12 March 2009

SENJA DI BUTTERWORTH

Malaysia (27) Sedang duduk menikmati pemandangan sore di stasiun kereta api Butterworth - Penang, mata saya tertarik memperhatikan seorang lelaki tua berumur sekitar 50-60 tahunan. Berjalan tertatih-tatih sambil mengorek tong sampah yang ia jumpai sepanjang peron.

Saya mengamatinya tapi tentu saja tidak berani secara terang-terangan ketika dia sedang berjalan kearah saya. Namun ketika bapak tua telah membelakangi saya barulah dengan bebas saya mengamatinya. Ada sesuatu yang menarik disana. Baru kali ini saya menemukan pemulung di negara ini. Kemana saja saya selama ini.

Tingginya kira-kira hanya 150 cm, kulitnya coklat tua pekat terbakar sinar matahari. Memakai celana pendek dan baju kaos. Penampilannya sangat kumal dan kotor sekali. Dari tubuhnya keluar aroma yang sangat tidak menyenangkan. Mungkin akibat jarang mandi dan bergaul dengan sampah. Ketika pandangan saya bertabrakkan dengan matanya saya menemukan keputusasaan bermain disana. Sinar mata itu redup, telah kalah oleh kemiskinan. Kulitnya tidak lagi kenyal tapi telah berubah keriput, dimakan usia.

Saya menikmati pemandangan itu. Terus saya pandangi sampai sosoknya menghilang di balik tiang beton peron. Entah sedang apa dia dibalik sana. Mungkinkah menemukan sesuatu yang bisa membuat matanya berbinar. Botol bekas air mineral mungkin atau kaleng bekas minuman bersoda. Benda-benda ini sangat bernilai untuk para pemulung di negara manapun. Lewat benda-benda semacam itulah mereka masih bisa mendapatkan uang untuk sekedar mengisi perut. Mungkin tidak kenyang tapi cukup untuk bertahan satu hari lagi.

Dia telah menghilang dibalik peron. Saya mengalihkan pandangan saya pada langit. Memadang keindahan pesona Sang Khalik di waktu senja. Tapi pikiran saya tetap pada bapak tua tadi. Saya telah terpesona dengan kerja kerasnya, kegigihannya, kemauannya untuk tetap bertahan hidup meskipun kemiskinan terus menancapkan sengatnya.

Bapak tua itu berjuang untuk tetap eksis. Hanya sayangnya globalisasi dan modernisasi tidak berpihak padanya. Semakin tersingkir. Semakin menderita dengan tekanan hidup. Harga-harga yang semakin menjulang tinggi membuatnya tidak punya pilihan hidup lebih baik apalagi lebih layak. Hanya kemelaratan yang senantiasa bersahabat dengannya. Tidak adil buatnya tapi adil buat orang lain.

Terus memikirkannya, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara hardikan berjarak 500 m dari saya. Hardikan itu berubah menjadi keributan. Saya penasaran menolehkan kepala ke arah sumber suara. Mencari-cari penasaran. Nihil. Tapi tetap saja ribut. Sedetik kemudian dari arah kanan berlarian seekor anjing berbulu putih kumal. Anjing ini berlari dengan panik sambil menggigit plastik kresekan warna hitam. Plastik itu bergoyang terayun-ayun.

Kemudian muncullah bapak tua tadi mengejar anjing sambil menghardiknya. Semakin ribut, gaduh. Padahal hanya satu orang. Wah, pemandangan semakin menarik nih. Mata saya terbuka lebih lebar memperhatikan adegan kejar-kejaran itu. Hardikan itu semakin terdengar melengking. Taulah saya bahwa bapak tua dan anjing itu tidak sedang bercanda manis.

Sambil mengepal-kepalkan tangan bapak tua menyusul larinya anjing tak berdosa itu. Hardikan semakin kencang terdengar. Anjingpun semakin terbirit-birit berlari. Eits, tunggu dulu sepertinya ada yang tidak beres dengan adegan di depan mata ini. Ngapain coba tuh bapak nafsu banget kejar-kejar anjing kumal itu.

Sekejap saja ketidakberesan itu terjawab sudah. Anjing berlari menyelamatkan diri ke bawah gerbong usang tidak terpakai yang diletakkan berjejer *rapi jail bo*. Teronggok waspada di bawah sana anjing terus memperhatikan bapak tua. Hardikan masih berlanjut. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukn anjing. Tapi bapak tua tidak tau ada apa dibawah sana.

Anjing tetap menggigit kantong plastik hitam itu. Entah apa isinya. Hardikan semakin keras. Anjing pun gentar dan meletakkan plastik hitam ditempat yang dikiranya aman. Drama is over ! Salah, belum lagee. Bapak tua jongkok anjing pun lari menjauhi plastik hitam. Lari ke pojok gerbong usang itu. Memperhatikan gerak-gerik bapak tua. Adegan selanjutnya membuat saya terdiam miris ingin menangis. Bahkan logika pun tidak bisa menjangkau perlakuan itu.

Bapak tua itu merangkak kedalam gerbong usang mengambil kantong plastik hitam yang entah apa isinya. Menghalau anjing agar pergi dari pojok gerbong usang tempatnya berlindung. Anjing pun terusir, pergi dengan perasaan kalah. Sudah merasa aman bapak tua duduk bersandar di ujung gerbong usang, membuka plastik hitam dan mengambil sisa makanan didalamnya. Membersihkan dengan tangan kotornya, meniupnya dan memakannya.

Saya terkesima, diam seribu bahasa. Lidah terasa kelu. Ada sekat di dalam tenggorakan saya, seperti menahan sesuatu. Bukan rasa jijik. Bukan. Sekat itu adalah tangis yang tertahan. Tidak ada airmata di mata saya. Tapi ada rasa tidak terima di dada saya.

Harus sampai seperti inikah perjalanan hidup bapak tua itu. Berebut makanan dengan anjing. Padahal makanan itu pun makanan sisa yang dia temukan dalam salah satu tong sampah. Entah sudah berapa lama dia terlunta-lunta dalam kelaparan. Sehingga mati rasa ketika harus berebut makanan dengan anjing. Adilkah ? Ya adil untuk orang lain tapi tidak untuk bapak tua dan saya.

Melihat pemandangan menyedihkan itu bahkan saya pun takut untuk bersyukur atas hidup yang saya miliki. Rasanya kurang pantas bersyukur atas kemiskianan orang lain. Saya hanya berharap semoga bapak tua bisa menikmati makanan itu. Bukan hanya sekedar makan untuk kenyang.

Saya membuang pandangan kearah lain membiarkan bapak tua menikmati hidangan. Mencoba mencerna dengan hati pelajaran hidup barusan. Tetap dalam diam, alam bawah sadar saya telah merekamnya dengan jelas. Jelas sekali.

