21 April 2013
KARTINI DIMATA SAYA
19 April 2013
RASA
06 April 2013
SILENT PLACE
15 January 2013
BLOG & MENULIS
Sejak kecil saya sudah suka membaca. Banyak buku anak-anak khususnya serial petualangan yang menjadi favorit saya. Bukan itu saja majalah anak-anak seperti Bobo, Ananda dan Donald Bebek juga menjadi bacaan rutin saya sebulan sekali. Kesenangan saya membaca tidak disertai dengan kemampuan saya membeli buku. Saya bukan berasal dari keluarga yang senang membaca buku. Orangtua saya contohnya, jarang sekali saya melihat mereka membaca buku. Sekali-kali membaca koran, namun jika koran langganan yang datang setiap harinya, gak selalu rutin dibaca juga ya. Makanya sejak kecil membeli buku bacaan tidak termasuk dalam pengeluaran bulanan mereka. Namun saya tidak kehilangan akal, uang jajanlah yang saya jadikan modal untuk menyewa buku. Yaaaa hanya menyewa, namun itu sudah cukup membahagiakan saya. Tidak masalah walaupun buku yang mampu saya sewa tidak sebanyak yang saya inginkan. Keterbatasan uang jajan. Berapa sih uang jajan anak sekolahan jaman dulu, tidak sebesar uang jajan anak sekolah sekarang ini kan. Yaaa maklumlah saya hidup di jaman yang beda *tsah*. Kios penyewaan buku yang jauh dari rumah dan sekolah memaksa saya berpikir lebih kreaif lagi. Mengumpulkan uang jajan sampai beberapa hari baru saya mampu untuk pergi kesana. Sekali datang saya bisa membawa pulang 5 buku sewaan. Gak cukup sih, namun tidak masalah waktu itu. Kadang 3 hari saya telah selesai membacanya. Untuk mengisi waktu luang lain biasanya saya mengulang sampai 2 kali baca per bukunya. Tragis sih, tapi waktu itu, kegiatan ini sangat meyenangkan.
Berawal dari kegiatan membaca itulah saya mulai berimajinasi. Memikirkan jika si tokoh utama dalam cerita-cerita yang saya baca itu menjalani adegan yang bertolak belakang dengan yang ada dibuku, jadinya seperti apa. Mulai membayangkan sampai otak saya penuh sendiri. Menulislah yang akhirnya menjadi pelampisan. Menjadi tong sampah otak saya. Semua hal saya tuliskan. Bukan dengan alur yang benar waktu itu, dengan apa adanya. Bukan juga dengan bahasa yang sempurna, lebih kepada bahasa anak-anak yang hanya ingin mengeluarkan sebagian isi kepalanya. Sejak itulah saya menambahkan satu hal baru dalam daftar hobby saya: menulis. Ketika pelajaran bahasa Indonesia disekolah buehhhh itu adalah saat yang saya nantikan. Bahasa Indonesia, pelajaran yang tidak jauh-jauh dari mengarang bukan. Dan saya paling suka itu. Kadang sangking banyaknya sampe-sampe saya bingung saat harus mengedit dan memasukkannya hanya dalam beberapa paragraf sesuai permintaan bu guru. Dan itu membuat saya sebel sesebel-sebelnya. Bayangkan pada hal yang paling saya sukai pun saya harus terbatasi oleh aturan. Sudahlah kita lupakan saja. Mari kita lanjutkan.
Seiring dengan bertambahnya usia *apalagi-inihhh*, saya semakin mencintai dunia tulis menulis. Namun kemudian tidak menjadikan itu sebagai cita-cita. Hanya sebatas mencintai, suka pada sesuatu. Menulis telah menjadi bagian hidup saya, memberikan warna tersendiri. Memberikan kebahagian dan kelegaan tersendiri. Selalu saja otak saya penuh dengan segala macam hal yang saya lihat dan rasa. Menuliskannya merupakan salah satu cara ajaib melapangkannya kembali. Memberi ruang kosong untuk beristirahat. Seringkali lalu lintas otak saya sangat padat sehingga saya mengalami insomnia dan gelisah. Semua itu akan hilang dengan sendirinya jika saya telah menuliskannya. Lega rasanya. Kemudian seseorang menyarankan saya untuk membagikan tulisan-tulisan itu dengan dunia maya. Well, meracuni lebih tepatnya. "Mungkin orang lain akan terbantu dengan tulisanmu", katanya.
