21 April 2013

KARTINI DIMATA SAYA

Hari ini dirayakan sebagai harinya Kartini. Dimana-mana nih pemandangannya sama, kebaya dan sanggul. Sebenarnya apa yang kita rayakan 21 April setiap tahunnya ya, kebaya dan sanggulnya Kartini atauuuuuu semangat perjuangannya beliau, ayoooooo. Toh kebaya & sanggul memang trendnya jaman Kartini. Dulu mana ada lagi jins dan kaos oblong dipakai wanita. Lahhhh kalo sekarang, disesuaikan lah ya sehingga kita tidak hanya sibuk pilah-pilih kebaya dan sanggul yang cucok ditambah ber-makeup ria dari subuh, lalu justru melupakan makna sesungguhnya 21 April.

Kalo buat saya nih ya yang diperjuangkan Kartini itu adalah 'kesempatan' bukan cara berpakaian kita, kaum wanita. Kartini memperjuangkan kesempatan yang tidak didapatkan oleh para wanita di jamannya. Wanita yang selalu dinomorduakan bahkan dipandang tidak berfungsi selain ditempat tidur & dapur saja. Kartini merasakan kebutuhan yang lebih besar dari hanya sekedar dua hal itu. Ada dunia di luar sana yang patut untuk dicoba. Dunia yang menawarkan informasi dan kemajuan secara intelektual. Dunia yang sebenarnya mampu membawa perubahan terhadap pola pikir dan kebebasan dari keterbatasan.

Kartini mendapati bahwa wanita Jawa saat itu terbelenggu oleh tradisi. Sementara wanita Indonesia terbelenggu dengan budaya. Keharusan melakukan ini dan itu. Tidak boleh melakukan begini dan begitu. Selalu mengatasnamakan 'kamu kan anak perempuan' dalam setiap wejangan dan nasehat. Selalu ada perbedaan yang sangat mencolok dalam setiap pengambilan keputusan. Selalu ada jurang pemisah yang cukup besar antara keinginan dan kenyataan. Selalu pada akhirnya wanita menjadi orang yang nerimo apapun keputusan yang dipilihkan untuknya. Selalu tidak berdaya menyuarakan kemauannya, karena itu dianggap tabu dan terlarang.

Kesempatan untuk maju seharusnya menjadi hak waris wanita juga. Wanita memiliki hak waris istimewa bahkan sejak lahir. Hak waris yang tidak bisa ditukar dengan apapun juga. Hak yang membuat wanita merasa sempurna dan lengkap. Ya, saya sedang membicarakan hal yang sama dengan yang kalian pikirkan. Rahim & melahirkan. Hanya semua makhluk yang berjenis kelamin wanita kan yang memiliki 'kantung' rahim dalam perutnya. Melahirkan memang hak waris wanita. Namun kesempatan untuk memilih anak seperti apa yang harus dikandung & dilahirkan kedunia ini yang tidak dimiliki para wanita di jamannya Kartini. Hak warisnya hanya sebatas kepemilikan rahim. Jenis kelamin dan lain sebagainya, menjadi milik suami dan keluarga besarnya. Paham maksud saya. Baiklah.

Kartini melihat hal-hal seperti itu sebagai keterbatasan. Kartini melihat itu sebagai belenggu. Kartini melihat itu sebagai sesuatu yang menghambat kemaksimalan kaumnya. Kartini memahami betul bahwa wanita memiliki kekuatan yang tersembunyi. Bahwa wanita pun memiliki potensi. Bahwa wanita bisa menjadi apapun yang diinginkan hatinya. Kartini melihat bahwa dunia wanita tidak hanya seluas dapur & kamar tidurnya saja. Dunia diluar sana juga membutuhkan sentuhan wanita. Kartini melihat jika sekali saja wanita menyentuh dunia maka kesempatan lebih besar akan terbuka selamanya.

Well, inilah yang saya pahami dari perjuangan Ibu kita Kartini. Jalan itu telah diretas oleh sang pioneer. Kesempatan telah terbuka lebar untuk para wanita Indonesia berkarya. Mari kita memilih dengan bijaksana apa yang bisa kita sumbangkan bagi dunia. Potensi apa yang bisa kita kembangkan untuk membuat dunia semakin berwarna. Untuk semua wanita Indonesia, selamat hari Kartini. Teruslah kobarkan semangat Kartini itu dalam hati kita.

19 April 2013

RASA

Kecewa itu bagian dari hidup. Mau tidak mau, suka tidak suka suatu saat rasa itu akan menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Setiap manusia pasti memiliki harapan, keinginan dan kemauan yang bahkan telah di setting secara sempurna dalam pikiran. Mau jadi apa, mau bagaimana, mau seperti apa, mau ini dan itu. Walaupun telah berusaha sekuat tenaga, mengerahkan kemampuan super poll ada kalanya hasil itu tidak sesuai dengan semua kesempurnaan yang selama ini tersimpan di kepala. Lantas, kecewa bukan. Ya kecewa itu namanya jika kenyataan berbanding terbalik dengan harapan. Hidup itu tidak selamanya semulus jalan tol. Yaaaa, layaknya jalan tol meskipun telah melewati serangkaian perawatan yang tersusun rapi jali. Ada waktunya mengalami kerusakan juga. Ya lubang lah, ya pecah lah, ya bopeng-bopeng lah. Sama saja dengan kenyataan, tidak akan selamanya mewujudkan harapan plek-plek seperti apa yang kita mau.

Merasakan kecewa hari ini, lalu marah dengan kondisi, lantas tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukan dan akhirnya menangis. Itu normal. Sangat, sangat manusia. Sangat biasa. Dan sangat wajar. Namun yang tidak wajar adalah ketika kita membiarkan kecewa mengendalikan akal sehat kita. Kecewa itu kan hanya sebagian kecil dari rasa yang dimiliki setiap manusia. Datangnya pun seperti jailangkung, tak diundang. Terus pulangnya pun tak diantar hehehehehe. Tahu-tahu hilang begitu aja, ketika kita belajar untuk tulus menerimanya sebagai pembelajaran. Sementara akal sehat, otak kita adalah poros terpenting dari siklus kehidupan kita, yang menetap permanen disana. Berfungsi setiap hari selama 24 jam penuh. Masa iya sih kita rela membiarkan rasa kecewa mengendalikan akal sehat itu. Kecewa itu biasa. Saya sudah bilang itu tadi bukan. Nikmatilah rasa kecewa itu. Toh tidak setiap hari ini rasa itu mengunjungi kita.