08 March 2009

SAMBIL TERIAK: ‘OJEEEEK’

Image043      Image044

 

Image045      Image046

My Thoughts:

- Hanya Tuhan yang tahu gimana kondisi supir dan orang-orang yang ada didalamnya.

- Kalo gak koma ya luka parah, itu dah pasti

- Masih gak habis pikir kok bisa ya tuh mobil keluar jalur jauh banget gitu.

- Mungkin aja supirnya mabuk, kalo gak ya ngantuk berat *seberat-beratnya*.

- Toyota Avanza VVTI keluaran April 2008. Belum setahun? jangan-jangan kreditnya belum lunas lagi.

In Facts:

Menurut saksi mata setelah mobilnya jungkir balik gitu, supirnya keluar dari mobil dengan tampang ‘napa sih semua orang liatin gue’, sambil teriak: ‘ojek’. Mampus gak sih tuh orang bukannya jalan sempoyongan sambil pegang kepalanya yang tergores itu sambil tersakit-sakit kek *drama mode on dong*. Eh malah panggil ojek dengan entengnya. Numpang tanya mas nyawanya ada 10 ya. Jadi ilang satu tinggal 9 deh. Yaela mas jam 6 pagi udah bikin heboh orang sekota.

Final Results:

Ini jadi peringatan keras buat saya kalo nyetir jangan sambil merem. Ini nih akibatnya. Berhubung nyawa saya cuma satu jaaaadi saya lebih milih hati-hati deh.

28 February 2009

SURAT UNTUK MAMA

ist2_1677277-newborn Ma, apa kabar? Beberapa hari ini aku melihat mata mama selalu bengkak. Mama menangis? kenapa? apa karena aku. Padahal aku disini baik-baik saja. Aku bahagia. Semua serba indah. Tidak seperti sebulan lalu kala aku sedang bernafas. Aku merasa tersiksa dan tiba-tiba saja semua berhenti. Aku tidak bisa lagi merasakan kedekatan dengan mama. Aku bahkan merasa diluar kenyamanan. Sakit memang ma tapi sekarang tidak lagi. Sekarang aku senang. Mamapun harus senang.

Jangan menangis lagi mama. Aku tidak ingin melihat mama sedih terus. Airmata mama sudah terlalu banyak tumpah hanya untuk aku. Disini aku bisa bernafas dengan bebas. Hari ini saja aku berlari dengan teman-teman, bermain bersama, lamaaaa sekali. Aku kuat ma. Kakiku walaupun kecil tapi kuat jika berlari. Mama pasti kalah tanding lari sama aku. Suatu hari nanti mama pasti kuajak berlari. Rindukan waktu itu ya ma.

Jangan menyalahkan diri sendiri terus ma. Sudahlah semua sudah baik-baik saja sekarang. Mama mungkin pernah tidak menginginkan aku. Tapi aku telah memaafkan. Mama mungkin takut akan pengakiman dunia atas kehadiranku. Yang ini pun telah kumaafkan. Untuk itu aku mohon berhentilah menangis. Airmata mama sebanyak apapun yang keluar tidak mungkin bisa membawa aku kembali kesisimu. Hanya akan membuat mama tampak lebih tua.

Jangan ma, jangan menangis lagi. Aku ingin selalu melihat kecantikan wajah mama. Aku juga merindukan senyuman manis mama yang selalu tersungging waktu mama mengelusku. Mama ingat itu, waktu aku berusia 6 minggu. Mama meletakkan tangan mama tepat dipunggungku. Waktu itu aku kira sedang ada orang yang memijatku. Eh ternyata tangan mamalah yang sedang mengelus punggungku. Menenangkan aku.

Terima kasih mama. Aku memang tidak sempat menghirup udara bumi ini. Tapi aku sudah cukup bahagia memiliki mama sepertimu. Aku bangga menjadi puteri mama. Kata teman-temanku aku mewarisi kecantikan mama. Disini semua orang terpesona dengan pancaran cahaya yang keluar dari mata indahku. Semua itu kuwarisi darimu, mama. Teman-temanku mereka juga sama dengan aku. Mereka tidak diinginkan oleh mama mereka dan akhirnya dibuang.

Dua hari yang lalu aku dan temen-teman duduk ditaman yang disediaan Tuhan khusus untuk kami. Cerita kami ramai sekali ma. Seru. Semua berebutan ingin bercerita lebih dulu tentang mama masing-masing. Semua membanggakan mamanya. Akupun ingin tapi entah kenapa aku malah sedih. Didepan teman-temanku aku tak mampu berkata-kata. Padahal aku ingin. Aku ingin mereka tahu bahwa mama adalah pahlawanku.

Bagaimana bisa aku bercerita pada mereka tentang mama jika aku selalu melihat mama menangis sejak pulang dari klinik om dokter itu. Aku lupa siapa namanya. Mama bahkan tidak mau makan. Berhari-hari hanya mengurung diri dikamar. Menangis saja. Sampai-sampai mama sakit. Aku melihat wajah mama begitu kusut. Tidak seperti biasanya. Bukankah mama selalu ceria? Teman-teman mama yang bilang itu dan sekarang mereka kehilangan keceriaan mama.

Hidup harus terus berlanjut ma. Meskipun mama menyesali keputusan mama. Tidak ada yang bisa berubah. Aku tidak mungkin kembali lagi pada mama. Mama telah membuangku, menolakku. Saat itu memang menyakitkan tapi bukankah aku sudah bilang bahwa aku memaafkan mama. Aku sayang pada mama mana mungkin aku bisa marah. Disini semua orang saling memaafkan. Tanyakan saja pada teman-temanku, mereka akan sangat setuju denganku.

Mama mulai sekarang hapuslah airmatamu. Jangan menangis lagi. Jangan khawatirkan keadaanku. Disini semua keperluanku terpenuhi dengan sendirinya. Aku bahagia. Jadi mama tidak perlu menangis lagi karena aku telah memaafkan mama. Aku sayang mama lebih dari perasaan sayang mama padaku. Tuhan menjagaku dengan sangat baik sehingga aku tumbuh menjadi anak yang kuat. Mama aku merindukan kehadiran mama suatu hari nanti, menemaniku.

 

Dedicated to: Semua bayi malang yang menjadi korban aborsi.

gambar diambil dari istockphoto

JANGAN SALAHKAN SAYA

ist2_46913-catch-the-sky Bukankah tidak ada bedanya ada dan tidaknya saya di’rumah’ ini. Karena semua hal yang saya lakukan tidak pernah ada yang perduli. Mungkin ini adil buat orang lain.Tapi tidak untuk saya. Saya yang akan selalu dikambinghitamkan dalam setiap persoalan yang terjadi. Seakan-akan saya telah berubah wujud di mata semua orang menjadi manusia yang tidak baik. Saya telah melakukan segala yang saya harapkan dan saya pikir itu yang terbaik. Namun saya tetap tidak pernah benar. Selalu saja salah.