Perbincangan dan tukar menukar ide pun berlangsung cukup lama. Sampai saya membaca tulisan teman yang meracuni pikiran saya itu di blognya. Iyaaa sodara-sodara, sementara saya berdiskusi panjang lebar berhari-hari pula dengannya, dia telah membuat blognya sendiri. Wow, ternyata dampaknya besar sekali buat orang lain. Saya pun memutuskan. Itulah hari dimana saya memberanikan diri memulainya. Memulai blog yang didalamnya tidak melulu berupa kisah nyata. Lebih sering melulu tentang apa yang saya pikirkan. Inspirasinya banyak, bisa dari buku yang saya baca, film yang saya tonton atau kejadian-kejadian hidup di depan mata. Kadang ya, hal paling sederhana buat orang lain menjadi hal besar jika sudah sampai pada otak kita. Hal-hal sehari-hari yang terjadi disekitar kita seringkali menjadi motor dari tulisan saya. Namanya juga belajar apapun bisa jadi inspirasi kan. Kemudian saya menjadi sangat rajin menulis, ditambah lagi saat ini teknologi memberikan saya banyak alternatif terbaik. Walaupun tidak semua hasil tulisan itu saya bagikan di dunia maya. Mulailah saya dengan kegiatan tambahan: menulis blog. Menyenangkan ternyata, ada semacam kepuasan batin yang saya rasakan setiap selesai upload satu entry. Blog membuat saya memiliki tanggung jawab lebih. Dibaca orang lain atau tidak rasanya itu bukan hal utama. Bisa membahagiakan diri sendiri dengan cara yang paling sederhana, itu yang lebih penting.
Well, buat kalian yang suka menulis hal remeh temeh seperti saya, blog-kan saja tulisan-tulisan itu. Siapa tahu suatu hari nanti kalian akan menemukan jalan keluar entah apapun itu. Yaaaa kita gak akan pernah tahu kan jika diluar sana ternyata ada begitu banyak orang yang membutuhkan bacaaan ringan. Atau ternyata ada orang-orang diluar sana yang tiba-tiba saja terinspirasi dari kalimat-kalimat yang kita tulis. Sudahlah jangan berpikir terlalu lama. Jika ingin menulis, menulis lah. Tidak ada hal yang tidak bermanfaat jika dimulai dengan sesuatu yang tulus dan benar. Selamat Menulis!
09 January 2013
HAPPY NEW YEAR
25 October 2012
SOMETHING BETTER
Dulu kita pernah duduk, sepakat bahwa perjalanan ini harus berhenti pada satu tujuan. Semua berjalan normal. Semua baik-baik saja. Kita melakukan banyak hal yang tidak biasa. Kamu dan saya merupakan team tangguh yang sulit dipisahkan. Pengorbanan hanya terlihat sebagai bagian kecil dari perjuangan besar yang sedang kita hadapi. Berperang bersama melawan apapun yang mampu menghadang. Saling menjaga satu sama lain. Saling menguatkan kelemahan dan sisi kurang satu sama lain. Menyempurnakan ruang kosong, mengisinya dengan sesuatu yang sesuai dengan porsi kebutuhannya. Semua itu membuat kita terlihat berbeda di mata orang. Mereka bahkan iri dengan apa yang kita miliki. Mereka menginginkan salah satunya namun tidak semudah itu. Kita terlalu kuat. Kita terlalu tangguh untuk dipisahkan.
Berjalan setiap waktu dengan kesederhanaan dan keluguan yang kita punya. Mengandalkan hati nurani untuk berbicara lebih, mengurangi porsi logika dalam menerima hal-hal baru. Bahkan hal yang tidak kita mengerti sebelumnya. Kita terlahir dan ada tidak untuk mengerti baru mengiyakan. Tapi untuk megiyakan, menghidupi dan melakukan, pengertian itu akan datang dengan sendirinya. Membuang jauh-jauh prasangka apapun itu bentuknya yang berusaha membuat blok tersendiri di celah yang belum kita mengerti. Kita hanya tersenyum malah mampu menjulurkan lidah, menganggap semua itu hanya lelucon. Menyederhanakan batin dan isi kepala. Tidak ada yang terlalu berat, semua kita jalani. Bicara harga yang harus kita bayar? Semuanya kita berikan. Bahkan yang lebih dari harga yang seharusnya kita bayar.