Setiap kekecewaan selalu meninggalkan jejak yang sama. Sebuah pembelajaran. Entah itu memaafkan, entah itu lebih tulus menjalani hidup, entah itu rasa syukur, apapun lah itu sebutannya. Yang tidak biasa dan tidak normal adalah ketika kita terus membiarkan kekecewaan yang kita rasakan mengambil alih keputusan-keputusan yang kita buat berikutnya. Buat saya nih ya, adalah suatu kesalahan jika kita membiarkan rasa kecewa itu mempengaruhi hari apalagi sisa hidup kita. Membuat keputusan dengan kecewa sebagai tolak ukurnya hanya akan melahirkan kecewa-kecewa babak berikutnya. Hanya akan menciptakan ruang yang cukup besar antara kita dan keyakinan. Tidak semua orang mampu melihat sisi baik saat sedang kecewa. Hanya segelintir orang yang mampu meninggalkan rasa kecewa itu lalu meneruskan perjalanan hidupnya. Kecewa itu biasa bukan, normal bukan, dialami setiap manusia dibelahan dunia manapun bukan. Jadi bersikap biasa sajalah. Tidak perlu sampai harus merasa 'berdarah-darah' dan merasa orang paling menderita di dunia ini. Itu hanya rasa kecewa, ya, h.a.n.y.a rasa kecewa. Bagian kecil dari rasa yang seperti jailangkung, ingat kan.

Kata orang nih ya, kedewasaan seseorang dapat dilihat dari caranya merespon sesuatu. Kecewa juga termasuk didalamnya. Cara kita menanggulangi rasa kecewa itu mencerminkan telah seberapa dewasanya kita. Sejak lama saya telah meninggalkan pandangan tentang 'semakin matang usia seseorang akan semakin dewasa lah ia'. Gak ada lagi itu dalam kamus saya. Usia dan kedewasaan adalah dua hal yang berbeda. Walaupun saya setuju dengan fakta bahwa semakin lama kita malang melintang di dunia -persilatan- ini seharusnya membuat kita lebih lebih 'matang' dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Kedewasaan seseorang tidak ditentukan dari jumlah usianya. Buat saya itu lebih ditentukan oleh seberapa berkualitasnya hidup yang kita jalani selama sekian waktu. Banyak lho orang yang dewasa secara umur namun kanak-kanak secara sikap. Banyak juga orang yang dewasa secara umur namun ketika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi dalam hidupnya, kekecewaan yang dirasakan mampu membuatnya memilih jalan pintas. Tidak sedikit juga yang berakhir di RS. Jiwa & tetap disana selama sisa hidupnya. Dan sebaliknya, anak-anak kecil bisa memunculkan kualitas sikap yang dewasa ketika sesuatu yang berat terjadi dalam hidupnya.

Kecewa itu merupakan bagian dari buku kehidupan kita. Malaikat namanya jika tidak pernah kecewa. Normal kok jika sedih & menangis. Tapi toh tidak perlu sampai jejeritan menimbulkan kehebohan kan. Selama kita masih manusia dan hidup, kecewa itu akan selalu hadir. Tinggal bagaimana kita meresponinya saja. Hidup toh pilihan. Ketika kecewa hadir tinggal kitanya aja memilih untuk berdamai dengan rasa itu lalu melanjutkan hidup atau tenggelam didalamnya selama sisa hidup kita. Tidak mudah memang berdamai dengan rasa kecewa namun rasanya layak untuk dicoba kan. Hidup yang kita jalani saat ini toh milik kita, hanya kita lah yang mampu menolong diri sendiri. Orang lain??? Mereka hanya bisa memberi saran, tapi keputusan tetap ada pada kita.

06 April 2013

SILENT PLACE

Entah bagaimana menjelaskannya tempat ini telah mencuri hati saya sejak pertama kali menemukannya. Tempat yang sangat sederhana hanya dipinggir jalan yang hampir setiap hari saya lalui. Namun tidak pernah menjadi pusat perhatian. Sampai suatu hari melewatinya saat matahari sore benar-benar bersinar dengan garangnya. Cahaya itu memantulkan bias warna di air yang pada akhirnya sanggup membuat saya terpesona. Cepat-cepat saya turun dari kendaraan dan menuruni jalan setapak yang sangat tidak terawat. Hal yang terpikirkan saat itu adalah 'sampah dimana-mana jek'. Tapi itu tidak mampu menghentikan langkah saya menuju keindahan bias warna ditengah sana. ketika tiba dipinggir laut suara deburan ombak membuat saya merasa damai. Boro-boro saya mengabadikan keindahan didepan sana, saya hanya diam mematung dan menikmati angin yang menghantarkan bau laut yang tajam.

Terdiam menikmati sore hari yang tidak biasa. Saya menoleh ke kanan dan kiri mencari sesuatu yang bisa dijadikan sandaran untuk bisa menikmati keindahan itu lebih lama lagi. Aha, ada sebongkah batu yang bertengger persis di tepian air. Seakan-akan tempat itu telah dirancang khusus untuk saya *halah*. Duduk dengan mata terus memandang air, sinar matahari dan pohon kelapa. What a wonderful world, perfect. Sangat sempurna. Tiba-tiba saja tangan saya sangat malas untuk sekedar mengambil kamera. Ntar dulu lah, saya masih ingin menikmati keindahan alam yang jarang-jarang ada. Tempat ini indah. Hanya sayang tidak dirawat. Sampah dimana-mana. Kantong-kantong plastik, bungkusan-bungkusan segala macam jajanan anak-anak. Kemudian agak kesebelah sana sedikit berjejer beberapa baris tidak teratur wadah plastik air mineral gelas. Geser ke kanan dikit berjejer rapi jali sedotan plastik. Nahhhh dibelakangnya ntuhhh ada kaleng-kaleng minuman karbonat mmmm coca cola ada, pepsi ada, gogo ada, 7up ada. Yaaaa mas, mbak silahkan dipilih, dipilih. Kotor, ya kotor sekali. Belum lagi entah baju kaos siapa itu tergeletak dengan suksesnya beberapa disana.

