07 July 2015

BAHAGIA BUKAN EGOIS


Ada masa dimana kita sudah tidak lagi merasa nyaman dengan kondisi & situasi yang ada. Merasa stuck pada satu hal kemudian sulit menemukan jalan keluar. Bahkan hanya mampu berdiam diri disana tanpa bisa menggerakkan kaki sedikitpun.

Ada masa dimana kita sudah tidak lagi ingin melakukan perubahaan apapun, seakan semua perubahaan menjadi satu hal yang membosankan. Setiap hari yang kita inginkan hanya berdiam diri, merenung yang entah apa itu.

Ada masa dimana kenyamanan kita mulai terusik oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Namun entah bagaimana ceritanya itu terjadi & terus memaksa kita untuk memilih. Dan ternyata pilihan terbaik adalah meninggalkan semua itu dalam keadaan menjemukan seperti sekarang.

Ada masa dimana bahkan seakan-akan pikiran kita sendiri mengkhianati keberadaan diri. Mencari namun tidak pernah menemukan seperti yang selama ini kita harapkan. Hidup itu memang tidak selalu berjalan mulus kan, teorinya. Namun ketika prakteknya kita diperhadapkan pada persimpangan jalan seringkali membuat kita bingung harus merespon seperti apa. Kadang kita lupa bahwa hidup yang sedang kita jalani saat ini adalah milik kita. Sehingga dengan mudahnya memberikan akses nasib kepada orang lain. Padahal kita tahu kebahagian kita sangat ditentukan dari pilihan hidup kita. Ada saat dimana kita lebih mendengarkan orang lain dari pada kata hati sendiri. Saat dimana seharusnya kita bahagia namun kita toh masih harus memikirkan orang lain sebelum menentukan pilihan.

Keputusan selalu ada ditangan kita namun seringkali kita menyerahkan takdir kita ditangan orang lain hanya demi melihatnya bahagia. Alasannya tidak ada. Hanya ingin melakukan. Itu saja. Atau hanya karena sebuah nama baik yang perlu dijaga sampai mati. Lambat laun itu membuat kita jenuh dengan semua yang ada. Membuat kita tidak bahagia dan hidup dalam kegelisahan. Membuat kita sulit untuk move on padahal seharusnya perlu. Ketika kita bercerita mengungkapkannya pada orang lain, berharap kejujuran akan membebaskan semua jeratan yang begitu kuat itu, bahkan kata-kata tidak mampu untuk mewakilinya. Seringkali justru kita terlalu sibuk berputar-putar bertanya tentang kebahagiaan orang lain lalu lupa bahwa kita pun berhak untuk bahagia.

Kita terlalu mengutamakan kepentingan orang lain lalu mengabaikan apa yang sebenarnya baik untuk kita jalani. Manusia, selalu melakukan itu. Memberikan yang terbaik untuk orang lain lantas melupakan bahwa ego dalam dirinya pun sesekali perlu dimanjakan. Kita membuang semua cita-cita yang kita punya hanya demi sebuah senyum untuk yang lainnya. Kita menunda semua impian kita hanya untuk menyelaraskan waktu dan membuat semua kesepakatan yang pada akhirnya membuat kita menunda banyak hal. Tidak pernah berpikir untuk berhenti sejenak ketika bersimpangan jalan dengan seseorang atau sesuatu yang sebenarnya adalah kunci pencerahan yang kita cari selama ini. Jika saja waktu itu berhenti & memperhatikan sejenak, saat ini kita tidak akan menyesali apa yang terjadi. Sekian lama kita memendam rasa yang sebenarnya bisa dibayar sepuluh tahun lalu, entah apa itu namanya sampai masih harus menanggungnya hingga saat ini. Kita punya banyak pilihan, jangan pernah menutup diri lagi. Biarkan semuanya mengalir sehingga ketika tidak ada lagi cekungan yang bisa dialiri, kita tahu itulah saatnya menemukan yang selama ini kita tunggu.

Berdiri lah karena kaki kita masih mampu menopang harapan yang ada. Berlari lah untuk mengejar kebahagiaan kita, itu dia ada didepan mata. Namanya kebahagiaan. Berhenti lah berkata bahwa kita akan disebut egois jika hanya memikirkan diri sendiri.

Kamu tahu, sejak lama saya ingin mengatakan ini. Tapi saya tidak punya keberanian masuk dalam hidupmu terlalu jauh & mengobrak-abrik benteng pertahanan yang kamu bangun selama ini. Cukup sudah, saya mengenalmu sejak 21 tahun lalu, ketika kamu masih bersamanya. Namun sampai hari ini kamu masih terus berdiri disana dalam diam. Kamu bahagia dengan yang kamu lakukan saat ini, namun ketika kamu merasakan sukses, kamu tertawa, lalu kamu mulai menyadari bahwa kamu tertawa sendirian ditengah keramaian. Kamu mulai menyadari bahwa ketika kamu sedang bahagia & sukses justru saat itulah kamu membutuhkan seseorang untuk berbagi.

Melarikan diri bukan cara terbaik untuk bersembunyi. Tapi saya tidak berhak menghakimi pilihan hidupmu. Lelaki, saya bercerita tentangmu yang jauh disana. Suatu hari nanti ketika kamu menemukan tulisan ini, kamu tahu, kamulah yang saya maksud. Berbahagialah karena bahagia bukan tindakan egois. 