Waktu itu hidup sangat mudah, semudah bernafas. Ada target, ekspektasi, tujuan, impian yang bagi orang lain merupakan hal berat namun kita membuktikan betapa tidak berartinya semua itu. Kamu yang memulainya, saya yang mengakhirinya. Demikian pula sebaliknya. Kekurangan yang ada pada saya justru kamu lihat sebagai kelebihan. Keseimbangan buat kamu. Sebaliknya sama saja. Ingat, satu kepingan mata uang logam dengan dua sisi yang berbeda. Namun tetap utuh menyatu menjadi bagian yang tidak akan pernah terpisahkan. Dihancurkan berarti menghancurkan keduanya. Dirusak berarti meninggalkan cacat keduanya. Sebegitu eratnya. Sebegitu dekatnya melekat satu sama lain. Percaya satu sama lain. Orang lain boleh berada diantara kita, meumpahkan isi kepalanya sekalipun, kita tetap berdiri untuk mempercayai satu sama lain.
Kamu dan saya. Kita punya ikatan yang kuat. Tapi ternyata itu dulu. Saya sempat lupa atau mungkin lebih tepatnya menyangkal bahwa semua akan bisa kembali seperti semula. Berharap keputusan yang kamu buat hanya bersifat sementara. ''Suatu hari pasti kamu kembali''. Saya menghipnotis diri sendiri dengan sederet mantra itu. Saya membohongi diri sendiri dengan mengatasnamakan kelabilan sikap. Mungkin karena usia muda, mungkin karena kejenuhan, mungkin juga karena krisis pengenalan diri. Awalnya berhasil. Saya mampu menghadapi setiap pertanyaan-pertanyaan yang dunia arahkan padamu. Menghaluskannya sedemikian rupa dan menjadikannya seperti sesuatu yang saya ingin orang beranggapan seperti itu. Berusaha membersihkan otak mereka dari pikiran negatif tentang kamu.
Namun maaf, saya bukan malaikat, hanya manusia biasa yang suatu hari tergelincir juga jika tetap bertahan melawan badai salju. Saya sudah sampai pada titik terendah dan kesadaraan itu membawa pada akhir yang tidak menyenangkan. Berpikir dan berpikir terus menerus, tidak akan baik hasilnya buat saya. Berusaha dan berusaha lebih keras lagi menghancurkan batu hanya dengan mengandalkan tangan, merupakan tindakan bodoh bukan. Lantas hari ini saya memutuskan untuk tidak ingin melihat ke arahmu lagi. Perjalanan yang pernah kita sepekati dulu tetap menjadi pilihan saya. Sampai kapanpun. Kaki saya terus berjalan kesana. Mata saya terus memandang ke tujuan itu. Saya juga membutuhkan hati untuk melengkapi perjalanan saya. Untuk itulah keputusan ini saya buat. Untuk itulah saya lebih baik melepaskan saja.
Bayangkan dan cobalah pahami ini.
Saya tidak ingin berpikir bahwa jalan yang kamu pilih saat ini adalah jalan yang salah. Saya juga tidak ingin pernah mengatakan bahwa tujuan akhir yang seharusnya kamu pilih adalah yang sama seperti pilihan saya. Ini bukan tentang kamu dan keputusanmu. Ini murni tentang saya. Tentang saya yang tidak mampu untuk terus diam dan berdiri tanpa bisa melakukan apapun. Tentang saya yang lebih baik tidak tahu apapun yang terjadi dalam hidupmu. Tentang saya yang tidak ingin menghakimi keputusanmu. Tentang saya yang tidak perlu tahu lagi dengan semua sepak terjangmu. Tentang saya yang lebih ingin fokus dengan pilihan ini. Kamu tahu apa yang tidak pernah berubah dari saya. Cobalah untuk memahami itu! Keputusan ini telah melewati perjalanan yang sangat panjang. Dan berakhir pada kesimpulan yang lebih sehat untuk kita. Something better comes along.