Saya jadi berpikir, apakah penghuni pondok di ujung sana itu tidak sakit mata ya melihat semua kekacauan dunia persilatan tepat didepan matanya? Kalau saya pemilik pondok itu bisa dipastikan bahwa minimal sepanjang laut ini akan bersih. Well, pertama, saya memang cinta laut. Kedua, saya tidak bisa hidup berdampingan dengan semua benda berserakan didepan mata. Ketiga, bersih pangkal sehat sodara-sodara. Okelah yang ketiga itu pinjem quote-nya entah siapa. Saya hanya membayangkan betapa nyamannya jika duduk di sini dengan tanpa ditemani sampah. Bisa bayangkan bukan? Rasanya tidak susah ya. Baiklah, lanjutttt.

Buat saya nih ya indah itu sederhana saja. Sesederhana menemukan tempat secara tiba-tiba kemudian bahagia menikmatinya. Matahari memang garang sore ini. Dan saya tidak merasa terganggu. Saya memutuskan untuk duduk dan menikmati semua keindahan yang memang disediakan alam untuk dinikmati. Tepat didepan saya duduk agak geser ke kanan sedikit ada tiga tiang tembok berdiri dengan gagahnya. Pada tiang kedua tertambat sebuah perahu yang berayun-ayun. Seakan-akan memberi hiburan tersendiri buat saya. Menciptakan sebuah pemikiran tentang kehidupan. Sangat-sangat pribadi. Saya bisa mengerti kenapa para miliarder sanggup menghabiskan sekian banyak uangnya hanya untuk membeli sebuah pulau. Saya paham sekarang bahwa keheningan seperti ini tidak ternilai harganya. Bahwa kenyamanan menikmati keindahan alam lebih penting dari berapapun banyaknya uang yang kita miliki. Ini indah. Saat-saat dimana matahari beranjak pulang setelah puas bermain seharian. Menikmati detik-detik ketika terang berganti dengan gelap. Menikmati bunyi ombak memecah bebatuan. Well earth, this is amazing.

Sejak hari itu saya memiliki tempat untuk dikunjungi ketika saya berada di kota ini. Tempat yang mampu membuat saya melupakan sejenak 'bisingnya' kehidupan. Tempat dimana saya bisa menjadi diam dan tenang. Tempat dimana hanya ada saya, laut, sinar matahari, pohon kelapa, deburan ombak dan keheningan didalamnya.



15 January 2013

BLOG & MENULIS

clip_image002

Sejak kecil saya sudah suka membaca. Banyak buku anak-anak khususnya serial petualangan yang menjadi favorit saya. Bukan itu saja majalah anak-anak seperti Bobo, Ananda dan Donald Bebek juga menjadi bacaan rutin saya sebulan sekali. Kesenangan saya membaca tidak disertai dengan kemampuan saya membeli buku. Saya bukan berasal dari keluarga yang senang membaca buku. Orangtua saya contohnya, jarang sekali saya melihat mereka membaca buku. Sekali-kali membaca koran, namun jika koran langganan yang datang setiap harinya, gak selalu rutin dibaca juga ya. Makanya sejak kecil membeli buku bacaan tidak termasuk dalam pengeluaran bulanan mereka. Namun saya tidak kehilangan akal, uang jajanlah yang saya jadikan modal untuk menyewa buku. Yaaaa hanya menyewa, namun itu sudah cukup membahagiakan saya. Tidak masalah walaupun buku yang mampu saya sewa tidak sebanyak yang saya inginkan. Keterbatasan uang jajan. Berapa sih uang jajan anak sekolahan jaman dulu, tidak sebesar uang jajan anak sekolah sekarang ini kan. Yaaa maklumlah saya hidup di jaman yang beda *tsah*. Kios penyewaan buku yang jauh dari rumah dan sekolah memaksa saya berpikir lebih kreaif lagi. Mengumpulkan uang jajan sampai beberapa hari baru saya mampu untuk pergi kesana. Sekali datang saya bisa membawa pulang 5 buku sewaan. Gak cukup sih, namun tidak masalah waktu itu. Kadang 3 hari saya telah selesai membacanya. Untuk mengisi waktu luang lain biasanya saya mengulang sampai 2 kali baca per bukunya. Tragis sih, tapi waktu itu, kegiatan ini sangat meyenangkan.

Berawal dari kegiatan membaca itulah saya mulai berimajinasi. Memikirkan jika si tokoh utama dalam cerita-cerita yang saya baca itu menjalani adegan yang bertolak belakang dengan yang ada dibuku, jadinya seperti apa. Mulai membayangkan sampai otak saya penuh sendiri. Menulislah yang akhirnya menjadi pelampisan. Menjadi tong sampah otak saya. Semua hal saya tuliskan. Bukan dengan alur yang benar waktu itu, dengan apa adanya. Bukan juga dengan bahasa yang sempurna, lebih kepada bahasa anak-anak yang hanya ingin mengeluarkan sebagian isi kepalanya. Sejak itulah saya menambahkan satu hal baru dalam daftar hobby saya: menulis. Ketika pelajaran bahasa Indonesia disekolah buehhhh itu adalah saat yang saya nantikan. Bahasa Indonesia, pelajaran yang tidak jauh-jauh dari mengarang bukan. Dan saya paling suka itu. Kadang sangking banyaknya sampe-sampe saya bingung saat harus mengedit dan memasukkannya hanya dalam beberapa paragraf sesuai permintaan bu guru. Dan itu membuat saya sebel sesebel-sebelnya. Bayangkan pada hal yang paling saya sukai pun saya harus terbatasi oleh aturan. Sudahlah kita lupakan saja. Mari kita lanjutkan.

Seiring dengan bertambahnya usia *apalagi-inihhh*, saya semakin mencintai dunia tulis menulis. Namun kemudian tidak menjadikan itu sebagai cita-cita. Hanya sebatas mencintai, suka pada sesuatu. Menulis telah menjadi bagian hidup saya, memberikan warna tersendiri. Memberikan kebahagian dan kelegaan tersendiri. Selalu saja otak saya penuh dengan segala macam hal yang saya lihat dan rasa. Menuliskannya merupakan salah satu cara ajaib melapangkannya kembali. Memberi ruang kosong untuk beristirahat. Seringkali lalu lintas otak saya sangat padat sehingga saya mengalami insomnia dan gelisah. Semua itu akan hilang dengan sendirinya jika saya telah menuliskannya. Lega rasanya. Kemudian seseorang menyarankan saya untuk membagikan tulisan-tulisan itu dengan dunia maya. Well, meracuni lebih tepatnya. "Mungkin orang lain akan terbantu dengan tulisanmu", katanya.