Jangan salahkan saya jika saya menjadi lelah dan menyerah. Mulai merasa tidak lagi nyaman berada disini. Jangan salahkan saya jika saya terlahir dengan sifat perfeksionis. Jangan salahkan saya jika saya selalu menginginkan keteraturan dan kebersihan. Dan jangan salahkan saya jika saya memutuskan untuk menikamati hidup yang saya inginkan. Mungkin saya salah tapi saya terlalu lelah untuk selalu dikondisikan ‘menerima’ dan mengalah.

Ada saatnya saya mengalah agar tidak terjadi keributan yang tidak perlu. Adakalanya juga saya menerima karena hanya itu satu-satunya alternatif yang ada. Ada kalanya saya menjalani apa yang telah dipaksakan untuk saya jalani. Ada kalanya saya memilih diam dan tidak melanjutkan pembicaraan karena saya tidak ingin membuang energi lebih banyak lagi. Namun kali ini adalah saat saya merasa jenuh dengan semua permainan ini.

Dengar ini. Dengarkan apa yang ingin saya sampaikan.

Saya juga manusia. Sama seperti manusia normal lainnya. Saya pun punya perasaan dan keinginan. Saya punya kemauan. Saya berhak untuk menentukan apa yang saya anggap bisa saya terima atau tidak. Dan saya berhak untuk membela diri saya sendiri. Saya tidak pernah merencanakan hidup untuk diri sendiri. Saya bahkan tidak sempat berfikir untuk menikmati kebahagiaan sendiri. Tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk hidup dalam kesuksesan tanpa berbagi.

Semua orang berhak memberikan penilaian atas sikap saya. Semua orang boleh menghakimi saya. Tapi kenapa ketika saya protes dan ingin menjelaskan. Ingat! menjelaskan, bukan membela diri. Semua mata menatap tajam kearah saya. Semua mulut seenaknya mencerca saya. Saya ini manusia. Saya juga punya perasaaan. Sudah teralu lama kalian mendudukan saya dikursi pesakitan. Sampai saya tidak ingat lagi bahwa saya masih punya hak untuk memilih.

Ketika saya diam semua orang menuding saya dan mencap “tukang ngambek” di belakang punggung saya. Tahukah kalian betapa sakitnya kata-kata itu menusuk harga diri dan perasaan saya. Tahukah kalian saya memilih diam untuk menghindari konflik baru yang tidak perlu. Tahukah kalian saya memilih diam karena itulah satu-satunya pilihan yang tersisa. Dan tahukah kalian bahwa saya akan selalu memaafkan semua penyebab ‘diam’ itu.

Kalian tidak pernah tahu kenapa saya selalu menginginkan ‘rumah’ ini dalam keadaan teratur dan bersih. Agar kalian bisa betah tinggal di’rumah’ ini. Kalian tidak pernah tahu kenapa saya mengorbankan rasa sakit yang mendera selesai saya 'membersihkan’ seluruh ‘rumah’ ini. Kalian tidak pernah tahu bukan, saya rela menjalani rasa sakit di ‘saluran peranfasan’ hanya untuk memberikan kalian kenyamanan tinggal di’rumah’ ini.

Pernahkah terpikirkan sebentar saja, 1 menit saja kalian renungkan bahwa kalian selalu membela orang lain yang melakukan kesalahan dan menimpakannya pada saya. Pernakah kalian berpikir untuk memberi ruang dihati kalian untuk apa yang saya lakukan. Pernakah kalian tahu bahwa saya pun adalah bagian dari kalian. Pernahkah kalian menganggap kehadiran saya berarti bagi kalian. Pernahkan sekali saja? Pernahkah?

Tahukah kalian saya berjuang melawan rasa sakit di’saluran pernafasan’ saya untuk membersihkan ‘rumah’ sebesar ini. Jika telah bersih kalian semua menikamatinya dan kemudian melupakan saya. Jika ‘rumah’ ini kotor kalian memuji orang lain dan mengatakan saya pemalas. Membanding-bandingkan saya dengan orang lain yang lebih rajin dan berdedikasi tinggi dan mencerca saya seumur hidup kalian. Pernah terpikir sekali saja dalam hidup kalian bahwa saya pun bagian dari ‘rumah’ ini.

Saya rela mengorbankan apapun demi melihat senyum kalian. Saya sanggup melakukan apapun demi berbagi ruang sedikit saja dihati kalian. Saya ini ‘keluarga’ kalian. Tapi saya merasa bukan ‘keluarga’ jika berdepan dengan kalian. Seolah-olah saya hanya manusia tidak punya pekerajan yang menumpang hidup pada kalian. Sehingga ada atau tidaknya saya, tidak perlu mendapat perhatian lebih.Ternyata saya semalang itu bahkan dimata saya sendiri.

Saya bosan, jenuh dan lelah dengan semua ini. Saya hanya ingin menikmati hidup saya sebentar saja. Hanya sebentar. Itupun jika kalian tidak keberatan. Saya sudah biasa hidup sendiri sejak kecil. Saya sudah terbiasa berjuang untuk mendapatkan sesuatu sejak kecil. Saya sudah terbiasa dengan kesulitan hidup. Sejak kecil saya selalu berjuang sendiri tidak pernah ada tangan terulur untuk menolong. Saya telah terbiasa dengan kesendirian dan kerja keras.

Jadi jika sekali lagi saya harus melewatinya bukan masalah besar. Saya tahu cara menghadapinya. Tenang saja saya perempuan yang kuat. Badai sekuat apapun merobohkan, saya mampu bangkit kembali menata hidup saya meskipun dari awal. tenang saja. Hidup saya akan lebih baik jika saya berada jauh dari kalian. Saya punya ‘TANGAN’ yang selalu melindungi. ‘TANGAN’ itulah yang sejak saya kecil selau menampung airmata saya hingga sekarang. 

Dedicated to: My beloved friend. Defeat may test you, it need not stop you. For every obstacle there is a solution. Nothing in the world can take the place of persistence but the greatest mistake is giving up. You go girl.

gambar diambil dari istockphoto

LANGUAGE BARRIER

ist2_6509202-abstract-smile Sumpah, mata saya mo loncat meneliti dengan seksama, ulangi dengan seksama tata ‘tertib ruang sidang’ yang diketik rapi dan dibingkai *pula* terpajang manis di dinding luar ruang sidang. Bukan, bukan peraturannya kok yang bikin saya kaget setengah mampus. Itu lho sederetan kalimat antah berantah yang ada di bawah setiap point kalimat bahasa indonesia. Ya gemes, ya malu, ya protes-protes gak jelas gitu deh jadinya. Woi, yang bikin siapa sih. Malu tahu kalau saja ada wartawan bule atau orang asing yang kebetulan ada disana. Apa kata dunia coba?