Pictrue From: www.favim.com
06 October 2012
BELAJAR DENGAN CINTA
Saya mulai menyukai beberapa bahasa asing yang sangat tidak familiar di telinga belakangan ini. Rasanya sangat dekat & sangat berbeda. Walaupun tidak mengerti artinya sama sekali namun tetap itu meninggalkan kesan dalam. Nyaman rasanya bila pergi ke suatu tempat dan bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat semudah membalikkan telapak tangan. Seperti yang dilakukan pacar saya, dia menguasai 5 bahasa asing berbeda. Mendengarnya bicara dengan lancar dalam bahasa-bahasa itu membuat keinginan terdalam saya muncul seketika. Dulu, dulu sekali saya pernah membayangkan hidup dengan lidah internasional yang flexible. Bisa pergi kemanapun tanpa perlu memikirkan keterbatasan bahasa dan tersesat. Jika kamu mampu berbicara dalam bahasa manusia apapun, apakah kamu akan khawatir tersesat di belahan dunia terjauh sekalipun?
Hari ini saya menikmati pembicaraan pacar saya dengan beberapa teman dari beberapa negara. Kagum dan sedikit rasa iri, tentu saja. Bagaimana dia mampu tetap fokus pada topik pembahasan dengan otak terbagi dalam 5 bahasa berbeda. Kemudian saya mulai mencari referensi di internet tentang bahasa. Menarik, apa yang dapat dilakukan otak manusia terhadap bahasa. Bahkan sejak masa bayinya sekalipun. Coba lihat kehidupan anak-anak, bukankah mereka lebih mudah beradaptasi di sutau negara baru ,dengan bahasa yang belum mereka kuasai, dibandingkan dengan orang dewasa. Kemudian tiba-tiba saja gambaran besar tentang apa yang saya inginkan dalam hidup mulai terbentuk. Walaupun masih berupa kepingan-kepingan puzzle, tetap mampu membawa keinginan itu mendominasi seluruh keberadaan saya.
Hal yang selama ini saya kira telah membeku dan mati, muncul dengan segarnya begitu saja. Tidak ada salahnya mulai mempercayai mimpi kita sekali lagi, sekalipun hidup yang kita jalani saat ini berbanding terbalik dari mimpi tersebut. Betul rasanya bahwa untuk dapat melakukan sesuatu kita perlu menemukan motivatornya terlebih dulu. Paling tidak sebagai dasar untuk melangkah dan selalu mengarahkan kaki pada tujuan akhirnya. Memaksa diri sendiri dengan keras agar bisa berbicara dalam bahasa asing adalah hal yang salah. Tapi ketika saya mulai menyadari bahwa saya menyukai dan mencintai bahasa-bahasa tersebut, meskipun tidak mengerti artinya sama sekali, barulah dengan sangat mudahnya itu masuk ke otak saya. Cinta adalah awal yang baik untuk berhasil, bukan. Mencintai apa yang saya rencanakan. Mencintai apa yang sedang saya kerjakan, ternyata mampu membuka sekat yang selama ini saya paksakan ke dalam otak ini. Sekarang, saya melihat kemajuan demi kemajuan bergerak lebih pasti.
"Jangan memaksa diri sendiri untuk berhasil tapi belajarlah dari mencintainya, maka kita akan mendapatkan hasil yang melebihi dari apa yang mampu kita bayangkan".
PERMEN PENGGANTI RUPIAH
04 October 2012
LIFE MUST GO ON
Menegadahkan kepala, memandang langit berusaha menemukan bentuk-bentuk awan. Biasanya ketika alam sedang bersahabat seperti ini, saya bisa menikmati lelucon alam. begitu banyak bentuk awan yang mampu membuat saya tersenyum. Cinta saya pada alam telah ada sejak lama, sejak saya kecil. Duduk berjam-jam ditengah lapangan luas hanya untuk menegadahkan kepala ke langit. Bersantai di hamparan batu granit, berbaring santai, menyilangkan kedua tangan di belakang kepala, menyipitkan mata sambil terkadang bersiul pelan demi memandang langit.
