sekitar setengah jam kemudian alam benar-benar menunjukkan taringnya. Kilatan petir dimana-mana, suara gelegarnya sanggup membuat nyali saya menciut. Awan hitam semakin pekat. Angin semakin kencang. Semua benda ringan berterbangan. Namun tidak mengurangi konsentrasi saya menekan gas. Saya harus keluar dari sana sebelum badai mengamuk. Dan Tuhan mendengar doa saya. Badai mengamuk ketika saya telah berhasil keluar mencapai kota. Saya menepi sebentar, keluar dari mobil dan melihat kebelakang. Benar-benar bagaikan langit dan bumi perbedaannya. Disini awan terang benderang, disana awan hitam pekat.

Well, kedamaian saya akhirnya terusik juga oleh perubahan alam. Tidak masalah toh saya telah sempat menikmati apa yang ingin saya nikmati. Lepas dari semua itu, saya tetap senang. Senang karena menemukan definisi baru dari kebahagian. Menemukan cara sederhana yang mampu membawa ketenangan. Menemukan cara paling pas untuk menyendiri. Membereskan kembali file-file yang berantakan diotak saya, menyusunnya dalam laci-laci yang tepat. Kadang ketika hidup sudah terlalu melelahkan. Otak sudah tidak lagi bisa memberikan kenyamanan, saya membutuhkan waktu untuk menyendiri. Waktu dimana saya hanya tinggal menekan tombol on/off dan semua kerumitan pikiran berganti dengan kesederhanaan. “Waktu dimana hanya ada saya dan diri sendiri yang bisa menterjemahkan bentuk lain dari kebahagiaan. Saat dimana saya berdiam diri. Saat bahkan logika pun tidak saya ijinkan untuk bekerja seperti biasa. Saat semuanya hanya mengandalkan intuisi dan rasa.”

21 April 2013

KARTINI DIMATA SAYA

Hari ini dirayakan sebagai harinya Kartini. Dimana-mana nih pemandangannya sama, kebaya dan sanggul. Sebenarnya apa yang kita rayakan 21 April setiap tahunnya ya, kebaya dan sanggulnya Kartini atauuuuuu semangat perjuangannya beliau, ayoooooo. Toh kebaya & sanggul memang trendnya jaman Kartini. Dulu mana ada lagi jins dan kaos oblong dipakai wanita. Lahhhh kalo sekarang, disesuaikan lah ya sehingga kita tidak hanya sibuk pilah-pilih kebaya dan sanggul yang cucok ditambah ber-makeup ria dari subuh, lalu justru melupakan makna sesungguhnya 21 April.

Kalo buat saya nih ya yang diperjuangkan Kartini itu adalah 'kesempatan' bukan cara berpakaian kita, kaum wanita. Kartini memperjuangkan kesempatan yang tidak didapatkan oleh para wanita di jamannya. Wanita yang selalu dinomorduakan bahkan dipandang tidak berfungsi selain ditempat tidur & dapur saja. Kartini merasakan kebutuhan yang lebih besar dari hanya sekedar dua hal itu. Ada dunia di luar sana yang patut untuk dicoba. Dunia yang menawarkan informasi dan kemajuan secara intelektual. Dunia yang sebenarnya mampu membawa perubahan terhadap pola pikir dan kebebasan dari keterbatasan.

Kartini mendapati bahwa wanita Jawa saat itu terbelenggu oleh tradisi. Sementara wanita Indonesia terbelenggu dengan budaya. Keharusan melakukan ini dan itu. Tidak boleh melakukan begini dan begitu. Selalu mengatasnamakan 'kamu kan anak perempuan' dalam setiap wejangan dan nasehat. Selalu ada perbedaan yang sangat mencolok dalam setiap pengambilan keputusan. Selalu ada jurang pemisah yang cukup besar antara keinginan dan kenyataan. Selalu pada akhirnya wanita menjadi orang yang nerimo apapun keputusan yang dipilihkan untuknya. Selalu tidak berdaya menyuarakan kemauannya, karena itu dianggap tabu dan terlarang.