Tahu apa yang ada dibawahnya? Terjemahan kedalam bahasa inggris dari bahasa indonesia yang ada diatasnya. Sumpah plek-plek membahasa inggriskan bahasa indonesia seperti ketika kita sedang bilang: “saya sedang dijalan” diterjemahkan “i’m on the road”. Padahal dalam bahasa inggrisnya sendiri kalimat itu diterjemahkan seperti ini: “I’m on my way”. Daann itulah yang terjadi. Penterjemahan kalimat bahasa inggris itu bukan memakai bentuk yang benar tapi hanya memindahkan kata per kata dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.

Saya sempat melongo –beloon- tertegun beberapa detik berusaha mencerna bahasa yang ada didepan mata. Mungkin saya salah baca. Atau kecapekan malah. Terdiam dong, dan membaca berulangkali. Otak saya mulai bekerja lebih keras dari biasanya. Well, bukan mikir keras, cuma menahan emosi supaya gak keluar sebagai ketawa ngakak, yang pastinya berlebihan. Ya iyalah saya bisa dikira orang gila kale. Mending orang-orang bisa langsung ngeh ada yang aneh. Nah kalo ternyata mereka juga ngertinya cuma bahasa indonesia dan bahasa dewa aja gimana. Melongo bego semua kan.

Walaupun pajangan tata tertib itu hanya di tempelkan di pengadilan negeri daerah kecil. Tetep dong harus memperhatikan susunan penulisan bahasa asing yang benar. Bukankah tujuan penterjemahan itu agar orang asing yang kebetulan berada disana bisa mendapatkan informasi dan tentyu menghormati jalannya sidang. Buat saya sih lebih aman menyerahkan tugas terjemahan seperti itu ke ahlinya. Banyak kan guru-guru bahasa inggris atau tempat kursus yang bisa membantu menterjemahkannya. Jadi tidak perlu lah terlihat bego-bego amat dari ‘hasil karya’ ityu.

Ini nih kecendrungan sebagian besar  orang indonesia. Woi, jangan ngamuk dulu. Seringkali kesalahan-kesalahan penterjemahan seperti ini dianggap biasa. Dianggap remeh. Ya yang penting si bule tahulah apa yang saya maksud. Ye… gak bisa begitu kale. Mana bisa salah menterjemahkan ke bahasa asing ,dianggap hal biasa pula. Bisa berabe urusannya. Walaupun gak bakal sampe masuk bui hanya ya bisa menurunkan cara pandang, catat c-a-r-a  p-a-n-d-a-n-g mereka. Bangsa ini sudah sangat negatif dimata dunia jangan lagi dibikin lebih negatip alias dicap bodoh.

Lagian nih ya kasihan juga tuh bule-bule kalo baca tulisan itu. Saya aja yang baca jidatnya berkerut. Gimana bule-bule itu, kan jadi pengen jilat-jilat tembok. Bahasa yang benar itu bisa dijadikan tolak ukur silaturahmi. Dengan berbahasa asing yang benar bukankah kita dua kali diuntungkan sebagai negara yang berbudaya sopan dan menghargai orang asing tentunya. Mereka justru lebih respek ketika kita sebagai tuan rumah bisa menyediakan informasi yang mereka butuhkan dalam bahasa yang mereka mengerti dengan baik. Bukankah begitu teman.

gambar diambil dari istockphoto

09 February 2009

MERINDUKANMU

Walpap (2086)

Menatap indahnya senyuman di wajahmu membuatku terdiam dan terpaku

Mengerti akan hadirnya cinta terindah saat kau peluk mesra tubuhku

Banyak kata yang tak mampu ku ungkapkan kepada dirimu

Aku ingin engkau selalu hadir dan temani aku

Disetiap langkah yang meyakiniku kau tercipta untukku

Sepanjang hidupku

Meski waktu akan mampu memanggil seluruh ragaku

Kuingin kau tahu ku selalu milikmu yang mencintaimu

Sepanjang hidupmu

(Tercipta Untukmu By Ungu)

Merindukannya membuat saya jadi sedikit melankolis saat mendengarkan lagu ini. Saya belum bisa merangkai kata untuk mengungkapkan rasa yang ada. Saya hanya menginginkan dia ada disini, duduk disebelah saya, menemani. Langkah ini terasa berat karena sepasang kaki yang biasa menopang dengan setia harus terenggut. Ternyata berjalan dengan dua kaki telah membuat perjalanan ini menjadi timpang. Saya ingin dia selalu hadir dan temani saya.

Untukmu, lagu ini saya nyanyikan dalam hati setiap hari. Betapa saya merindukan kehadirannya.

DIAPUN PUNYA PERASAAN

Desember 2008 

Sarah, lebih baik saya menyebutnya begitu. Remaja tanggung 15 tahun anak seorang pejabat daerah, cukup disegani, yang karena kekhilafan sesaat membuatnya saat ini mendekam ditempat yang tidak seharusnya. Sebelum berada ditempat ini dia menikmati masa ABGnya di sebuah sekolah negeri. Cantik, tinggi, berkulit putih, polos dan menawan. Siapapun yang melihatnya tidak akan percaya bagaimana profil sepertinya bisa melakukan tindakan kejam, yang menorehkan luka di hati orang-orang yang begitu mencintainya.

Beberapa kali saya bertemu dengannya ditempat yang sama. Tempat tidur dorong bagi pasien yang biasa kita temukan di lorong-lorong rumah sakit. Dia selalu duduk diatasnya bersila kaki sambil memperhatikan setiap pengunjung yang datang. Matanya menatapi mereka dengan tatapan yang sulit saya cerna. Mungkin penyesalan. Mungkin juga kerinduan mendalam akan rumah dan orang-orang tercinta. Papa yang belum pernah saya lihat menjenguknya atau mama yang hanya sesekali berani menampakkan diri.

Saya mengerti. Sangat mengerti reaksi orangtuanya yang merasa malu dan tertekan oleh penghakiman masyarakat karena kondisi sarah saat ini. Bukanlah suatu kebanggan jika anak perempuan tercinta saat ini dipaksa keadaan berada di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 2A. Walaupun Sarah tidak dikurung dalam sel sebagaimana para tahanan atau tahanan titipan lainya. Tetap saja tidak mengurangi penilaian orang terhadap dirinya dan orangtua. Seringkali prasangka dan penghakimanan orang disekitar kitalah yang justru memperburuk keadaan.

Sarah dituntut 9 tahun. Saya sedih membayangkan masa depannya. Jika 9 tahun itu benar terjadi bayangkan saja bagaimana kehidupan masa remajanya berkumpul dengan narapidana dari berbagai latar belakang kriminal. Well, Walaupun ada sel khusus untuk anak-anak dibawah umur. Tetap saja saya sedih membayangkan keberadaannya disana. Berkumpul dengan anak-anak yang pastinya melakukan tindak kriminal, mungkin saja, kelas berat. Membuat hati begitu miris. Saya tidak bisa membayangkan senyum yang selalu tersungging di bibirnya akan hilang ditelan kekerasan hidup di balik terali besi.