Picture taken from: http://onemillionwallpapers.com/wallpapers-happiness-people-free-download-samsung-sm-g900a-galaxy-s5-samsung-gt-i9500-galaxy-s-iv/

06 July 2015

OUR SPECIAL NEED


Nahhhhh selesai baca ini: http://www.tanjungpinangpos.co.id/2015/118933/pertengahan-juli-galang-batang-aktif/. Tiba-tiba kepikiran aja yaaaaaa menuangkannya dalam bentuk tulisan. Mari dibaca dibaca, silahkannnnnn……

Sebagai orang awam, saya tidak mengerti banyak soal listrik. Jangankan ngerti listrik, pegang kontak listrik aja sering kali merasa cemas, ragu-ragu & takut. Alasan utamanya sangat wanita sekali, takut kesetrum hehehehe. Yaaa wajarlah lah ya listrik & pernak-perniknya itu bukan mainan kebanyakan perempuan alias wanita tidak ditakdirkan jadi tukang listrik. Well, setuju sajalah toh wanita & listrik seringkali tidak berjodoh. Namun untuk mengetahui kondisi apa yang sebenarnya terjadi di Tanjungpinang dengan seringnya mati lampu, menurut saya wanita pun mampu menjelaskan secara detail. Tidak perlu berjodoh dengan listrik hanya untuk menjelaskan bahwa ada hal yang sebenarnya terlewatkan dari kinerja kerja PLN Tanjungpinang. Entah bagaimana cara kerjanya sehingga supply listrik masih saja mejadi kendala yang sangat menggangu pembangunan & perkembangan kota ini. Coba dibayangkan yaaaa, dibayangkan lho ya, apa yang terjadi jika dihari raya ini supply listrik masih saja byar pret. Lagi terima tamu yang bersilahturahmi ke rumah tiba-tiba listrik padam. Sedang seru-serunya acara malam takbiran tahu-tahu sunyi senyap gara-gara aliran listrik terputus begitu saja.

Penjelasan utama orang nomor satu PLN Tanjungpinang sudah bisa ditebak kan yaaaa: “Maaf kepada seluruh masyarakat Tanjungpinang, mesin baru kami terbakar karena beban pemakaian listrik yang terlalu besar, untuk itu kami mohon agar masyarakat bisa menghemat pemakaian listrik dirumah. Matikanlah lampu-lampu yang memang tidak digunakan. Hemat listrik, maka kota kita akan terang benderang”. Well, kita seringkali dengan mudahnya menyalahkan customer/pelanggan karena menggunakan listrik secara berlebihan. Padahal kita lupa jika saja sosialisasi & kekuatan tim marketing diberdayakan secara maksimal hal seperti “penghematan listik” itu akan dengan sendirinya tertanam dalam pikiran pelanggan. Sosialisasi pernahkah? Mengiklankan penghematan listrik pernahkah? Lalu menuntut kami pelanggan untuk: "Yaaaaa, seharusnya tahu lah, kayak anak kecil aja perlu diingatkan". Tapi memang kenyataannya seperti itu. Kenapa perusahaan-perusahaan besar itu sanggup mengeluarkan dana ratusan juta hanya untuk sebuah iklan televisi, radio & billboard yang hanya ditayangkan paling lama juga 2 menit. Padahal yang diiklankan cuma obat sakit kepala, atau popok bayi. Mudah sih buat saya, karena pelanggan yang notabene masyarakat umum ini perlu selalu diingatkan bahwa dari sekian banyak produk yang ada pilihlah produk kami, karena kami menawarkan sesuatu yang berbeda. Coba perhatikan iklan rokok. Tanpa “pendidikan” mengenai bahaya merokok pun masyarakat sudah cukup hafal luar kepala bahwa merokok itu menyebabkan kerusakan pada tubuh manusia. Organ tubuh yang paling mungkin untuk mengalami kerusakan sangat parah adalah paru-paru. Namun perusahaan rokok toh tetap mencantumkan bahaya rokok pada setiap iklan & kemasan produk mereka. Kenapa? Ituuuu tadi, manusia "menuntut" untuk diberitahu berulang-ulang. Itu hal normal weceeeee, naluriah, terjadi dengan begitu saja. Sadar atau tidak, manusia itu sukaaaaaaa untuk diingatkan. Perhatian katanya, begitulah.

Menyalahkan pelanggan yang tidak bisa menghemat listrik bukan hal yang bijaksana. Karena pelanggan dimana-mana adalah raja. Mereka akan selalu berpikir, kami yang membayar, terserah kami mau digunakan seperti apa. Semakin banyak memakai listrik toh semakin banyak uang yang kami bayarkan setiap bulan, gak masalah, kami bayar kok. Nahhhhh, hal ini bisa disampaikan melalui sosialisasi, akan lebih membangun pemahaman kedua belah pihak, bukannnn. Komunikasikan dong dengan pelanggan apa yang menjadi kendala PLN Tanjungpinang. Saya rasa masalah akan mudah dicarikan solusinya jika saja pihak-pihak yang berkepentingan saling terbuka. Alih-alih sosialisasi, PLN Tanjungpinang aja seringkali sembunyi dibalik semua persoalan yang ada. Banyak hal yang bisa dijadikan ajang sosialisasi, PLN Tanjungpinang pasti punya tim marketing yang cukup mumpuni lahhhhh, yang bisa memikirkan cara jitunya.