Kesempatan untuk maju seharusnya menjadi hak waris wanita juga. Wanita memiliki hak waris istimewa bahkan sejak lahir. Hak waris yang tidak bisa ditukar dengan apapun juga. Hak yang membuat wanita merasa sempurna dan lengkap. Ya, saya sedang membicarakan hal yang sama dengan yang kalian pikirkan. Rahim & melahirkan. Hanya semua makhluk yang berjenis kelamin wanita kan yang memiliki 'kantung' rahim dalam perutnya. Melahirkan memang hak waris wanita. Namun kesempatan untuk memilih anak seperti apa yang harus dikandung & dilahirkan kedunia ini yang tidak dimiliki para wanita di jamannya Kartini. Hak warisnya hanya sebatas kepemilikan rahim. Jenis kelamin dan lain sebagainya, menjadi milik suami dan keluarga besarnya. Paham maksud saya. Baiklah.

Kartini melihat hal-hal seperti itu sebagai keterbatasan. Kartini melihat itu sebagai belenggu. Kartini melihat itu sebagai sesuatu yang menghambat kemaksimalan kaumnya. Kartini memahami betul bahwa wanita memiliki kekuatan yang tersembunyi. Bahwa wanita pun memiliki potensi. Bahwa wanita bisa menjadi apapun yang diinginkan hatinya. Kartini melihat bahwa dunia wanita tidak hanya seluas dapur & kamar tidurnya saja. Dunia diluar sana juga membutuhkan sentuhan wanita. Kartini melihat jika sekali saja wanita menyentuh dunia maka kesempatan lebih besar akan terbuka selamanya.

Well, inilah yang saya pahami dari perjuangan Ibu kita Kartini. Jalan itu telah diretas oleh sang pioneer. Kesempatan telah terbuka lebar untuk para wanita Indonesia berkarya. Mari kita memilih dengan bijaksana apa yang bisa kita sumbangkan bagi dunia. Potensi apa yang bisa kita kembangkan untuk membuat dunia semakin berwarna. Untuk semua wanita Indonesia, selamat hari Kartini. Teruslah kobarkan semangat Kartini itu dalam hati kita.

19 April 2013

RASA

Kecewa itu bagian dari hidup. Mau tidak mau, suka tidak suka suatu saat rasa itu akan menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Setiap manusia pasti memiliki harapan, keinginan dan kemauan yang bahkan telah di setting secara sempurna dalam pikiran. Mau jadi apa, mau bagaimana, mau seperti apa, mau ini dan itu. Walaupun telah berusaha sekuat tenaga, mengerahkan kemampuan super poll ada kalanya hasil itu tidak sesuai dengan semua kesempurnaan yang selama ini tersimpan di kepala. Lantas, kecewa bukan. Ya kecewa itu namanya jika kenyataan berbanding terbalik dengan harapan. Hidup itu tidak selamanya semulus jalan tol. Yaaaa, layaknya jalan tol meskipun telah melewati serangkaian perawatan yang tersusun rapi jali. Ada waktunya mengalami kerusakan juga. Ya lubang lah, ya pecah lah, ya bopeng-bopeng lah. Sama saja dengan kenyataan, tidak akan selamanya mewujudkan harapan plek-plek seperti apa yang kita mau.

Merasakan kecewa hari ini, lalu marah dengan kondisi, lantas tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukan dan akhirnya menangis. Itu normal. Sangat, sangat manusia. Sangat biasa. Dan sangat wajar. Namun yang tidak wajar adalah ketika kita membiarkan kecewa mengendalikan akal sehat kita. Kecewa itu kan hanya sebagian kecil dari rasa yang dimiliki setiap manusia. Datangnya pun seperti jailangkung, tak diundang. Terus pulangnya pun tak diantar hehehehehe. Tahu-tahu hilang begitu aja, ketika kita belajar untuk tulus menerimanya sebagai pembelajaran. Sementara akal sehat, otak kita adalah poros terpenting dari siklus kehidupan kita, yang menetap permanen disana. Berfungsi setiap hari selama 24 jam penuh. Masa iya sih kita rela membiarkan rasa kecewa mengendalikan akal sehat itu. Kecewa itu biasa. Saya sudah bilang itu tadi bukan. Nikmatilah rasa kecewa itu. Toh tidak setiap hari ini rasa itu mengunjungi kita.