Hari ini sekali lagi saya bertemu dengannya bukan di Lembaga Pemasyarakatan tapi di Pengadilan. Sidang putusan kasus Sarah akan menentukan masa depannya. Melihatnya turun dari mobil tahanan berjalan dengan kepala tertunduk didampingi sang adik membuat perasaan saya tak menentu. Semua mata tertuju padanya. Sejumlah kalimat tanpa sensor keluar dari mulut mereka. Menuding, menatap tajam padanya sambil berbisik seakan-akan dialah manusia paling berdosa didunia. Tanpa ampun mereka ‘menghukum’ dengan tidak memperdulikan perasaannya.

Sarah memang malakukan kesalahan yang tidak termaafkan logika. Tapi jangan lupa bahwa dia hanya ABG 15 tahun yang karena kepanikan melakukan kesalahan itu. Cobalah tanyakan padanya apakah dia bahagia saat ini? Tentu tidak! Apakah dia melakukan karena memang suka membunuh? Tidak! Jika sidang kasusnya bukan sidang tertutup semua mata bisa melihat betapa menderita dan tertekan jiwanya ketika hakim dan penuntut umum bertanya tentang kejadian siang itu. Dia sering tak mampu untuk menjawab hanya menangis. Sarah pun terluka dan tidak percaya dengan apa yang telah dilakukannya.

Perasaan bersalah itu telah menghajar dirinya berulangkali, menghantui tidur malamnya. Masihkah harus ditambah dengan penghakiman masyarakat. Saya tidak membelanya. Sayapun tidak menyetujui perbuatannya. Saya hanya ingin bertutur dari sudut pandang yang berbeda. Sudah terlalu banyak orang dan wartawan yang menudingnya. Mengarahkan telunjuk pada dirinya. Meneriakinya pembunuh. Saya tidak ingin menambahnya. Buat saya sarah tetap salah namun dia layak untuk mendapat kesempatan kedua. Kesempatan untuk berubah.

Ketika pintu ruang sidang terbuka. Sarah berjalan tertunduk sambil terisak. Menutupi sebagian mukanya. Berjalan cepat menghindari bidikan kamera para wartawan. Berjalan kearah mobil tahanan yang akan membawanya kembali ke Lembaga Pemasyarakatan. Hari ini sidang memutuskan 2 tahun 8 bulan padanya. Bagaimana? Entahlah saya pun tidak tahu harus lega atau merasa tidak adil. Naik banding. Ya pihak keluarga memilih banding dengan keputusan itu. Pendapat saya? Entahlah saya malah ingin dia menjadi tahanan kota atau tahanan rumah saja sehingga dia masih bisa meneruskan pendidikan.

Tuntutan 9 tahun telah menjadi 2 tahun 8 bulan adalah hal yang luar biasa bukan. Sarah dihukum karena diduga telah membunuh bayi yang baru saja dilahirkan di kamar mandi rumahnya. Saat itu dia merasa sakit perut, ingin buang air besar. Masuk kamar mandi, jongkok di kloset dan betapa terkejutnya Sarah karena bukan ‘sampah’ yang keluar tapi seorang bayi mungil yang kemudian meluncur begitu saja. Kepala bayi mengantam lantai kamar mandi. Bayi mungil itu menangis Sarah panik, berusaha berdiri mengangkat bayinya yang kemudian terjatuh kembali karena tubuhnya masih sangat lemah.

Bayi mungil itu terlempar kelantai 3 kali. Lalu diam seketika, tidak ada tangisan lagi yang keluar, bayi itu sudah meninggal. Sarah memotong tali pusar bayi dengan obeng yang tergeletak di sebelah pintu kamar mandi. Membersihkannya dan meletakkan bayi malang itu dalam kantong plastik hitam. Dia berjalan kembali ke kamarnya. Menyimpan bayi yang telah meninggal itu dalam lemari pakaian. 3 hari kemudian salah satu saudaranya mencium bau bangkai. Sarah panik. Tanpa pikir panjang kantong plastik hitam itu dibuang begitu saja diselokan depan rumahnya.

Teka-teki itupun berakhir ketika polisi menjemput Sarah dari sekolahnya. Sejak hari itu kasusnya menjadi pembicaraan banyak orang. Namun bagi saya Sarah tetaplah anak manis yang begitu polos. Saya senang ngobrol dengannya. Seringkali saya melihat tatapan kosong matanya. Dia menyesal telah membunuh bayinya. Tapi dia lebih menyesal dengan penilaian masyarakat padanya dan keluarga. Semua orang pernah melakukan kesalahan bukan? Dan ketika penyesalan muncul, buat saya alasan itu sudah cukup untuk memberinya kesempatan kedua.

Dan ketika dia selesai menjalani hukumannya berapa tahun pun itu, saya ingin menjadi orang yang menerima dia apa adanya sebagai teman. Walaupun usia kami terpaut jauh. Orang-orang seperti Sarah butuh ketulusan kita untuk bisa menerima keberadaan mereka. Tanpa mengungkit masa lalu. Tanpa embel apapun. Memberi dukungan agar dia tetap memiliki semangat menjalani hidup barunya. Tetaplah berjuang Sarah, jangan pernah takut menegakkan kepala karena hidup akan selalu memberi ruang bagi perubahan.

TANJUNGPINANG

Kota ini dikelilingi oleh lautan dan pantai yang indah, memiliki sunset cantik dikala senja dan bersahabat dengan matahari ketika petang menjelang. Namun diwaktu malam menawarkan angin yang lumayan kencang bertiup. Kota tempat lahirnya gurindam duabelas yang sempat membuat saya susah tidur untuk menghafalkan 12 syair penuh makna. Hei, syairnya memang 12 teman tapi dari yang dua belas itu mengandung begitu banyak bait dan baris yang harus dihafal. Sanggup? Coba saja. Saya pernah sempat ‘mabok’ untuk menghafalkannya dimasa sekolah dulu.

clip_image002 Sunset

Ada dua jalan masuk menuju kota ini, laut dan udara. Saya lebih senang membahas laut. Bukan karena saya selalu terpesona dengan keindahannya. Namun karena masuk ke kota ini melalui laut telah ada sejak dulu. Bandara di kota ini baru saja ramai kembali setelah kota ini menjadi provinsi nomor sekian di Indonesia. Ferry, kami menyebut salah satu alat transportasi untuk bisa sampai ke kota ini. Bisa dari Batam atau Singapura dan Malaysia. Berjarak hanya sekitar 1 jam dari Batam, 2,5 jam dari Singapura dan Malaysia. Menjadikan kota ini alternatif bagi wisatawan untuk berlibur.