Selain itu ada lagi nih yang menjadi beban buat saya, cieeee beban. Belajarlah untuk tidak selalu menyalahkan mesin & teknologi jika terjadi kerusakan. Mesin mannnnn, “Mesin lo kambing-hitamkan untuk masalah yang sebenarnya terletak pada SDM”. Malu lagi man, menyalahkan mesin, cuaca & benda-benda mati itu sebagai penyebab chaos yang terjadi. SDM tuhhhh perlu diupgrade, biar ilmunya bertambah. Nahhhh kalo ilmunya bertambah kan jadi bisa lebih memahami & berteman akrab dengan benda-benda mati itu. Sarana & prasarana pun perlu diperhatikan bukan. Jika meletakkan mesin-mesin itu begitu saja tanpa adanya perlindungan yang memadai, lama-lama rusak juga kan. Biarpun benda mati, tetap bo, diperlakukan secara lebih manusiawi akan membuat benda-benda mati itu seakan-akan punya 'nyawa' untuk bertahan lebih lama. Bangun dong perlindungan buat alat-alat itu, jangan dibiarkan begitu saja. Diletakkan disembarang tempat tanpa adanya perlindungan dari air hujan kek, matahari kek, petir kek, whatever lah. Intinya mesin-mesin itu harus diletakkan ditempat yang seharusnya, dijaga & dimaksimalkan daya kerjanya.

Nah kalo yang satu ini akan menjadi hal ketiga sebagai pelengkap penderita masalah PLN Tanjungpinang hehehehe. “Ayolahhhhh, come on guys, grow up mannnn, we are not kids”, yang jika dijelaskan 2x2 gak tahu jawabannya. “We are an adult, hallllllooooo” and “The most important thing is we’re having brain”. Gak adil rasanya selalu berkata “Jika kebutuhan listrik Tanjungpinang adalah sekian MW, sementara kami hanya punya sekian MW, jadi minus sekian MW, untuk itulah pemadaman listrik terpaksa kami lakukan secara bergilir”….. Dan tanggapan saya adalah “Buekkkkkk, mo muntah dengar penjelasannya”…. Itu bukan tugas kami sebagai pelanggan, bukannnn??? Sudah tugasnya situ kaleeee pak sebagai lembaga negara penyedia jasa yang mencarikan solusinya. Sudah tahu tohhhh kebutuhan listrik kota gurindam ini berapa? Ayuhhhhhh lah cari cara untuk memenuhinya. Kadang ye bo, buat saya pintar itu belum tentu cerdas. Cerdas itu sudah pasti pintar. Jangan mengkambinghitamkan pelanggan sebagai pelarian solusi yang tidak pernah kalian temukan selama ini. Yaaaa sutralah ya bapak-bapak, selamat berpikir yaaaa. Solusi itu yang kami nantikan sejak lama lho yaaaaa.

Akhirnya ini nihhhhhh efek baca berita pagi-pagi jadinya kebanyakan mikir hehehehe…..

25 June 2015

LAJANG ITU PILIHAN BUKAN?

Seringkali menjadi lajang itu bukan hal yang menyenangkan. Masih melajang di usia saya saat ini adalah sebuah keputusan, sebuah pilihan. Saya memiliki isi kepala yang berbeda dari kebanyakan orang Indonesia yang menjadikan menikah sebagai satu tahapan hidup yang ‘harus-mesti-kudu-wajib’ dilewati. Seakan-akan kiamat besok datang jika diusia tertentu seorang perempuan belum menikah. Sementara yang lainnya menganggap bahwa usia normal menikah adalah 20-an. Namun tidak buat saya. Sementara perempuan lain sibuk kebakaran jenggot belum menikah diusia 30-an, saya malah tenang-tenang aja. Karena memang menikah, entah bagaimana itu, bukan prioritas dalam hidup. Jika menikah bagi kebanyakan orang adalah melangkah ke kehidupan baru. Buat saya jangan coba-coba masuk kedalamnya jika kamu belum siap. Menikah atau tidak bukan big issue yang harus dibahas dalam acara kumpul-kumpul keluarga atau kumpul-kumpul alumni. Bukan karena issue selingkuh atau kekerasan rumah tangga yang membuat saya memiliki keputusan yang menentang arus. Buat saya jika menikah hanya untuk melegalkan aktivitas seksual dan berkembang biak, well, saya tidak tertarik. Jika menikah hanya untuk status dan perubahan nama dari nona menjadi nyonya, sama saya pun tidak tertarik.

Banyak sekali pasangan yang saya kenal menikah diusia muda, kemudian memutuskan untuk pisah yang kemudian disusul dengan bercerai, pun masih diusia yang cukup muda. Saya juga punya beberapa teman yang entah bagaimana ceritanya selingkuh dengan alasan udah gak sejalan lagi alias “sekarang mahhhh udah beda visi”. Saya juga bertemu dengan beberapa kenalan yang walaupun menyandang ‘gelar’ suami namun dengan mudahnya menyatakan cinta pada wanita lain dan mengajaknya menikah dengan alasan “Kamu tuhhhh beda banget sama istri saya yang cerewet dan suka ngatur, mau gak jadi istri kedua saya”. Saya juga sering bertemu para lelaki yang tiba-tiba datang eng ing eng entah kerasukan apa menyatakan cinta didepan hidung saya & “menikahlah denganku” padahal barusan juga ketemu, dengan alasan “Waktu tadi melihatmu, saya langsung tahu kamulah jodoh yang selama ini saya tunggu-tunggu”. Tapi bukan itu semua yang membuat saya tidak ingin menikah diusia “normal”.