Setiap kekecewaan selalu meninggalkan jejak yang sama. Sebuah pembelajaran. Entah itu memaafkan, entah itu lebih tulus menjalani hidup, entah itu rasa syukur, apapun lah itu sebutannya. Yang tidak biasa dan tidak normal adalah ketika kita terus membiarkan kekecewaan yang kita rasakan mengambil alih keputusan-keputusan yang kita buat berikutnya. Buat saya nih ya, adalah suatu kesalahan jika kita membiarkan rasa kecewa itu mempengaruhi hari apalagi sisa hidup kita. Membuat keputusan dengan kecewa sebagai tolak ukurnya hanya akan melahirkan kecewa-kecewa babak berikutnya. Hanya akan menciptakan ruang yang cukup besar antara kita dan keyakinan. Tidak semua orang mampu melihat sisi baik saat sedang kecewa. Hanya segelintir orang yang mampu meninggalkan rasa kecewa itu lalu meneruskan perjalanan hidupnya. Kecewa itu biasa bukan, normal bukan, dialami setiap manusia dibelahan dunia manapun bukan. Jadi bersikap biasa sajalah. Tidak perlu sampai harus merasa 'berdarah-darah' dan merasa orang paling menderita di dunia ini. Itu hanya rasa kecewa, ya, h.a.n.y.a rasa kecewa. Bagian kecil dari rasa yang seperti jailangkung, ingat kan.

Kata orang nih ya, kedewasaan seseorang dapat dilihat dari caranya merespon sesuatu. Kecewa juga termasuk didalamnya. Cara kita menanggulangi rasa kecewa itu mencerminkan telah seberapa dewasanya kita. Sejak lama saya telah meninggalkan pandangan tentang 'semakin matang usia seseorang akan semakin dewasa lah ia'. Gak ada lagi itu dalam kamus saya. Usia dan kedewasaan adalah dua hal yang berbeda. Walaupun saya setuju dengan fakta bahwa semakin lama kita malang melintang di dunia -persilatan- ini seharusnya membuat kita lebih lebih 'matang' dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Kedewasaan seseorang tidak ditentukan dari jumlah usianya. Buat saya itu lebih ditentukan oleh seberapa berkualitasnya hidup yang kita jalani selama sekian waktu. Banyak lho orang yang dewasa secara umur namun kanak-kanak secara sikap. Banyak juga orang yang dewasa secara umur namun ketika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi dalam hidupnya, kekecewaan yang dirasakan mampu membuatnya memilih jalan pintas. Tidak sedikit juga yang berakhir di RS. Jiwa & tetap disana selama sisa hidupnya. Dan sebaliknya, anak-anak kecil bisa memunculkan kualitas sikap yang dewasa ketika sesuatu yang berat terjadi dalam hidupnya.

Kecewa itu merupakan bagian dari buku kehidupan kita. Malaikat namanya jika tidak pernah kecewa. Normal kok jika sedih & menangis. Tapi toh tidak perlu sampai jejeritan menimbulkan kehebohan kan. Selama kita masih manusia dan hidup, kecewa itu akan selalu hadir. Tinggal bagaimana kita meresponinya saja. Hidup toh pilihan. Ketika kecewa hadir tinggal kitanya aja memilih untuk berdamai dengan rasa itu lalu melanjutkan hidup atau tenggelam didalamnya selama sisa hidup kita. Tidak mudah memang berdamai dengan rasa kecewa namun rasanya layak untuk dicoba kan. Hidup yang kita jalani saat ini toh milik kita, hanya kita lah yang mampu menolong diri sendiri. Orang lain??? Mereka hanya bisa memberi saran, tapi keputusan tetap ada pada kita.

06 April 2013

SILENT PLACE

Entah bagaimana menjelaskannya tempat ini telah mencuri hati saya sejak pertama kali menemukannya. Tempat yang sangat sederhana hanya dipinggir jalan yang hampir setiap hari saya lalui. Namun tidak pernah menjadi pusat perhatian. Sampai suatu hari melewatinya saat matahari sore benar-benar bersinar dengan garangnya. Cahaya itu memantulkan bias warna di air yang pada akhirnya sanggup membuat saya terpesona. Cepat-cepat saya turun dari kendaraan dan menuruni jalan setapak yang sangat tidak terawat. Hal yang terpikirkan saat itu adalah 'sampah dimana-mana jek'. Tapi itu tidak mampu menghentikan langkah saya menuju keindahan bias warna ditengah sana. ketika tiba dipinggir laut suara deburan ombak membuat saya merasa damai. Boro-boro saya mengabadikan keindahan didepan sana, saya hanya diam mematung dan menikmati angin yang menghantarkan bau laut yang tajam.