Perbincangan dan tukar menukar ide pun berlangsung cukup lama. Sampai saya membaca tulisan teman yang meracuni pikiran saya itu di blognya. Iyaaa sodara-sodara, sementara saya berdiskusi panjang lebar berhari-hari pula dengannya, dia telah membuat blognya sendiri. Wow, ternyata dampaknya besar sekali buat orang lain. Saya pun memutuskan. Itulah hari dimana saya memberanikan diri memulainya. Memulai blog yang didalamnya tidak melulu berupa kisah nyata. Lebih sering melulu tentang apa yang saya pikirkan. Inspirasinya banyak, bisa dari buku yang saya baca, film yang saya tonton atau kejadian-kejadian hidup di depan mata. Kadang ya, hal paling sederhana buat orang lain menjadi hal besar jika sudah sampai pada otak kita. Hal-hal sehari-hari yang terjadi disekitar kita seringkali menjadi motor dari tulisan saya. Namanya juga belajar apapun bisa jadi inspirasi kan. Kemudian saya menjadi sangat rajin menulis, ditambah lagi saat ini teknologi memberikan saya banyak alternatif terbaik. Walaupun tidak semua hasil tulisan itu saya bagikan di dunia maya. Mulailah saya dengan kegiatan tambahan: menulis blog. Menyenangkan ternyata, ada semacam kepuasan batin yang saya rasakan setiap selesai upload satu entry. Blog membuat saya memiliki tanggung jawab lebih. Dibaca orang lain atau tidak rasanya itu bukan hal utama. Bisa membahagiakan diri sendiri dengan cara yang paling sederhana, itu yang lebih penting.

Well, buat kalian yang suka menulis hal remeh temeh seperti saya, blog-kan saja tulisan-tulisan itu. Siapa tahu suatu hari nanti kalian akan menemukan jalan keluar entah apapun itu. Yaaaa kita gak akan pernah tahu kan jika diluar sana ternyata ada begitu banyak orang yang membutuhkan bacaaan ringan. Atau ternyata ada orang-orang diluar sana yang tiba-tiba saja terinspirasi dari kalimat-kalimat yang kita tulis. Sudahlah jangan berpikir terlalu lama. Jika ingin menulis, menulis lah. Tidak ada hal yang tidak bermanfaat jika dimulai dengan sesuatu yang tulus dan benar. Selamat Menulis!

09 January 2013

HAPPY NEW YEAR



Kebiasaan banyak orang membuat resolusi tahunan untuk tahun yang akan datang merupakan hal yang sangat essensial, untuk sebagian orang. Mengambil kertas & pulpen, duduk dengan manis dimeja sambil merenungkan perjalanan setahun kebelakang yang penuh dengan cerita, masalah dan kejutan-kejutan menyenangkan, sedih, kecewa ahhhh semua tumplek plek jadi satu. Intinya sih merenung. Kebiasaan ini bagi beberapa orang adalah rutinitas wajib. Buat yang lainnya mungkin saja sesuatu yang tidak terlalu penting untuk dilakukan. Demikian pula saya, sejak beberapa tahun lalu saya telah berhenti membuat resolusi akhir tahun. Ya sudah berhenti. Alasannya? Hmmmm bukan karena itu sesuatu yang tidak penting. Namun buat saya lebih kepada kemampuan diri sendiri yang selalu gagal memenuhi tenggat si resolusi itu.

Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya memang biasanya tak satu pun dari point-point resolusi itu yang sukses saya raih. Bukan malas atau tidak berusaha namun lebih kepada sesuatu yang saya tulis biasanya adalah sesuatu yang terlalu jauh dari jangkauan kemampuan diri sendiri. Ya, sesuatu yang jika saya baca kembali mampu membuat saya geleng-geleng kepala sambil berpikir darimana sumber kegilaan semua point-point ini. Saya bukan tipe orang yang bisa stay sampai mati pada sesuatu. Saya butuh mencintai lebih dulu barulah bisa menikmati hasil sesuai dengan harapan. Menulis contohnya, kecintaan saya pada menulis telah tumbuh sejak kecil. Sehingga apapun yang saya lihat, rasa dan pikirkan begitu saja mengalir membentuk serangkaian kalimat yang akhirnya menghasilkan sesuatu. Sulit sekali membayangkan mengerjakan sesuatu tanpa cinta.

Menulis tanpa cinta, bekerja tanpa cinta, baca buku tanpa cinta. Well, sulit sekali membayangkannya. "Kenapa tidak membuat resousi dengan cinta?", tanya seorang teman suatu hari. Hmmmm, resolusi itu sendiri bukan sesuatu yang saya cintai. Membatasi diri dengan point-point yang harus diraih, yang wajib untuk dikerjakan. Yang kemudian, hari demi hari hanya sibuk menilai dan mencatat goalnya. Apakah ini dan itu telah tercapai dan sebagainya. Rasanya itu bukan saya banget. Itu sesuatu yang sangat orang lain. Saya cuma ingin apa yang saya kerjakan tahun ini akan meningkat atau istilah yang sering saya gunakan adalah progress di tahun berikutnya, itu saja. Bahasa sederhananya saya sudah tahu apa yang ingin saya lanjutkan dan resolusi hanya akan membuat saya tertekan. Seakan-akan kegagalan lah namanya jika hal itu tidak terwujud seratus persen. Skeptis! Terserah apapun itu panggilannya. Yang jelas resolusi itu bukan saya banget.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya saya mengakhir tahun 2012 tanpa resolusi. Yang ada dibenak saya cuma progresifitas dan apa yang perlu saya 'bangun' berikutnya. Alih-alih membuat resolusi, diakhir tahun 2012 saya malah melakukan sesuatu yang saya banget. Mengambil ipad, merancang dan mengutak-atiknya sehingga menghasilkan kartu ucapan tahun baru plus dengan foto narsis saya terpampang sebagai covernya *hehehehehehe*. Menguploadnya ke jejaring sosial, mentag teman-teman dan menikmati pujian dari sang pacar ketika kartu istimewa itu sampai padanya. Well, itu menyenangkan dan lebih membahagiakan diri sendiri dari hanya sekedar duduk diam menuliskan resolusi. Saya tidak sedang mendoktrin lho ya bahwa resolusi itu tidak ada gunanya. Resolusi tidak akan berjalan sempurna jika diterapkan pada saya. Pasti berhasil untuk orang lain.