Gak jarang juga lho lebel “Lo lesbi” langsung ditempelkan dijidat saya. Ohhh yeah terima kasih sodara-sodara. Well, keputusan saya, pilihan saya gak ada hubungannya sama sekali dengan rasa takut atau menyukai sesama jenis. Saya menyukai laki-laki itu sudah pasti. Ada pria yang selama beberapa tahun ini membuat saya jatuh cinta. Bukankah ini bukti otentik saya cukup “normal” hehehehe. Sulit ya jika hidup dilingkungan yang mengganggap bahwa hidup adalah: lahir, remaja, dewasa, menikah, punya anak, tua meninggal. Seakan-akan nih kalo dari sederetan itu ada yang belum dilewati langsung aja sticker “lo gak normal” nempel dijidat. Terus wajib gitu kemana-mana dibahas ke-lajang-an itu.

Jika saya memilih untuk menunda pernikahan memangnya kenapa? Toh gak akan bikin dunia kiamat lebih cepat kan. Ya iyalah menikah itu seharusnya kesiapan saya mengatakan “I Do”, lalu menyiapkan diri menghadapi semua konsekuensinya. Nah coba bayangkan jika kamu bilang “I Do” Cuma karena limited time lah, desakan orang tua lah, tuntutan kenormalan lah, konsekuensi? Yaaaa tetap aja lah tanggungjawab kita. “Don’t put yourself into gambling wars. Don’t put yourself beyond your maximal limits with unreasonable thoughts”.

Setiap manusia punya pilihan. Setiap manusia punya jalan hidup yang beda-beda. Terserah kalo kamu mo bilang jalan hidup yang kamu ambil sangat cocok untuk dirimu, tapi belum tentu untuk orang lain. Kita juga tidak bisa melawan insting, karena masing-masing kita suka atau tidak, dititik tertentu akan lebih sering memutuskan berdasarkan insting. Percaya aja padanya, dia mampu menyeleksi banyak kesalahan jika kita mau mendengarkannya. Berhentilah untuk memaksa orang lain. Jika kamu berhasil dalam pernikahan belum tentu orang lain akan mendapatkan hasil yang sama. Jika kamu gagal gak berarti juga orang lain akan selalu gagal kan. Saya belajar melepaskan diri saya dari hal-hal yang bukan urusan saya. Mau menikah diusia berapa pun seseorang, yaaaaa terserah, karena saya menyadari: “Heiiiii hidup yang dia jalani bukan hidup saya, jadi saya gak perlu terlibat dalam keputusan-keputusan atau pilihan-pilihannya. Saya juga belajar hal lainnya bahwa selama lajang atau menunda pernikahan tidak mengandung bahan peledak, saya gak perlu pusing lah berada disekitar para lajang & penunda pernikahan.



Well, bukankah lebih baik jika kita berpikiran lebih terbuka pada semua kemungkinan dan gaya hidup yang ada. Itu akan jauh lebih menyehatkan bukan?

22 April 2015

AS A HUMAN

As a human we're judging others easily without knowing the whole story.

As a human we're thinking we know better than others. We advises more, teaches more, talks more, in the name of "for your good sake". But, we forget to looked our way, our life and ourself back. Who are we made our life as an example to others without any kind of relationship or status? Freak enough judged people by their social media status or by their opinion.

As a human we think we can do everything. That's good, we should being an optimistic person. But sometimes optimistic and over self confidence is close enough, too close, no barrier at all. When we fingering someone we put one finger in their face, and we never realized that the rest of our fingers always staying in one point.... to fingering ourself. Think wisely before do anything, would be easy, rather than felling sorry for a whole life.

18 April 2015

MEMBERI ITU ADALAH KITA

Jangan memberi jika tak ingin.

Kata orang “latihlah dirimu untuk memberi”. Buat saya memberi itu gak perlu latihan lagi. Jika kamu ingin memberi, berilah. Jika tidak jangan lakukan. Memberi itu selalu punya alasan, selalu memiliki tujuan yang bersembunyi dibelakangnya. Jangan biarkan ada tuntutan yang mendahului jika ingin memberi. Lahhh sudah seharusnya kannnn sebagai seseorang yang memiliki segala, hidup berkecukupan bahkan lebih kita memberi? Mungin, buat kebanyakan orang berlaku prinsip itu. Tenang, sah-sah aja kok. Namun buat saya sekalipun kita adalaha seorang milyarder memberi itu bukan hal seharusnya *tadi*. Memberi sebuah keharusankah? Buat saya sih gak. Memberi sebuah kewajiban kah? Gak juga. Memberi sebuah perintah kah? Lebih gak deh. Lalu memberi itu bagaiamana, apa & mengapa?

Buat orang seperti saya, yang hidupnya tidak pernah mau berada dalam pusaran kebiasaan “normalnyaaa” memberi menjadi hal yang tidak wajib. Memberi bukan untuk mendapatkan hal lain sebagai gantinya. Memberi bukan untuk diingat sepanjang hayat & mengulangi terus-terusan seperti kaset rusak. Memberi bukan sesuatu yang jika dilakukan tangan kanan maka tangan kiri ingin meraihnya kembali. Memberi tidak perlu punya alasan untuk dihargai, memberi tidak perlu teori. Hukum memberi? Saya juga gak butuh itu. Memberi versi saya adalah ketika kita melihat lubang kosong diantara kebutuhan & ketidakberdayaan, lalu muncul dorongan yang sangat kuat dari dasar hati tanpa perlu mengkonfirmasinya dengan akal sehat & otak matematika kita, namun dengan segera menutupi lubang kosong itu.