Terdiam menikmati sore hari yang tidak biasa. Saya menoleh ke kanan dan kiri mencari sesuatu yang bisa dijadikan sandaran untuk bisa menikmati keindahan itu lebih lama lagi. Aha, ada sebongkah batu yang bertengger persis di tepian air. Seakan-akan tempat itu telah dirancang khusus untuk saya *halah*. Duduk dengan mata terus memandang air, sinar matahari dan pohon kelapa. What a wonderful world, perfect. Sangat sempurna. Tiba-tiba saja tangan saya sangat malas untuk sekedar mengambil kamera. Ntar dulu lah, saya masih ingin menikmati keindahan alam yang jarang-jarang ada. Tempat ini indah. Hanya sayang tidak dirawat. Sampah dimana-mana. Kantong-kantong plastik, bungkusan-bungkusan segala macam jajanan anak-anak. Kemudian agak kesebelah sana sedikit berjejer beberapa baris tidak teratur wadah plastik air mineral gelas. Geser ke kanan dikit berjejer rapi jali sedotan plastik. Nahhhh dibelakangnya ntuhhh ada kaleng-kaleng minuman karbonat mmmm coca cola ada, pepsi ada, gogo ada, 7up ada. Yaaaa mas, mbak silahkan dipilih, dipilih. Kotor, ya kotor sekali. Belum lagi entah baju kaos siapa itu tergeletak dengan suksesnya beberapa disana.

Saya jadi berpikir, apakah penghuni pondok di ujung sana itu tidak sakit mata ya melihat semua kekacauan dunia persilatan tepat didepan matanya? Kalau saya pemilik pondok itu bisa dipastikan bahwa minimal sepanjang laut ini akan bersih. Well, pertama, saya memang cinta laut. Kedua, saya tidak bisa hidup berdampingan dengan semua benda berserakan didepan mata. Ketiga, bersih pangkal sehat sodara-sodara. Okelah yang ketiga itu pinjem quote-nya entah siapa. Saya hanya membayangkan betapa nyamannya jika duduk di sini dengan tanpa ditemani sampah. Bisa bayangkan bukan? Rasanya tidak susah ya. Baiklah, lanjutttt.

Buat saya nih ya indah itu sederhana saja. Sesederhana menemukan tempat secara tiba-tiba kemudian bahagia menikmatinya. Matahari memang garang sore ini. Dan saya tidak merasa terganggu. Saya memutuskan untuk duduk dan menikmati semua keindahan yang memang disediakan alam untuk dinikmati. Tepat didepan saya duduk agak geser ke kanan sedikit ada tiga tiang tembok berdiri dengan gagahnya. Pada tiang kedua tertambat sebuah perahu yang berayun-ayun. Seakan-akan memberi hiburan tersendiri buat saya. Menciptakan sebuah pemikiran tentang kehidupan. Sangat-sangat pribadi. Saya bisa mengerti kenapa para miliarder sanggup menghabiskan sekian banyak uangnya hanya untuk membeli sebuah pulau. Saya paham sekarang bahwa keheningan seperti ini tidak ternilai harganya. Bahwa kenyamanan menikmati keindahan alam lebih penting dari berapapun banyaknya uang yang kita miliki. Ini indah. Saat-saat dimana matahari beranjak pulang setelah puas bermain seharian. Menikmati detik-detik ketika terang berganti dengan gelap. Menikmati bunyi ombak memecah bebatuan. Well earth, this is amazing.

Sejak hari itu saya memiliki tempat untuk dikunjungi ketika saya berada di kota ini. Tempat yang mampu membuat saya melupakan sejenak 'bisingnya' kehidupan. Tempat dimana saya bisa menjadi diam dan tenang. Tempat dimana hanya ada saya, laut, sinar matahari, pohon kelapa, deburan ombak dan keheningan didalamnya.