Itulah sebabnya saya berhenti membuat resolusi akhir tahun dan memulai dengan sesuatu yang berbeda. Saya hanya berpikir tidak ada gunanya memaksakan harus melakukan hal yang jelas-jelas tidak saya cintai. Hasil itu akan bisa kita nikmati jika kita mengerjakannya dengan cinta. Apapun itu, jika melibatkan cinta didalamnya hasilnya akan selalu baik, menurut saya. Meninggalan rutinitas membuat resolusi tahunan ternyata cukup mampu membuat saya berjalan dengan lebih leluasa. Bergerak dengan lebih cepat. Dan melihat dengan lebih detail. Yang paling penting buat saya adalah melakukan sesuatu dengan tanpa tuntutan akan lebih menyenangkan. Jika beban itu bisa dibuang kenapa kita harus memaksakan diri memikulnya sambil berjalan ratusan kilometer. Selamat datang tahun 2013. Selamat datang kehidupan baru. Selamat datang cerita-cerita menyenangkan bababk seterusnya.

Selamat Tahun Baru 2013
Selamat memasuki tahun yang penuh dengan kabaikan dan mengalami progresifitas penuh dalam hidup. 

25 October 2012

SOMETHING BETTER

Favim.com-25535 Dulu kita pernah duduk, sepakat bahwa perjalanan ini harus berhenti pada satu tujuan. Semua berjalan normal. Semua baik-baik saja. Kita melakukan banyak hal yang tidak biasa. Kamu dan saya merupakan team tangguh yang sulit dipisahkan. Pengorbanan hanya terlihat sebagai bagian kecil dari perjuangan besar yang sedang kita hadapi. Berperang bersama melawan apapun yang mampu menghadang. Saling menjaga satu sama lain. Saling menguatkan kelemahan dan sisi kurang satu sama lain. Menyempurnakan ruang kosong, mengisinya dengan sesuatu yang sesuai dengan porsi kebutuhannya. Semua itu membuat kita terlihat berbeda di mata orang. Mereka bahkan iri dengan apa yang kita miliki. Mereka menginginkan salah satunya namun tidak semudah itu. Kita terlalu kuat. Kita terlalu tangguh untuk dipisahkan.

Berjalan setiap waktu dengan kesederhanaan dan keluguan yang kita punya. Mengandalkan hati nurani untuk berbicara lebih, mengurangi porsi logika dalam menerima hal-hal baru. Bahkan hal yang tidak kita mengerti sebelumnya. Kita terlahir dan ada tidak untuk mengerti baru mengiyakan. Tapi untuk megiyakan, menghidupi dan melakukan, pengertian itu akan datang dengan sendirinya. Membuang jauh-jauh prasangka apapun itu bentuknya yang berusaha membuat blok tersendiri di celah yang belum kita mengerti. Kita hanya tersenyum malah mampu menjulurkan lidah, menganggap semua itu hanya lelucon. Menyederhanakan batin dan isi kepala. Tidak ada yang terlalu berat, semua kita jalani. Bicara harga yang harus kita bayar? Semuanya kita berikan. Bahkan yang lebih dari harga yang seharusnya kita bayar.

Waktu itu hidup sangat mudah, semudah bernafas. Ada target, ekspektasi, tujuan, impian yang bagi orang lain merupakan hal berat namun kita membuktikan betapa tidak berartinya semua itu. Kamu yang memulainya, saya yang mengakhirinya. Demikian pula sebaliknya. Kekurangan yang ada pada saya justru kamu lihat sebagai kelebihan. Keseimbangan buat kamu. Sebaliknya sama saja. Ingat, satu kepingan mata uang logam dengan dua sisi yang berbeda. Namun tetap utuh menyatu menjadi bagian yang tidak akan pernah terpisahkan. Dihancurkan berarti menghancurkan keduanya. Dirusak berarti meninggalkan cacat keduanya. Sebegitu eratnya. Sebegitu dekatnya melekat satu sama lain. Percaya satu sama lain. Orang lain boleh berada diantara kita, meumpahkan isi kepalanya sekalipun, kita tetap berdiri untuk mempercayai satu sama lain.

Kamu dan saya. Kita punya ikatan yang kuat. Tapi ternyata itu dulu. Saya sempat lupa atau mungkin lebih tepatnya menyangkal bahwa semua akan bisa kembali seperti semula. Berharap keputusan yang kamu buat hanya bersifat sementara. ''Suatu hari pasti kamu kembali''. Saya menghipnotis diri sendiri dengan sederet mantra itu. Saya membohongi diri sendiri dengan mengatasnamakan kelabilan sikap. Mungkin karena usia muda, mungkin karena kejenuhan, mungkin juga karena krisis pengenalan diri. Awalnya berhasil. Saya mampu menghadapi setiap pertanyaan-pertanyaan yang dunia arahkan padamu. Menghaluskannya sedemikian rupa dan menjadikannya seperti sesuatu yang saya ingin orang beranggapan seperti itu. Berusaha membersihkan otak mereka dari pikiran negatif tentang kamu.

Namun maaf, saya bukan malaikat, hanya manusia biasa yang suatu hari tergelincir juga jika tetap bertahan melawan badai salju. Saya sudah sampai pada titik terendah dan kesadaraan itu membawa pada akhir yang tidak menyenangkan. Berpikir dan berpikir terus menerus, tidak akan baik hasilnya buat saya. Berusaha dan berusaha lebih keras lagi menghancurkan batu hanya dengan mengandalkan tangan, merupakan tindakan bodoh bukan. Lantas hari ini saya memutuskan untuk tidak ingin melihat ke arahmu lagi. Perjalanan yang pernah kita sepekati dulu tetap menjadi pilihan saya. Sampai kapanpun. Kaki saya terus berjalan kesana. Mata saya terus memandang ke tujuan itu. Saya juga membutuhkan hati untuk melengkapi perjalanan saya. Untuk itulah keputusan ini saya buat. Untuk itulah saya lebih baik melepaskan saja.