Seringkali kita perlu alasan lah, sebab akibat lah, penjelasan detail lah, feedback lah, lalu mulai menghitungggggg semua hal yang akan kita dapatkan setelah memberi. Terserah sih bagaimana definisi orang lain tentang memberi. Buat saya jika ingin memberi maka berilah. Jangan pernah menyisakan jeda waktu diantara dorongan & logika. Seringkali nih yaaaa justru logika lah yang paling sering berkhianat. Sementara dorongan akan selalu setia ada disana untuk mencoba memunculkannya lain waktu. Logika itu baik, man, saya tidak sedang mengajak kalian memusuhi logika lho. Namun jika logika selalu mendapatkan tempat utama dalam hidup kita, coba tebak jadi manusia tanpa empati lah kita dibuatnya.

Memberi gak perlu status. Gak perlu nunggu "kita punya banyak lalu baru memberi". Saya sudah lamaaaaa sekali berhenti menilai pemberian. Jika orang memberi maka akan saya terima, tanpa menilai. Jeda diantaranya selalu akan merusak karakter. Lalu, logika saya tempatkan di garda depan. Ya iyalah gak mungkin juga menerima pemberian dari orang yang kita gak kenal kan. Lalu ketika giliran saya untuk memberi, logika akan saya silent dulu untuk sementara waktu. Lalu jeng, jeng, jeng tulus akan saya aktifkan yaaaa bahasa kerennya tulus mode on lah.

Tadi saya sudah bilang bukan bahwa memberi gak butuh status kan. Well, mo kita anak konglomerat kek, anak tukang becak kek, mo tabungan kita isinya berapa aja memberi gak ada hubungannya sama semua itu. Jangan pernah memaksa diri sendiri untuk memberi karena memberi:

Bukan sebuah kewajiban

Bukan sebuah keharusan

Bukan sebuah latihan

Bukan juga sebuah kebiasaan

Karena memberi seharusnya dijadikan sebuah karakter & gaya hidup. Well, jika kamu ingin memberi, gak perlu toleh kanan, kiri cukup dengan menundukkan kepala lalu berkomunikasi dengan hati nurani, disanalah tempat tinggal dorongan itu. Rumah terbaik bagi sebuah dorongan untuk memberi adalah yang biasa disebut orang hati kecil, namun saya lebih sering menyebutnya hati nurani.   
  


04 December 2014

CINTA SELALU CINTA


Hi Cinta,
Ada waktu dimana segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik saja, namun ada pula saat dimana roller coaster ngungsi ke hubungan kita. Perut rasanya sangat diaduk-aduk dengan kondisi yang semuanya jadi serba salah. Kalau sudah begitu lagu-lagu galau tahap gaban pun jadi teman setia siang dan malam kita. Entah ya ada apa dengan lagu-lagu galau itu, macam tahu aja kalau seperti itulah rasa yang sedang ada. Ada saat dimana ingin sekali mendapatkan ruang cukup fleksibel, cukup luas dari apa yang terjadi disekeliling kita. Ada saat dimana berbuat sesuatu akan selalu lebih memperburuk keadaan. Namun entah bagaimana kamu tetap ada disana, tidak tergoyahkan, mempertahankan apa yang menjadi komitmen kita. Apa semua atas nama cinta.


Hi Cinta,
Seorang ibu sanggup melakukan apapun demi melihat sang anak tumbuh besar dan menjadi seseorang. Bahkan melakukan hal-hal yang diluar nalar logika manusia namun menjadi hal yang logis demi melihat sang anak mendapatkan masa depan lebih baik. Meskipun seringkali caranya menunjukkan kasih sayang sering kali mendapatkan protes dari sang anak. Ketika anak telah dewasa, sedikit masalah dengan sang ibu dengan tanpa mempertimbangkan pengorbanan beliau dulu wesssss langsung melaporkan sang ibu ke polisi. Bahkan surga pun akan meneteskan airmata melihat sang ibu tidur di dalam penjara tanpa banyak mengeluh namun menjatuhkan airmata setiap malamnya demi menahan dinginnya udara sel tahanan. Kau tidak pernah ada disana teman. Tapi kau biarkan ibumu mengalaminya. Hebatnya sang ibu menjalaninya dengan kesabaran maha dasyat. Doa akan selalu keluar dari mulut beliau demi mengetuk pintu surga memohon maaf atas perlakuan sang anak. Apa semua atas nama cinta,


Hi Cinta,
Setiap bulannya ada sejumlah angka fantastis masuk ke rekening atas imbalan sebulan bekerja keras. Sangking kerasnya sampai-sampai waktu kebersamaan dengan istri dan anak-anak, yang jika digabungkan kedua kata itu menghasilkan kata baru 'keluarga', terkorupsi sudah. Setiap malam kepulanganmu selalu dinantikan istri dengan doa yang tidak pernah berhenti keluar dari mulutnya. Lalu menyambut kedatanganmu dengan serangkaian kehangatan air panas di kamar mandi dan telinga yang siap mendengarkan keluh kesah seharianmu. Kau mulai merasa risih karena dia ada disampingmu lalu menyuruhnya keluar & menyiapkan baju tidurmu, makan malammu dan lain sebagainya. Dengan tersenyum dia bergegas menyiapkan semuanya sampai-sampai ketika tangannya ketumpahan kuah panas, dianggapnya sebagai kecelakaan kecil yang tak seberapa. Kau keluar dari kamar mandi lalu dengan santainya berjalan melongos ke ruang keluarga, menghidupkan tv lalu terbenam dalam diskusi politik yang gak jelas juntrungannya. Sementara istrimu dengan setia menanti dimeja makan dengan posisi standby kalau-kalau kau bangit dari sana untuk menikmati makan malam. Selesai nonton dengan begitu saja kau berjalan menuju kamar, menghidupkan AC lalu tidur. Istrimu dengan tanpa mengeluh sedikitpun membereskan meja makan, menyimpan semua makanan itu ditempat yang lebih aman dengan tetap tersenyum lalu berpikir "Kasihan suamiku kerja dari pagi sampai malam & kelelahan begitu".... Padahal kau baru saja makan malam bersama sekertarismu yang cantik jelita di restoran mahal. Apa semua atas nama cinta