Tidak hanya wisman Singapura dan Malaysia banyak juga lho wisman Amerika dan Eropa mampir ke kota yang luasnya hampir sama dengan Singapura. Banyaknya obyek wisata ditawarkan oleh Pemda setempat yang akhirnya membuat kota ini selalu ramai mulai jumat malam sampai minggu sore atau ketika hari-hari libur lainnya. Kebanyakan wisman memilih untuk langsung menginap di obyek wisata yang ditawarkan. Sering juga mampir dulu ke pusat kota Tanjungpinang untuk nantinya melanjutkan perjalanan ke obyek wisata dengan menggunakan fasilitas yang tersedia.

Ketika ferry masih dilaut pun kita sudah bisa menikmati keindahan water front kota ini. Tembok batu yang dihiasi dengan tempat duduk. Silahkan jika ingin bersantai disana menanti senja turun. Sambil mengarahkan mata pada tugu yang melambangkan kekayaan kota ini yang diatasnya –sayang- sekarang kosong. Dulu pernah ada patung Raja Ali Haji Fisabillilah dan beberapa prajuritnya berdiri tegak menghunus pedang. Indah. Namun keindahan itu telah tergantikan oleh perdebatan tokoh dan masyarakat setempat. Akhirnya patung itu harus diganti dengan yang lebih mencitrakan kota ini.

Walaupun kerajaan Raja Fisabillilah dulunya terletak di pulau penyengat tapi satu yang mereka lupakan bahwa pulau penyengat merupakan bagian dari kota ini. Selain itu Raja Fisabillilah adalah satu-satunya raja yang berasal dari melayu Tanjungpinang. Mau tau jarak antara kota ini dan pulau penyengat? Hanya 15 menit naik perahu motor. Hari-hari tertentu bahkan mesjid yang terbuat dari campuran semen dan putih telur di pulau penyengat terlihat begitu indah dari kota ini. Jadi wajar rasanya jika patung raja Fisabillilah kembali bersemayam di atas tugu itu.

clip_image004 Patung Raja Ali Haji Fisabillilah

Ketika malam datang, deretan lampu jalan, rumah penduduk dan gedung perkantoran seakan berlomba memberikan sinar terbaiknya untuk mengucapkan selamat datang. Water front yang dibangun untuk menahan gelombang ferry datang dan pergi di perindah dengan pujasera dan taman bermain anak anak. Sementara para orang tua bisa memilih duduk santai di jejeran taman kecil yang dihiasi pepohonan dan bangku batu yang sangat nyaman sambil menyantap jajanan tentunya. Bahkan rasa penat setelah seharian bekerja pun hilang dengan suasana seperti itu.

Jika perut protes minta diisi silahkan ke OceanCorner, menikmati berbagai hidangan khas Indonesia, tinggal pilih sesuai selera saja. Ada sate ayam, pekmpek Palembang *rahasia ya penjualnya orang padang*, ikan bakar *ini sih menu andalan kota ini*, nasi goreng dan sodara sodaranya ityu, nasi dagang, bingung? Nasi uduk teman, dan beraneka minuman mulai dari kaleng sampe ice juice *harap dibaca I ce ju i ce dengan logat sunda kental* haits cari perkara. Harganya terjangkau. Ya standar kota ini tapi jangan coba membandingkan dengan harga makanan Jakarta. Bisa protes gak rela.

clip_image006 Suasana malam di OceanCorner

Ferry tiba di dermaga Pelabuhan Sri Bintan Pura, diatas lotengnya terdapat tulisan Selamat Datang ‘Welcome’ dan Selamat Jalan ‘Have a nice trip’. Jadi kita pilih Selamat datang saja disesuaikan dengan kondisi gityu lho. Turun dari ferry bukan saja disambut oleh para potter tapi angin kota ini siap memberikan kesegaran setelah selama beberapa jam hanya duduk diam dalam ferry. Sepanjang perjalanan menuju ke luar pelabuhan banyak sopir taxi yang pasti akan menawarkan jasa mengantar. Jangan kuatir di kota ini sopir taxi masih punya hati nurani. Tarif mereka sekitar Rp. 10,000-25,000. 

Tidak hanya pemandangan water front yang indah. Namun kota ini pun menawarkan tempat-tempat hiburan yang menyenangkan. Suasana pantai, olahraga air dan makanan. Jika datang ke kota ini makan di Potong Lembu menjadi keharusan. Belum ke Tanjungpinang kalau belum makan di Potong Lembu. Jangan tanya kenapa dinamakan seperti itu, sejak dulu pun saya selalu bertanya. Sayang belum ketemu jawabannya. Hanya selentingan saja terdengar, belum cukup rasanya dijadikan kepastian awal mula cerita tempat ini. Kata orang, dulu daerah ini dijadikan tempat penjagalan lembu.

Banyak sekali hotel murah disini. Tapi jika ingin memilih hotel yang lumayan bagus saran saya menginap saja di hotel Kaputra atau Laguna. Jika kamu penggemar travelling dengan budget murah, hotel Sanno dan Jojo bisa dijadikan alternatif. Walaupun bertarif murah tetap aman dan nyaman. Letak hotel yang dekat dengan pusat kota membuat kita lebih leluasa berjalan kaki menjelajahinya. Gak perlu naik angkot gitu? Gak usah deket kok. Kota ini sangat kecil bahkan jika dikelilingi pun hanya menghabiskan waktu 1 jam, semua telah terjelajahi.

clip_image008 Aktivitas siang hari Tanjungpinang

Wah ternyata matahari telah sampai diatas kepala. Lihat jam, ternyata sudah waktunya makan siang. Pantas saja perut sudah bernyanyi sumbang. Yuk, kita cari tempat makan yang enak, bersih dan murah. Hmmm, Kedai kopi Segar sepertinya cocok untuk memanjakan lidah siang ini. Masakan Indonesia asli berbumbu, soto dan es gunung. Hah, es gunung hanya ada disini. Isinya mirip es campur ditambah dengan kacang merah dan beberapa bahan yang saya tidak tahu namanya. Segar. Masih kurang bisa pesan juice buah yang diatasnya ditambahkan ice cream. Enaknya.

Atau ingin menu lain ada ayam bakar madu, bakso solo yang enak banget atau kita kuliner ke Gerai yuk. Disana ada sayur asam, ikan bakar, ayam bakar bumbu rujak atau bumbu kecap. Sambalnya paling enak sejagat. Itu aja? Gak dong. Kamu suka Chinese food? Banyak. Oya ada mie miskin. Enak lho cuma ada di kota ini. Atau ketoprak. Eit, tunggu dulu, ketopraknya beda dengan ketoprak Jakarta. Kuah kacangnya enak banget. Saya biasa memanggil penjual ketoprak itu dengan sebutan pakde. Jika ingin mencoba tantangan baru kita ke Jl. Basuki Rahmat. Disana ada restoran masakan melayu. Makanan yang tersedia semua melayu sekale.