Saya tumbuh dengan teman yang terbatas. Masa kecil saya tidak sebaik dan seindah anak-anak lainnya. Tidak seberuntung mereka. Saya tumbuh di lingkungan yang kurang menyenangkan, secara emosional dan nyata. Beberapa kejadian bahkan mampu meninggalkan 'jejak' yang cukup dalam. Tanpa peringatan sebelumnya alih-alih saya ditinggalkan, dan tanpa kata-kata pengantar tahu-tahu datang kembali. Tidak pernah memperdengarkan kata maaf atau penyesalan. Tahu-tahu ada dan memaksa saya untuk menerima lalu melupakan semuanya. Menuntut saya menganggapnya tidak pernah terjadi. Tanpa penjelasan apapun.
Pengalaman kemudian mempertemukan saya pada langit, awan dan alam. Duduk berlama-lama memandangi awan. Membuat bentuk-bentuk imaginatif, ternyata mampu membuat saya berhasil menciptakan hidup yang lebih berwarna. Paling tidak hidup saya tidak hanya melulu sedih, kehilangan, tekanan dan kosong. Jika yang lain tidak bisa tertawa bersama, maka saya akan membuat diri sendiri menertawakan alam. Tidak! Saya tidak pernah berpikir bahwa itu gila. Saya hanya sedang mencari bentuk lain dari kebahagian. Bentuk lain dari sesuatu yang bisa meninggalkan jejak warna dalam hidup saya.
Sejak kecil saya selalu berpikir praktis "Jika orang-orang terdekat saya tidak mampu menghadirkan senyum kebahagian, itu bukan berarti saya tidak bisa menciptakannya kan". Menyesal? Dulu pernah ada penyesalan dan kemarahan akan masa kecil saya. Membentuk karakter keras dan kepribadian yang agak berbeda. Setiap pilihan yang saya buat seakan-akan hanya melulu pemberontakan. Tidak perduli masalah dasar yang memicunya ujung-ujungnya selalu terkait erat dengan pembangkangan. Pembuktian bahwa saya mampu melakukan segala hal dengan hanya mengandalkan diri sendiri. Tidak butuh bantuan, itu tabu buat saya.
Namun ketika beranjak dewasa, dengan begitu banyak pertimbangan dan pemikiran-pemikiran sadar. Saya memilih untuk berdamai dengan semua 'sampah' itu. Tidak penting seberapa buruk dan parahnya sekalipun masa lalu saya, memendam itu sama saja dengan 'menghentikan' hidup saya sendiri. Pelan-pelan membunuh diri sendiri. Saya ingin terus berjalan maju, seperti awan yang senantiasa bergerak. Melihat lebih banyak hal lagi tanpa dibebani awan-awan hitam bernama masa lalu. Belajar lebih banyak lagi untuk meletakkan makna dalam perjalanan saya. Masa lalu sejelek apapun tidak akan pernah menambah nilai masa sekarang dan masa depan.
Manusia tidak bisa hidup di dua tempat berbeda sekaligus dalam waktu bersamaan. Kaki kanan di masa lalu sementara kaki kiri sibuk menapak di masa depan. Teori yang salah bukan! Sama salahnya dengan selalu mengkristalkan masa lalu seakan-akan kita adalah korban. Percayalah, masa lalu seburuk apapun itu tidak pernah berniat menjadikan kita korban. Dalam hal apapun justru kita lah pemeran utamanya. Kita lah si pahlawan itu. Selama kita bersedia mengibarkan bendera putih, masa lalu akan mampu mengajarkan kita menjadi manusia yang lebih baik.
Pernah dengar ini? Bahwa, "Keputusan kitalah yang pada akhirnya menghindarkan kita dari persimpangan jalan yang rumit". Kenapa harus menderita lebih lama jika saat ini sebenarnya kita bisa bahagia. Kenapa harus menyiksa diri lebih lama jika sebenarnya kebebasan itu bisa dinikmati sekarang. Tidak perlu membiarkan luka itu 'berdarah-darah' terlalu lama. Apakah ada bedanya berdamai sekarang atau nanti? Jelas! Jika luka itu bisa disembuhkan sekarang, kenapa harus menunggu nanti! Sudah pernah dengar belum "Semakin lama kita berdamai dengan diri sendiri semakin kita lupa cara paling sederhana melakukannya".