Cintaaaaaaaaaa sulit sekali saya mendefinisikannya, karena cinta bukan rumus matematika yang 1 ditambah 1 adalah 2. Cinta adalah hal gak masuk akal super duper gila & tempat berkumpulnya semua ketidakwarasan. Well, jika kamu harus mengartikan cinta, kamu menyebutnya dengan kalimat seperti apa?

Selamat menikmati malam indah ini cinta. Sekalipun kau disana aku disini, lahhhhhhh kok kayak lirik lagu yahhhh, kita akan selalu punya definisi sendiri-sendiri untuk hal yang satu itu -cinta-.



Picture taken from: http://www.vemale.com/inspiring/lentera/13836-kisah-cinta-abadi-dalam-sepiring-nasi-goreng.html



BEDA, LALU

Nyindir orang lain bukan cara terbaik menyampaikan teguran. Sampaikanlah dengan cara yang gentle, yaaa hadapi dong orangnya lalu ajak bicara seperti layaknya orang dewasa menyelesaikan masalah. Kita gak bisa memaksakan cara kita 'melihat' sesuatu pada orang lain. Apa yang kita anggap baik toh belum tentu baik buat yang lainnya. Mannnnn, lingkar kepala diciptakan Tuhan aja gak sama gedenya. Seperti itulah cara melihat, sesuai ukuran kapasitas kita memandang sesuatu. Aku, kau, dia, mereka & kalian kan memang 'terlahir' dengan cara penyelesaian masalah sendiri-sendiri. Cara yang kita anggap paling tepat & paling benar belum tentu baik untuk orang lainnya. 

Dan kau harus belajar untuk memahami betul hal ini bahwa: "Cara manusia memandang masalah ketika berada didalam masalah itu & ketika kita sedang berada diluar masalah pastilah beda. Ketika kau berada didalam masalah jarang pandang solusimu pasti akan lebih pendek & lebih kabur. Namun jika kau berdiri diluar masalah itu kau akan mampu melihat dari banyak sudut; atas, bawah, depan, belakang, samping kanan, kiri. Coba saja bayangkan jika kau terjebak dalam kabut asap tebal. Kau perhatikan apakah matamu bisa melihat dengan jelas jalan keluar dari si asap. Apa yang ada didepanmu seakan-akan tertutup. Duniamu kini berubah menjadi seragam, satu warna. Kau tidak lagi melihat merah sebagai merah & biru sebagai biru. Apa coba yang kau lihat, asappppppp bukan. Ya iyalah masa kau lihat bintang. Namun hukumnya beda jika kau berada diluar si asap, apa yang terjadi kemudian? Kau akan dengan mudah menemukan jalan ke tujuanmu dengan benar.

Jadi saran saya cuma satu untuk kau: 
Jangan pernah menghakimi orang lain dengan mudahnya tanpa kau tahu apa usaha yang telah dia jalani selama ini. 

Kau perlu catat ini baik-baik:

Bahwa Tuhan tidak akan pernah memberikan perkara besar jika seseorang belum pernah melewati perkara kecil. Memang hal paling normal dari segalanya adalah belajar untuk tidak cepat menghakimi orang lain, karena penghakiman itu milik Tuhan, itu hak milik tunggal pemilik semesta ini. Otreeeee

05 October 2014

OUR HAPPINESS IS "ME"


Happiness
The single word that most people have it backwards. Some people around feel like.

Happiness
is something that we will be able to have or experience someday, once we've archived something,
gotten somewhere
met someone
brought about some circumstance
Achieved something 
or
fallen in love
Some become a beggar of sorts. Not in the material senses, but in the sense of happiness & quality of life. Sometimes chase scraps of pleasure to try and mask the unease they feel at almost every moment, ranging from mild discomfort to intense suffering. Friend, the reality is that happiness isn't meant to be something you get to experience one day at least for me, like we've unlocked it through meeting a set of criteria & now we're allowed to have it.

Happiness
 is nature's way of telling "Me", I am on the right track right now.

Let's we deal about this "Happiness
is our mind
our body
our soul's way of letting us know that we are in line
with what is truly best for us
in the deepest senses,
then by extension,
best for everyone else.
When we take action that feels good,
happy and enjoyable to us,
we will naturally bring about more happiness.
Anyway,
The most important thing that happiness is always all about Me.
 Picture taken from: http://brucerosenstein.com/tag/happiness/

06 July 2014

DO IT SOMETHING

Refuse to complain. Complaining is just a way of not taking responsibility, justifying doing nothing, and programming our self to fail. Complaining creates the illusion that we have done something. Instead, pour our energy into improving the situation. When we find ways to be productive and maintain a sense of optimism, we demonstrate that are in control of our own life. Complainers focus on what has happened, and give up their power. Winners focus on making things happen, and using their power to find solutions to their challenges. We were born to create something magnificent with our life. Solution, based thinking gives us that power. Get centered and calm our self down. An anxious mind can't take our where our need to go. Recognize that true power resides within us, never outside of us. Keep eyes on the prize and don't allow our self to be thrown off course. There is power in the pursuit of our dream.