Bayangkan dan cobalah pahami ini.

Saya tidak ingin berpikir bahwa jalan yang kamu pilih saat ini adalah jalan yang salah. Saya juga tidak ingin pernah mengatakan bahwa tujuan akhir yang seharusnya kamu pilih adalah yang sama seperti pilihan saya. Ini bukan tentang kamu dan keputusanmu. Ini murni tentang saya. Tentang saya yang tidak mampu untuk terus diam dan berdiri tanpa bisa melakukan apapun. Tentang saya yang lebih baik tidak tahu apapun yang terjadi dalam hidupmu. Tentang saya yang tidak ingin menghakimi keputusanmu. Tentang saya yang tidak perlu tahu lagi dengan semua sepak terjangmu. Tentang saya yang lebih ingin fokus dengan pilihan ini. Kamu tahu apa yang tidak pernah berubah dari saya. Cobalah untuk memahami itu! Keputusan ini telah melewati perjalanan yang sangat panjang. Dan berakhir pada kesimpulan yang lebih sehat untuk kita. Something better comes along.

Pictrue From: www.favim.com

06 October 2012

BELAJAR DENGAN CINTA

languages Saya mulai menyukai beberapa bahasa asing yang sangat tidak familiar di telinga belakangan ini. Rasanya sangat dekat & sangat berbeda. Walaupun tidak mengerti artinya sama sekali namun tetap itu meninggalkan kesan dalam. Nyaman rasanya bila pergi ke suatu tempat dan bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat semudah membalikkan telapak tangan. Seperti yang dilakukan pacar saya, dia menguasai 5 bahasa asing berbeda. Mendengarnya bicara dengan lancar dalam bahasa-bahasa itu membuat keinginan terdalam saya muncul seketika. Dulu, dulu sekali saya pernah membayangkan hidup dengan lidah internasional yang flexible. Bisa pergi kemanapun tanpa perlu memikirkan keterbatasan bahasa dan tersesat. Jika kamu mampu berbicara dalam bahasa manusia apapun, apakah kamu akan khawatir tersesat di belahan dunia terjauh sekalipun?

Hari ini saya menikmati pembicaraan pacar saya dengan beberapa teman dari beberapa negara. Kagum dan sedikit rasa iri, tentu saja. Bagaimana dia mampu tetap fokus pada topik pembahasan dengan otak terbagi dalam 5 bahasa berbeda. Kemudian saya mulai mencari referensi di internet tentang bahasa. Menarik, apa yang dapat dilakukan otak manusia terhadap bahasa. Bahkan sejak masa bayinya sekalipun. Coba lihat kehidupan anak-anak, bukankah mereka lebih mudah beradaptasi di sutau negara baru ,dengan bahasa yang belum mereka kuasai, dibandingkan dengan orang dewasa. Kemudian tiba-tiba saja gambaran besar tentang apa yang saya inginkan dalam hidup mulai terbentuk. Walaupun masih berupa kepingan-kepingan puzzle, tetap mampu membawa keinginan itu mendominasi seluruh keberadaan saya.

Hal yang selama ini saya kira telah membeku dan mati, muncul dengan segarnya begitu saja. Tidak ada salahnya mulai mempercayai mimpi kita sekali lagi, sekalipun hidup yang kita jalani saat ini berbanding terbalik dari mimpi tersebut. Betul rasanya bahwa untuk dapat melakukan sesuatu kita perlu menemukan motivatornya terlebih dulu. Paling tidak sebagai dasar untuk melangkah dan selalu mengarahkan kaki pada tujuan akhirnya. Memaksa diri sendiri dengan keras agar bisa berbicara dalam bahasa asing adalah hal yang salah. Tapi ketika saya mulai menyadari bahwa saya menyukai dan mencintai bahasa-bahasa tersebut, meskipun tidak mengerti artinya sama sekali, barulah dengan sangat mudahnya itu masuk ke otak saya. Cinta adalah awal yang baik untuk berhasil, bukan. Mencintai apa yang saya rencanakan. Mencintai apa yang sedang saya kerjakan, ternyata mampu membuka sekat yang selama ini saya paksakan ke dalam otak ini. Sekarang, saya melihat kemajuan demi kemajuan bergerak lebih pasti.

"Jangan memaksa diri sendiri untuk berhasil tapi belajarlah dari mencintainya, maka kita akan mendapatkan hasil yang melebihi dari apa yang mampu kita bayangkan".

PERMEN PENGGANTI RUPIAH

Cuma di Tanjungpinang nih ketika belanja di supermarket, swalayan atau mini market uang receh sebagai kembalian berbentuk permen. Dan yang lebih mencengangkan lagi hal ini malah seperti tren di kota ini. Coba bayangkan jika uang kembalian saya delapan ratus rupiah dan semuanya dikembalikan dalam bentuk permen. Meradanglah saya. Sejak kapan mata uang Indonesia berubah jadi mentos, Wuzz, vitacimin, vitamin C dan entah apa lagi. Dan hal ini dilakukan dengan sadar alias sebenarnya ada tuh uang receh dilaci si kasir tapi berhubung karena konsumen tidak protes maka senanglah kasir. Mau tau kenapa?

Di Supermarket besar seperti di jalan Ir. Sutami ityu para kasir membentuk semacam koperasi. Jangan bayangkan koperasi yang satu ini semacam koperasi simpan pinjam atau sejenisnya. Koperasi hanya nama saja. Pelaksanaannya justru seperti bank bagi hasil. Setiap bulannya jika koperasi untung maka keuntungan itu akan dibagi rata untuk semua anggota, ya kasir-kasir itu tadi. Darimana sumber keuntungan itu? Permen. Hah? Iya permen yang konsumen ambil sebagai ganti uang kembalian yang jika dikumpulkan nih mungkin dalam satu tahun bisa buat belanja bulanan satu bulan lagi kali. Gak percaya. Hitung saja sendiri.