Bosan pelesir di dalam kota. Teruskan saja perjalanan ke tempat-tempat indah lainnya. Lagoi namanya. Kawasan resort yang sangat luas ini dikelola oleh perusahaan lokal yang diinvestori oleh perusahaan asing kebanyakan dari Singapura. Sumber dana dan daya manusia lokal belum mampu untuk mengembangkan dan mengelola kawasan resort seperti Lagoi. Selain wilayah yang terbilang luas. Juga banyak pulau-pulau kecil berjarak beberapa kilo dari pantai yang bisa diberdayakan. Membutuhkan dana yang sangat besar. Lebih baik serahkan saja pada investor, mereka lebih berpengalaman.

clip_image010 Pasir putih ini menjadi favorit saya

Alam menganugerahi Lagoi dengan pantai yang sangat indah. Pasir putih terbentang sejauh mata memandang. Pohon-pohon bakau terawat dengan baik. Ditambah lagi pepohonan kelapa yang menambah kesejukan mata melihat kehijauannya. Dipermanis pula oleh bebatuan pantai yang telah ada sejak saya kecil. Batu-batu alam ini favorit saya. Senang rasanya bisa memanjat dan berada diatasnya sambil berteriak sekeras-kerasnya, sesuka hati. Atau tertawa ketika melihat anak-anak kecil berusaha menaikinya. Mengingatkan akan masa kecil saya.

Kurang lengkap rasanya jika tidak menginap di kawasan resort ini. Lihat ada beberapa resort yang bisa dijadikan alternatif menginap. Tarifnya lumayan mahal karena mata uang Rp tidak berlaku di sini, sssttt hanya USD dan Sin$ saja yang tercantum disetiap daftar harga. Jika Rp yang kamu bawa siap-siap nangis bombai untuk dikonversi kedalam 2 mata uang tersebut. Jangan heran walaupun Lagoi termasuk wilayah Indonesia tapi mata uang yang beredar di Lagoi memang mata uang asing. Wajar toch kawasan ini juga dibangun bukan untuk wisatawan lokal. Sasaran mereka adalah wisatawan asing.

clip_image012 clip_image014

clip_image016 clip_image018 clip_image020pemandangan indah dari beberapa resort

Menyenangkan bukan. Duduk di tepi kolam kecil menyambut senja yang sebentar lagi akan turun. Cepatlah tidur malam ini karena besok olahraga air telah menanti kehadiranmu, teman. Banana Boat, Snorkling, Canoe, Selancar, Diving, atau hanya berkeliling naik boat. Mulai dari 15 menit – sesuka hati saja. Jangan lupa siapkan USD atau Sin$ sebagai alat transaksi. Saya sudah bilang belum jika Rp harus rela dikonversi ke dalam 2 mata uang asing tersebut. Jangan heran lagi dong ini sudah aturan mainnya. Nikmati saja keindahan dan kenyamanan yang ditawarkan.

clip_image022 clip_image024 clip_image026 clip_image028

Lelah berolahraga air seharian ini. Tuh ada tempat untuk bersantai. Silahkan lapor pada petugas jaga maka salah satu dari bangku itu bisa menjadi tempat kita beristirahat. Jangan lupa pesanlah minuman kesukaanmu, teman, sekalian cemilannya. Berbaringlah, lupakan semua rutinitas. Ketika pelayan datang membawakan pesananmu, silahkan dinikmati. Kalau sudah begini baru terpikir bahwa hidup itu indah. Rasanya tidak ingin kembali ke kantor bukan? Hembusan angin sepoi-sepoi diwaktu sore, memandang langit biru dan riak-riak kecil dipantai membuat mata pastilah tidak bersahabat.

clip_image030

Tidurlah teman, jangan khawatir para penjaga pantai akan membangunkan jika malam mulai turun. Bermimpilah. Mimpikan suatu hari nanti akan kembali lagi ke tempat ini. Tentunya bersama keluarga dan orang tercinta. Semoga kita bersilangan jalan di pantai ini tahun depan. Siapa tahu saya akan mengenalimu lebih dulu. Untuk kamu yang masih merencanakan perjalanan akhir tahun bisa lho jadikan tempat ini sebagai alternatif.

Indah bukan kota ini. Jika ada yang bertanya tempat seindah ini ada dimana sebut saja Tanjungpinang, Pulau Bintan. Melayu bahasanya. Penduduk lokal menyebutnya kota gurindam. Karena gurindam 12 lahir disini. Kecil kotanya namun telah menjadi tempat tujuan wisata bagi turis asing. Ssssttt, inilah kota kelahiran saya. Jangan lupa namanya Tanjungpinang.

Ket: Beberapa foto diambil dari internet

LOVE IS BLIND

Walpap (2498)

Ada yang baru saya sadari bahwa Love Is Blind. Ternyata cinta itu bisa datang pada siapapun, tanpa memandang status siapa yang dihampiri. Masa sih? Gak percaya coba cermati video klip lagu terbaru dewi 'dee' lestari ‘Malaikat Juga Tahu’. Pemeran utama pria dalam video klip itu adalah Lukman Sardi yang berperan sebagai seorang lelaki yang pada awalnya saya pikir keterbelakangan mental. Ternyata saya salah Lukman Sardi berperan sebagai pria dewasa penyandang autis.

Pertama kali melihat video klip itu saya tidak mengerti jalan cerita apalagi pesan yang ingin disampaikan. Dengan penjelasan seorang sahabat dan membaca tulisan dewi lestari baru saya mengerti bahwa video klip itu mengangkat kisah nyata seorang pria 38 tahun yang terperangkap dalam mental anak 4 tahun. Dia penderita autis yang tidak tertangani dengan baik. Bukan karena biaya! Saat itu dunia kedokteran belum secanggih sekarang sehingga penderita autis hanya bisa menerima kenyataan hidup tanpa mengenal cita cita.

Hidup dengan lakon yang sama. Tidak mengenal toleransi hanya mengerjakan aktifitas yang sama, diulang-ulang setiap hari. Tapi jangan salah walaupun pria ini penyandang autis namun dia bisa jatuh cinta. Sekali lagi dia jatuh cinta. Bukan pada sabun mandi koleksinya, bukan pula pada rutinitasnya. Dia jatuh cinta pada seorang wanita. Adil bukan? Tuhan itu adil bukan? Disatu sisi pria ini tidak bisa berinteraksi secara normal juga tidak bisa menjalani kehidupan seperti orang lain tapi Tuhan memperkenalkannya pada cinta.

Stop disini. Coba baca tulisan Dewi Lestari yang berjudul ‘Malaikat Juga Tahu’ di www.dee-rectoverso.com

Apakah sekarang kamu setuju dengan saya bahwa Love Is Blind ?

