05 September 2010

PENGECUT KAU!!!

Pengecut, kau pikir melarikan diri ke tengah hutan belantara, ujung samudera, desa primitif, ujung dunia tempat paling aman untuk bunuh diri. Tak perlu sejauh itu. Kau tahu, dirumahku banyak pisau yang bisa kau gunakan jika ingin bunuh diri. Dunia akan menertawakan kebodohanmu. Menganggapmu bodoh. Maka semakin bodohlah kau.

Kau pikir apa tujuan masalah ada dalam hidup manusia. Hey, aku bilang manusia bukan. Baca, m-a-n-u-s-i-a, jadi bukan kau seorang. Semua manusia punya masalah. Kau bukan satu-satunya di dunia ini. Jadi jangan bertingkah aneh. Masalah itu hal biasa temen. Tapi kenapa kau mendramatisirnya menjadi hal besar. Seakan-akan dunia berhenti tanpa dia.

Aarrrrrhhhh, kau gila. Kau gila! Bahkan orang lain pernah merasakan yang lebih dari lukamu. Kau hanya kehilangan seorang. Menangis, aku maklumi itu. Tapi jika ‘berdarah-darah’ seperti ini? Kau pikir pantas atau tidak? Jawab aku! Hidup itu hanya satu kali dan kau sepengecut itu untuk bangkit lagi dari keterpurukan yang katamu sangat dalam. Bah, sampai disini aku tidak mengenalmu lagi.

Benar, kau sudah berubah hanya karena satu masalah. Aku mengerti perasaanmu. Aku tahu rasanya seperti apa. Aku pernah ada disana. Jadi tarik kata-kata putus asamu itu hanya demi melegalkan sikap cengengmu. Kau pikir hidup yang kujalani semulus jalan tol dari rumah ke kantormu. Kau pikir hidupku selalu sebahagia saat ini.

Aku tidak ingin menceramahimu. Hidup akan terasa indah jika kau bisa  bangit dari keterpurukan yang dalam *katamu*. Menghilang dari orang-orang yang kau cintai. Bersembunyi dari orang yang melukaimu. Hebat! Sudah puas kau. Sudah sembuh lukamu. Apa yang bisa kau dapatkan dari cengengmu itu. Bukankah hanya airmata yang semakin banyak.

Kalau begitu caramu melupakan dia. Jika begitu caramu menyembuhkan luka itu. Ya sudah, menangislah lebih sering. Semoga saja suatu saat Tuhan menjawab doaku untuk menguras airmatamu itu. Biar kau tidak perlu menangis lagi seumur hidupmu. Ada aku, ada orang-orang yang mencintaimu, merindukanmu, tapi kenapa matamu hanya melihat satu titik saja. Dia dan dia.

Ketika dia meninggalkanmu, dia meninggalkan luka disatu hati saja. Tapi ketika kau meninggalkan kami, kau meninggalkan luka dibanyak hati. Bangkitlah, jangan demi aku, jangan pula demi kami. Bangkitlah demi dirimu sendiri. Habis sudah kata-kataku membujukmu. Sekali ini aku ingin memarahimu, memakimu dan menjulukimu pengecut.

Buat kau dimanapun berada. Aku ingin kau kembali menjadi dirimu sendiri. Maaf, bukan dirimu yang sekarang. Aku ingin kau yang dulu. Agar aku punya teman berantem lagi. Aku merindukan kau.

22 August 2010

KLIK = INDAH

Tuhan menganugerahi kota ini dengan keindahan luar biasa. Pantai dengan hamparan pasir putih, gulungan ombak yang bersahabat dengan bibir pantai dibingkai oleh langit biru, kadang jika sore bias keemasaan dapat terlihat teman. Hampir semua pantai yang ada dikota ini dijadikan obyek wisata. Dengan batu-batu alami yang ada entah sejak kapan.

Agak ketengah sedikit terlihat betapa indah pemandangan didepan mata walaupun hanya hamparan pulau-pulau. Jangan dikira tak berpenghuni. Sejak lama banyak resort dibangun disana, hanya untuk kalangan tertentu. Para turis dimanjakan dengan fasilitas kelas dunia harga lokal. Pastilah mereka senang duduk berlama-lama bahkan ditepian laut sekalipun.