Beri kesempatan diri sendiri merasa bahagia apa adanya. Hidup itu akan lebih berwarna tanpa 'sampah-sampah' dari masa lalu. Banyak ruang lowong yang nantinya akan bisa diisi dengan cerita yang lebih baik lagi. Cerita yang ketika dikenang justru mampu menarik bibir kita untuk tersenyum. Berbenahlah waktu masih sangat panjang sebelum akhirnya fajar menenggelamkan kita pada kebahagian berikutnya.
LOVE IS YOU
Mencintaimu merupakan sebuah anugerah. Cinta itu ada tidak melihat dari sisi sempurnamu. Dia datang begitu saja ketika pertama kali saya lebih mengenalmu. Berawal dari kesamaa-kesamaan yang pada akhirnya menimbulkan chemistry yang sulit untuk diterima logika. Jangan, jangan menggunakan logika untuk mencerna dan menjelaskannya. Cinta itu tidak pernah muncul dikepala ini, dia hanya menari-nari selalu, dihati, kemudian menjadi candu dijiwa saya. Membuat saya mencintai kamu dengan butanya.
Kekuranganmu lah yang pada akhirnya menyeimbangkan kelebihan saya. Dan kelebihanmu lah yang nyata-nyata menyempurnakan kekurangan saya. Apa yang belum pernah ada sebelumnya, terasa sangat nyata saat ini. Rasa yang belum pernah muncul sebelumnya berlomba-lomba memperlihatkan wujudnya. Emosi yang belum pernah mampir sebelumnya mulai menemukan 'rumahnya'. Mengisinya dengan cerita-cerita yang tidak terbayangkan. Belum pernah ada yang seperti ini.
Kehadiranmu dalam hidup membuat dunia saya menjadi lebih besar. Ada begitu banyak hal biasa yang kemudian jadi lebih indah. Ada begitu banyak kepingan puzzle yang saat ini mulai terpasang pada sisi yang benar, merekat sempurna pada tempatnya. Lubang-lubang berbekas dari kisah lalu itu saat ini telah rata, seakan-akan tidak pernah ada. Tergantikan dengan relief yang lebih indah dengan semburat warna warni, sebagaimana seorang pelukis menorehkan ribuan cahaya berkilau.
Kesabaranmu hadir dalam wujud yang sangat dewasa. Kamu mampu menerjemahkan keinginanmu dengan cara yang tidak egois. Yang pada akhirnya itu menjadi suatu kebutuhan bersama. Memunculkan kesepakatan disana-sini, mempersempit perbedaan, meluruskan apa yang seharusnya. Membuat saya tanpa sadar menginginkan sesuatu yan telah lama terlupakan. Membuka mata saya bahwa berdua denganmu lebih nyaman dari pada berjalan sendirian. Membuat saya sadar bahwa saya menginginkan kamu lebih lagi.
Sentuhanmu membuat saya merasa sangat dihargai dan didengar. Sangat apa adanya. Sangat kamu! Seringkali bahkan saya berpikir bahwa kamu terlalu baik, entah bagaimana jalannya semua itu bisa seimbang pada akhirnya. Sadarkah kamu bahwa saya benar-benar tidak mampu lagi 'berpindah'. Keberadaanmu saat ini menjadi begitu pentingnya bagi saya. Telah tercipta sepetak taman permanen dalam jiwa saya. Semakin hari bunga-bunganya tumbuh semakin mekar, semakin luas. Terlihat semakin indah.
Caramu memandang kehidupan dari sudut pandang yang tidak biasa membentuk pola pikir baru dalam otak saya akan banyak hal. Tidak ada lagi kerumitan. Meringankan kepala saya. Terurai dengan sangat mudahnya. Mudah, mudah sekali! Semudah tersenyum pada orang yang tidak saya kenal. Kamu menawarkan cinta dengan cara yang sederhana, namun entah bagaimana justru itu takaran yang paling sesuai untuk saya. Semuanya terasa mengalir, lebih natural. Lebih jujur.
Terima kasih, kamu yang terbaik yang surga 'pilihkan bagi saya. Tulang rusuk yang selalu saya bawa-bawa selama ini ternyata pas dipasangkan di bagian tubuhmu. Sempurna... :)