Sementara di Swalayan malah lebih parah. Coba deh sekali-kali belanja di swalayan yang terletak tidak jauh dari pamedan itu. Saya jamin kamu jantungan. Ya itu tadi delapan atau sembilan ratus rupiah uang kembalian konsumen akan berubah bentuk jadi lima atau enam permen, beda rasa pula. Atau jika mau ditukar dari rasa jeruk ke rasa anggur juga boleh. Cccckkkk, bahkan uang kembalian pun by request. Coba saja menolak. Khusus di swalayan ini, muka kasir akan berubah super duper jutek sambil bilang ‘gak ada koin’ dengan nada suara ngajak berantem. Gak ada koin? Alasan klise. Masa beberapa kali belanja disitu jawabannya gak ada koin melulu.

Saya kok jadi merasa dibodohi ya sebagai konsumen. Bukankah sebenarnya pengeluaran kita jadi bertambah jika menerima kembalian permen. Sudah keluar uang untuk belanja masih ditambah dengan –secara tidak langsung- membeli permen yang sebenarnya tidak kita butuhkan dan anggarkan. Bukankah kebanyakan permen-permen itu malah kita masukkan di kantong belanjaan dan lupa dikeluarkan -sangking kecilnya- yang akhirnya malah masuk tong sampah bersamaan dengan plastik kresekan. Atau malah kita biarkan di mobil atau kantong celana berhari-hari akhirnya dibuang juga. Kalaupun dimakan berapa banyak sih paling juga 2, sudah cukup.

Alasannya selalu sama: sulit mencari uang receh. Trus ngapain ada bank? “Ya gitu deh mbak tukar uang receh di bank juga susah, selalunya gak ada”. Sudah tau susah kenapa gak dibulatkan saja nominalnya ke pecahan limaratus rupiah atau seribu gitu. Lebih gampangkan. Saya malah jadi berpikir sebenarnya konsumen pun bisa kok membodohi tempat-tempat perbelanjaan yang mem-permen-kan uang receh itu. Salah satunya konsumen membayar dengan kartu kredit atau kartu debit. Toh harga yang kita bayarkan sama persis dengan harga yang tertera di komputer kasir. Jadi konsumen dan produsen pun sama-sama untung.

Konsumen untung dengan membayar sesuai harga belanjaan sementara produsen untung dari setiap barang yang dibeli konsumen. Tapi kalaupun harus membayar dengan uang tunai jalan satu-satunya ya menolak permen sebagai uang kembalian. Saya selalu melakukan ini. Dan berhasil, ternyata setelah saya menolak kasir dengan sigap mengeluarkan uang recehan. Iya dong itu kan hak saya sebagai konsumen. Coba perhatikan di Singapura dan Malaysia, yang dekat saja dulu. Apa pernah uang kembalian dalam bentuk permen? Tempat perbelanjaan disana selalu menyediakan uang bahkan sampai pecahan terkecil satu ringgit atau satu Sin dollar. Ya kan.

Konsumen pun bisa cerdas. Banyak cara pembayaran yang ditawarkan bank atau lembaga-lembaga keuangan lainnya yang justru pada akhirnya bisa dijadikan solusi demi menghindari ‘kenakalan’ kasir-kasir tempat perbelanjaan. Sebagai konsumen kritis itu penting. Coba saja jika semua warga Tanjungpinang mau dengan tegas menolak permen sebagai uang kembalian saya rasa kita akan mulai melihat lagi uang-uang receh seratus dan lima ratus rupiah di dompet. Atau bahkan uang receh duapuluh lima rupiah. Jadi ingat kakak saya punya koleksi sekaleng uang koin duapuluh lima rupiah. Dulu uang ini sangat mudah ditemui. Sekarang? Uhhhh, entahlah.

04 October 2012

LIFE MUST GO ON

Walpap (2004) Menegadahkan kepala, memandang langit berusaha menemukan bentuk-bentuk awan. Biasanya ketika alam sedang bersahabat seperti ini, saya bisa menikmati lelucon alam. begitu banyak bentuk awan yang mampu membuat saya tersenyum. Cinta saya pada alam telah ada sejak lama, sejak saya kecil. Duduk berjam-jam ditengah lapangan luas hanya untuk menegadahkan kepala ke langit. Bersantai di hamparan batu granit, berbaring santai, menyilangkan kedua tangan di belakang kepala, menyipitkan mata sambil terkadang bersiul pelan demi memandang langit.

Saya tumbuh dengan teman yang terbatas. Masa kecil saya tidak sebaik dan seindah anak-anak lainnya. Tidak seberuntung mereka. Saya tumbuh di lingkungan yang kurang menyenangkan, secara emosional dan nyata. Beberapa kejadian bahkan mampu meninggalkan 'jejak' yang cukup dalam. Tanpa peringatan sebelumnya alih-alih saya ditinggalkan, dan tanpa kata-kata pengantar tahu-tahu datang kembali. Tidak pernah memperdengarkan kata maaf atau penyesalan. Tahu-tahu ada dan memaksa saya untuk menerima lalu melupakan semuanya. Menuntut saya menganggapnya tidak pernah terjadi. Tanpa penjelasan apapun.

Pengalaman kemudian mempertemukan saya pada langit, awan dan alam. Duduk berlama-lama memandangi awan. Membuat bentuk-bentuk imaginatif, ternyata mampu membuat saya berhasil menciptakan hidup yang lebih berwarna. Paling tidak hidup saya tidak hanya melulu sedih, kehilangan, tekanan dan kosong. Jika yang lain tidak bisa tertawa bersama, maka saya akan membuat diri sendiri menertawakan alam. Tidak! Saya tidak pernah berpikir bahwa itu gila. Saya hanya sedang mencari bentuk lain dari kebahagian. Bentuk lain dari sesuatu yang bisa meninggalkan jejak warna dalam hidup saya.

Sejak kecil saya selalu berpikir praktis "Jika orang-orang terdekat saya tidak mampu menghadirkan senyum kebahagian, itu bukan berarti saya tidak bisa menciptakannya kan". Menyesal? Dulu pernah ada penyesalan dan kemarahan akan masa kecil saya. Membentuk karakter keras dan kepribadian yang agak berbeda. Setiap pilihan yang saya buat seakan-akan hanya melulu pemberontakan. Tidak perduli masalah dasar yang memicunya ujung-ujungnya selalu terkait erat dengan pembangkangan. Pembuktian bahwa saya mampu melakukan segala hal dengan hanya mengandalkan diri sendiri. Tidak butuh bantuan, itu tabu buat saya.