Ketika melihat video klip ‘Malaikat Juga Tahu’ untuk kedua kalinya saya terkesima. Sungguh takjub dengan keberadaan cinta. Terpesona dengan kekuatan cinta yang bisa menarik dan menghadirkan siapapun dalam hidup. Bahkan dalam hidup seorang pria autis sekalipun yang bahkan sulit mengenali dirinya sendiri. Cinta tetap ada –untuknya-. Buat saya itu luar biasa. Sebelumnya saya tidak pernah melihat keajaiban seperti ini terjadi, menyadarinya pun tidak. Karena saya pernah dekat dengan kehidupan penderita autis.

Saya takjub dengan kehidupan. Karena hidup selalu memberikan hadiah hadiah terindah. Cinta salah satunya. Dengan cinta kita mampu berkorban nyawa sekalipun. Ingat Juliet yang begitu cintanya pada Romeo sampai matipun dijadikan solusi untuk mereka tetap bersama. Dengan cinta seorang ayah mampu bekerja keras untuk bisa memberikan kebahagian pada anak laki-laki semata wayangnya. Coba nonton The Pursuit of Happiness.

Dalam One Night with The King, Demi cinta, raja Xerxes sanggup mengabulkan permintaan -yang tidak masuk akal- Hadassah alias Ester, ratu Persia untuk membebaskan rakyatnya dari perbudakan. Karena cinta seorang ibu sanggup melakukan apapun untuk menghadirkan anaknya kedunia ini. Lihat pengorbanan ibu kita saat mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan. Dan dengan cinta juga kita bisa bertahan sampai saat ini dengan pasangan kita walau tidak jarang ketegangan dan perselisihan terjadi.

Ternyata cinta itu sederhana sekali. Datang, masuk dan hidup di hati. Indah dan terbuka. Ketika kita mencintai seseorang bukankah kita selalu ingin berbagi dengannya. Selalu ingin berada didekatnya, menemani melewati masa masa tersukar dan berbagi tawa saat bahagia. Bukankah kita selalu ingin jujur padanya. Dalam segala hal tanpa ada yang ditutupi. Keterbukaan istilahnya. Bukankah cinta itu selalu seimbang, jika telah diberi juga akan memberi bukan untuk membalas tapi untuk mengungkapkan cinta dengan cara yang lebih kreatif dan hidup.

Namun kadang cinta bisa berubah di tengah jalan. Sehingga seringkali telunjuk yang diciptakan Tuhan untuk tujuan mulia digunakan untuk menuding orang tercinta. Ketika cinta berseberangan jalan dengan harapan seringkali cinta ditinggalkan dengan alasan klise, sering malah tidak masuk akal. Namun bagi saya cinta tetaplah sederhana. Sesederhana mensyukuri hidup. Sesederhana seorang penderita autis bisa menulis surat cinta pada wanita pilihan hatinya.

Bagi saya cinta tidak pernah berubah. Cinta tetap sama. Tetap mampu membuat kita tersenyum sendiri seperti orang gila. Dan cinta tetap buta. Love is Blind ternyata itu benar. Keinginan kitalah yang membuat cinta itu tidak lagi buta. Biarkan saja cinta selalu buta karena cinta terlahir tanpa sekat. Cukup dirasakan tidak perlu dipikirkan. Hmmm, Sudah siapkah kawan untuk menerima kehadiran cinta dan tetap membiarkannya selalu buta ???

Tulisan ini terinspirasi dari lagu dan tulisan “Malaikat Juga Tahu”-nya Dewi 'dee' Lestari, Bisa dilihat di www.dee-rectoverso.com. Lagu yang mampu merubah cara pandang saya tentang cinta.

SOPAN ITU MAHAL SEKALE

Kesopanan itu mahal harganya saat ini. Di era globalisasi dan modern seperti sekarang ini, yang segala sesuatu serba instan tenyata sudah banyak orang yang menganggap sopan itu kelaut aja. Seperti kejadian barusan saat saya sedang mengantri dengan tertibnya di depan kasir sebuah swalayan besar di daerah saya. Sedang menunggu giliran untuk membayar saya iseng melihat tumpukan minuman botol di letakan berjejer rapi jali di atas rak. Saya tertarik dan berjalan melihatnya. Keranjang saya letakkan di tempat saya mengantri ditemani oleh kakak saya. Sedetik kemudian ketika saya balik lagi ke antrian, tiba-tiba ada seorang wanita muda yang berumur awal 20-an menyerobot antrian saya tanpa membawa belanjaan apapun.

Tangannya benar-benar kosong bahkan selembar kertas tanda bukti pembelian yang membutuhkan nota pun tidak ada. Saya menoel pundaknya dan menegur kelakuan super sembarangannya itu. Dia menatap saya –mundur- sambil marah-marah yang intinya seharusnya saya menaruh keranjang belanjaan saya dalam antrian. Saya menoleh kearahnya dan perdebatan mulut pun terjadi. Dia keukeh jumekeh bahwa sayalah yang salah.

Excuse me, I beg your pardon, please, bukankah seharusnya saya yang marah? Well, bagus sekali pembelaan diri yang dilakukannya padahal keranjang belanjaan dan kakak saya telah antri sekian menit disana. Tanpa minta maaf dia terus mengomeli saya. Yang akhirnya membuat kemarahan saya sampai juga diubun-ubun. Saya pun meledak dalam bahasa yang sulit ditangkap dan dicerna oleh otaknya *kale*. Karena setelah itu dia masih saja menyalahkan saya dan berbicara dengan tidak sopannya. Catat dengan tidak sopannya.

Kepada temannya yang sedang mengantri di kasir sebelah dia berbicara dalam bahasa daerah yang tidak saya mengerti. Saya mengarahkan padangan pada kakak saya yang malah disambut dengan senyum penuh arti. Dengan santai kakak saya malah tersenyum sinis sambil berkata: “Ngeladenin orang kampung kayak dia malah bikin kita ikut-ikutan jadi kampungan!”

“ …………????”

Wanita awal 20-an yang telah menyerobot antian saya tadi pergi tanpa membayar apapun dikasir. Melewati palang pintu masuk untuk berjalan keluar akibatnya separuh badannya tersangkut disana. Excuse me once again, FYI neng itu pintu buat masuk bukan keluar. Saya dan kakak menatap wanita itu dengan senyum lebar. Orang-orang disekeliling saya yang melihat kejadian penyerobotan itu pun melakukan hal yang sama, ikut tersenyum sambil berbisik-bisik.

Hare gene masih ada aja lagi orang keras kepala gak tau aturan kayak gitu. Sudah salah dengan menyerobot antrian orang. Dikasih tau malah ngotot dan marah-marah pula. Kelaut aja neng. Sekali lagi kesopanan itu sekarang ternyata mahal harganya. Lebih banyak orang orang keras kepala yang selalu menganggap dirinya benar. Padahal kesalahan itu sudah terlihat didepan mata.

Tulisan ini hanya untuk ngeluarin unek-unek aja.