Continue to go after our dream. Regardless of the obstacles, rejection, or things that will be thrown into our path. Go around, go through, or leap over them and remind our self what this dream really means to us. Going after our dream will give power that we don't even know we have. Embrace the challenges because they build character, resiliency and faith. We can see what others can't see for our life and dreams. Make it okay to stand alone or apart from the crowd. We are the architect of our life, isn't it. Give our self permission to express the real us, or another part of our self. It doesn't matter if others don't get it. Be calm & stay focused on what we want, even if it doesn't seem possible right now. There is nothing impossible in this world. Everything possible. Just tuned our mind frequency, that’s will try and convince us to be logical, realistic and practical. Given our age, finances, or life situation. Let our heart be our guide and have the last word. We can't get out of life alive, so be bold. Go after what we want. Commit to live an adventurous, significant, purposeful life.

What do you want to do with your life? People says this for the entire life. People who are hungry, are willing to do the things today that others won't do in, order to have the things tomorrow that others won't have. People who are hungry are Relentless. People who are hungry are unstoppable. For people who are hungry - NO excuse is acceptable. Visualize the goals for the first step. Say to our self "It's not over till I win, I expect to win." The people who want to step into their greatness & faith are hungry. Decide to make our life a living adventure. Is your life what you want it to be? Let's look at the greatest adventure we could possibly imagine. Stop for a moment and think about what it means to be alive. By virtue of being alive, we can sense, we can reason, we can move from place to place, we can make decisions, we can create, we can inspire, we can know joy, laughter and beauty. When we think about it, every moment of every day is an incredible adventure, overflowing with possibilities. Yet too often, we just take life for granted, letting it pass by in boredom and frustration. What a waste.

There are priceless, magnificent adventures awaiting us right now. Its our life. Take a look around. There are countless places to be explored, people to meet, things to be learned and challenges that will give us strength and fulfillment. There is so much to be lived and experienced. We could spend a thousand lifetimes doing it all. So, resolve right now to fill our one lifetime with as much living as possible. Take delight in the adventure. Stop complaining & do it now.

08 June 2014

CERITA SORE INI

Baiklah, sore ini mari kita bahas topik yang sangat dekat dengan kita. Tulisan yang telah lama ingin saya release, namun baru hari ini bisa menyelesaikannya. Well, setahun ini berkutat dengan bisnis kuliner membuat saya belajar banyak hal. Memulai segala sesuatunya dari bawahhhhhhh sekaliiiiii. Yuk kita mulai, lanjutttttt. Sebagai manajer, kita diharapkan menjadi banyak hal: Well, menara kekuatan, pemimpin dan pembaharu, tukang sulap. Iya tukang sulap yang mampu menyulap kenaikan gaji, sumber daya dan staf tambahan dengan satu sapuan topi tanpa mempengaruhi omset yang ada, terkadang menjadi tante/om yang baik, juga menjadi penyedia bahu tempat mencurahkan kesedihan, motivator yang dinamis, hakim yang tegas namun adil, diplomat, politisi, pelindung, penyelamat, dan orang suci. Yang terakhir yang paling saya benci :( ….

Kita harus bertanggung jawab terhadap sekelompok orang yang mungkin bukan pilihan kita, mungkin juga bukan orang yang kita sukai karena sifat & perilakunya, bisa jadi yang berbeda 180’ dari kita alias gak punya titik kesamaannya sama sekali, bisa jadi juga yang malah gak suka sama kita. Namun walau bagaimanapun toh kita diwajibkan memberi mereka hari kerja yang layak. Bertanggung jawab terhadap keselamatan dan perawatan fisik, emosi, serta mental mereka. Harus memastikan mereka tidak melukai diri sendiri apalagi saling melukai. Harus pula memastikan mereka bekerja sesuai dengan peraturan perusahan. Harus memahami hak kita, hak mereka, hak perusahaan dan hak asasi manusia. Ufffhhh banyak bukan.

Sebagai manajer yang bertanggung jawab terhadap sebuah tim, kita mesti membina dan menggali hasil terbaik dari tim yang ada. Tim ini suatu waktu dapat bertingkah seperti anak-anak, tapi kita tidak bisa menghukum mereka begitu saja atau mungkin bahkan memecat mereka tanpa alasan yang kuat. Di lain waktu, mereka bertingkah seperti remaja yang labil. Yaaaa tidur larut malam lah, tidak masuk kerja gara-gara jagain pacar lah, menolak melakukan pekerjaan karena sakit gigi lah sekalipun masuk kerja, pulang kantor lebih cepat karena tetangga kawinan lah, sengaja melanggar peraturan dengan makan product display lah -padahal mereka tahu itu gak boleh-. Pokoknya hal-hal semacam itu yang jika diperusahaan lain akan menjadi sesuatu yang tidak boleh, namun entah kenapa di restoran alasan-alasan seperti ini selalu dijadikan senjata untuk kepentingan pribadi. Sepertinya jika kerja di restoran alasan-alasan ini wajar aja. Begitu minta ijin harus dikabulkan, kalo gak langsung tuh bibir pada maju 5 cm kayak bemper bajaj.