Namun ketika beranjak dewasa, dengan begitu banyak pertimbangan dan pemikiran-pemikiran sadar. Saya memilih untuk berdamai dengan semua 'sampah' itu. Tidak penting seberapa buruk dan parahnya sekalipun masa lalu saya, memendam itu sama saja dengan 'menghentikan' hidup saya sendiri. Pelan-pelan membunuh diri sendiri. Saya ingin terus berjalan maju, seperti awan yang senantiasa bergerak. Melihat lebih banyak hal lagi tanpa dibebani awan-awan hitam bernama masa lalu. Belajar lebih banyak lagi untuk meletakkan makna dalam perjalanan saya. Masa lalu sejelek apapun tidak akan pernah menambah nilai masa sekarang dan masa depan.

Manusia tidak bisa hidup di dua tempat berbeda sekaligus dalam waktu bersamaan. Kaki kanan di masa lalu sementara kaki kiri sibuk menapak di masa depan. Teori yang salah bukan! Sama salahnya dengan selalu mengkristalkan masa lalu seakan-akan kita adalah korban. Percayalah, masa lalu seburuk apapun itu tidak pernah berniat menjadikan kita korban. Dalam hal apapun justru kita lah pemeran utamanya. Kita lah si pahlawan itu. Selama kita bersedia mengibarkan bendera putih, masa lalu akan mampu mengajarkan kita menjadi manusia yang lebih baik.

Pernah dengar ini? Bahwa, "Keputusan kitalah yang pada akhirnya menghindarkan kita dari persimpangan jalan yang rumit". Kenapa harus menderita lebih lama jika saat ini sebenarnya kita bisa bahagia. Kenapa harus menyiksa diri lebih lama jika sebenarnya kebebasan itu bisa dinikmati sekarang. Tidak perlu membiarkan luka itu 'berdarah-darah' terlalu lama. Apakah ada bedanya berdamai sekarang atau nanti? Jelas! Jika luka itu bisa disembuhkan sekarang, kenapa harus menunggu nanti! Sudah pernah dengar belum "Semakin lama kita berdamai dengan diri sendiri semakin kita lupa cara paling sederhana melakukannya".

Beri kesempatan diri sendiri merasa bahagia apa adanya. Hidup itu akan lebih berwarna tanpa 'sampah-sampah' dari masa lalu. Banyak ruang lowong yang nantinya akan bisa diisi dengan cerita yang lebih baik lagi. Cerita yang ketika dikenang justru mampu menarik bibir kita untuk tersenyum. Berbenahlah waktu masih sangat panjang sebelum akhirnya fajar menenggelamkan kita pada kebahagian berikutnya.

LOVE IS YOU

Ur_My_EverythingMencintaimu merupakan sebuah anugerah. Cinta itu ada tidak melihat dari sisi sempurnamu. Dia datang begitu saja ketika pertama kali saya lebih mengenalmu. Berawal dari kesamaa-kesamaan yang pada akhirnya menimbulkan chemistry yang sulit untuk diterima logika. Jangan, jangan menggunakan logika untuk mencerna dan menjelaskannya. Cinta itu tidak pernah muncul dikepala ini, dia hanya menari-nari selalu, dihati, kemudian menjadi candu dijiwa saya. Membuat saya mencintai kamu dengan butanya.

Kekuranganmu lah yang pada akhirnya menyeimbangkan kelebihan saya. Dan kelebihanmu lah yang nyata-nyata menyempurnakan kekurangan saya. Apa yang belum pernah ada sebelumnya, terasa sangat nyata saat ini. Rasa yang belum pernah muncul sebelumnya berlomba-lomba memperlihatkan wujudnya. Emosi yang belum pernah mampir sebelumnya mulai menemukan 'rumahnya'. Mengisinya dengan cerita-cerita yang tidak terbayangkan. Belum pernah ada yang seperti ini.

Kehadiranmu dalam hidup membuat dunia saya menjadi lebih besar. Ada begitu banyak hal biasa yang kemudian jadi lebih indah. Ada begitu banyak kepingan puzzle yang saat ini mulai terpasang pada sisi yang benar, merekat sempurna pada tempatnya. Lubang-lubang berbekas dari kisah lalu itu saat ini telah rata, seakan-akan tidak pernah ada. Tergantikan dengan relief yang lebih indah dengan semburat warna warni, sebagaimana seorang pelukis menorehkan ribuan cahaya berkilau.

Kesabaranmu hadir dalam wujud yang sangat dewasa. Kamu mampu menerjemahkan keinginanmu dengan cara yang tidak egois. Yang pada akhirnya itu menjadi suatu kebutuhan bersama. Memunculkan kesepakatan disana-sini, mempersempit perbedaan, meluruskan apa yang seharusnya. Membuat saya tanpa sadar menginginkan sesuatu yan telah lama terlupakan. Membuka mata saya bahwa berdua denganmu lebih nyaman dari pada berjalan sendirian. Membuat saya sadar bahwa saya menginginkan kamu lebih lagi.

Sentuhanmu membuat saya merasa sangat dihargai dan didengar. Sangat apa adanya. Sangat kamu! Seringkali bahkan saya berpikir bahwa kamu terlalu baik, entah bagaimana jalannya semua itu bisa seimbang pada akhirnya. Sadarkah kamu bahwa saya benar-benar tidak mampu lagi 'berpindah'. Keberadaanmu saat ini menjadi begitu pentingnya bagi saya. Telah tercipta sepetak taman permanen dalam jiwa saya. Semakin hari bunga-bunganya tumbuh semakin mekar, semakin luas. Terlihat semakin indah.

Caramu memandang kehidupan dari sudut pandang yang tidak biasa membentuk pola pikir baru dalam otak saya akan banyak hal. Tidak ada lagi kerumitan. Meringankan kepala saya. Terurai dengan sangat mudahnya. Mudah, mudah sekali! Semudah tersenyum pada orang yang tidak saya kenal. Kamu menawarkan cinta dengan cara yang sederhana, namun entah bagaimana justru itu takaran yang paling sesuai untuk saya. Semuanya terasa mengalir, lebih natural. Lebih jujur.

Terima kasih, kamu yang terbaik yang surga 'pilihkan bagi saya. Tulang rusuk yang selalu saya bawa-bawa selama ini ternyata pas dipasangkan di bagian tubuhmu. Sempurna... :)