Kita tidak hanya bertanggung jawab atas orang, tetapi juga atas anggaran, disiplin, komunikasi, efisiensi, masalah hukum, masalah gosip pekerja, kubu-kubu pekerja si ini ngegang sama si anu, si anu gak suka sama si ini, masalah kesehatan dan keselamatan, masalah personalia, pensiun, tunjangan kesehatan, cuti melahirkan, cuti pernikahan, hari libur, waktu istirahat, waktu liburan, laporan waktu kerja, pengumpulan daftar kehadiran, jadwal kerja, standar industri, latihan kebakaran, P3K, udara segar, pendingin ruangan, tempat parkir, alat tulis kantor, bahkan hal remeh temeh seperti teh, kopi dan gula. Ohhhh man dalam mimpi terburuk saya sekalipun belum pernah bermimpi akan berurusan dengan teh & kopi apalagi gula *jediggggg*

Kita sebagai sang manajer juga diharapkan menjadi zona penyangga antara manajemen yang lebih tinggi dan seluruh karyawan. Omong kosong mungkin muncul dari tingkat atas, pemaksaan terjadi dari sana sini, intrik yang dipaksakan tapi dibuat semulus mungkin, tapi toh kita harus mendengarkan tanpa mengeluh dan tertawa, lalu menterjemahkannya pada tim yang ada, lalu memutar otak semaksimal mungkin mengusahakan agar tim kita memakluminya sekalipun itu omong kosong. Terkadang nih yaaaa sebagai manajer, kita harus bertikai dengan departemen lain, tim lain, klien, bos senior, dewan direksi, pemegang saham, dan departemen keuangan. Kita juga harus memberikan alasan bagi kebijakan ‘tidak ada kenaikan gaji tahun ini’ atau ‘tidak ada bonus tahun ini’, sekalipun hal ini menurunkan semangat tim. Lalu berusaha memutar otak untuk mencarikan alternatif lainnya bagi kesejahteraan semuanya. Kita harus merahasiakan hal yang diketahui tentang pengambil-alihan atau bahasa kerennya take over, merger, akuisisi, transaksi rahasia, pembelian saham perusahaan dalam jumlah yang berpengaruh, dan hal-hal semacam itu, sekalipun isu terdengar di mana-mana dan kita terus aja ditanya-tanya oleh tim.

Selain itu, kita diharapkan menjadi standar, artinya kita harus tepat waktu, berada di depan, berpenampilan cerdas, bekerja keras, tekun, pulang larut, datang lebih awal, kurang istirahat tapi harus tetap fit , objektif, bertanggung jawab, penuh perhatian, berpengetahuan, dan pemain sirkus yang sempurna. Jungkir balik memikirkan cara kerja yang lebih baik bagi semua karyawan. Harus selalu hadir. Haram hukumnya jika manager sampe sakit. Pergi meninggalkan tempat baru selangkah langsung telp berdering menanyakan ini & itu yang notabene hal gak terlalu mendesak tapi harus memberikan jawaban segera. Benar-benar sulit. Kita pun perlu menerima bahwa sebagai manajer, gak selamanya apa yang kita lakukan atas nama kebaikan bisa dengan mudah diterima begitu saja, malah lebih sering dicemooh. Kita bisa diejek habis-habisan, dikata-katain, disumpah-sumpahin, bisa dijuluki dengan sebutan tertentu, atau dicaci-maki sebagai pekerja administratif yang menghalangi dan manipulatif. Kita bahkan mungkin dinilai tidak efektif dan berlebihan dalam menjalankan tugas oleh staf, atasan, pemegang saham, dan/atau teman-temannya si staf. Belum lagi hal-hal kecil menyangkut konsumen. Dengan semua ini tetepppp dong kita diharapkan melakukan pekerjaan dan memberikan hasil terbaik.

Tapi semua itu justru membuat kita akan lebih memahami banyak hal. Ada hal yang bisa begini dan begitu. Ada juga hal yang wajib hukumnya untuk yang ini dan itu. Satu tahun ini banyak hal yang saya pelajari. Duduk diposisi manajemen memang bukan hal baru buat saya. Namun bekerja dengan orang lokal memang hal baru. Benturan-benturan budaya & kebiasaan menjadi big issue saat pertama kali saya memutuskan untuk berkarir di dunia kuliner. Namun setelah dijalani ternyata banyak hal baru yang justru saya temukan yang akhirnya membuat saya belajar lebih banyak. Orang selalu bilang enak yaaaa jadi manager. Well, saya cuma bisa bilang: “Enak gaknya itu relatif ya”. Namun buat saya menjadi manager itu adalah ........ jika kita mampu membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada, dari tidak paham menjadi mengerti, dari tidak bisa menjadi mampu. Manager adalah seorang pioneer yang harus rela menginvestasikan waktu & tenaganya untuk melahirkan successors yang kurang lebih sama seperti dirinya. Seorang manager adalah orang yang paling berbahagia ketika tim nya mulai mampu menemukan potensi mereka & hidup didalamnya. Seorang manager adalah seseorang yang selalu ada ditempat yang sama ketika orang-orang yang ada dibawahnya akan selalu terbang tinggi mencapai puncak potensi mereka. Seorang manager adalah orang yang akan selalu tersenyum lebih lebar ketika orang-orang yang ada dibawahnya mampu meraih impian & keinginan mereka.