Tanjungpinang, Kota Gurindam dua belas, tepi laut, gong-gong, jagung bakar, bakso, siomay, sate ayam, mie ayam tak lupa ditemani secangkir kopi yang diseruput pelan-pelan seiring dengan terbenamnya matahari sore. What a wonderful day, by day. Life is never end. Terasa ada magnet yang menarik saya untuk selalu merindukannya.

06072010719 Tepi laut sore hari

06072010723 Bias sunset

01062010432 Senja biru

01062010433 Matahari

05062010439  Pasir putih

ANEH TAPI ADA

Awalnya gak ngeh kalau ada sesuatu yang aneh dengan pohon ini. Kelapa kan biasanya berbentuk bulat tapi yang satu ini bentuknya lonjong. Aneh, secara saya baru pertama kali ketemu buah kelapa berbentuk lonjong begini. Sebelum dimusnahkan alias ditebang saya photo dulu ah mana tahu bisa masuk muri *ngareppppp mode on*.

19082010828 

19082010829     

19082010827

Lokasi: Airport Raja Ali Fisabillilah Tanjungpinang

19 August 2010

PILIHAN

youCN_4333 Dulu saya berteman akrab dengannya. Polos, lugu, manja bahkan terkesan naif. Banyak hal yang membuatnya bengong bego karena ketidakmengertiannya. Saya pernah nungging-nungging pengen jedotin jidat dilantai *hiprbola deh* sangking terlalu polosnya dia.

Banyak pria yang sukses nempel kayak prangko dan dia hanya menjadikan mereka semua kakak, abang, mas, bung, uda terserah bagaimana mengistilahkannya. Semua anggota keluarga sangat memanjakannya, seringkali dengan cara yang berlebihan. Dibandingkan dengan saudara-saudaranya dia yang paling lebih. Lebih segalanya terutama dalam hal fisik.

Entah apa atau siapa yang membuatnya berubah. Saya bilang berubah bukan? Ya BERUBAH dari manusia jadi ‘manusia’. Bentar, bentar…. ‘manusia’. Ya manusia dengan tanda kutip *kali ini pake p bukan f*. Entah apa yang menyebabkan perubahan itu. Berubah selalu ada sebab bukan. Selalu ada alasan pendukung. Dan saya ingin sekali tahu alasan itu.

Tanya saja padanya? Gak Mungkin! Atau culik saja dia, sekap dalam sebuah kamar pada rumah kosong tak berpenghuni di tengah hutan dan interogasi dia jika masih diam. Hiperbola lagi deh. Gak mungkin teman! Tidak semudah itu. So, yang bisa saya lakukan adalah berasumsi. Saya kira dia begini dan begitu. Mungkin dulu dia pernah begitu dan begini. Atau Saya rasa sih si anu telah melakukan ini dan itu padanya.

Sejak SMU dia telah mengambil keputusan yang sangat berat untuk anak seusianya. Menjadi wanita penggoda. Mengoda suami orang. “Jika anda tergoda om saya akan memberikan’nya’ dan om wajib menafkahi saya”. Do you think that this is simple life? Do you think that this is easy? Anak SMU, usia belasan tahun mengambil keputusan untuk hidup dinafkahi om-om tanpa imbalan. Come on, bullshit, right.

Tapi toh memang itu pilihan hidupnya. Sampai sekarang. Mengaku sebagai pebisnis yang sering keluar negeri, dia melakoni ‘drama’ dan menciptakan sejuta kebohongan lain pendukung yang sebelumnya. Saya tidak ingin nyela. Sudah banyak celaan yang dia dengar. Semua orang menudingnya. Semua orang yang mengenal keluarga ini bahkan ikutan menjadi hakim atas orangtuanya. Jelas, nama baik itu sudah tidak terjaga lagi.

Coba tanyakan padanya mungkin dia pun sudah tidak perduli. Kenyataan didepan matanya lebih penting dari nama baik. Hidup harus terus berjalan bukan. Abang no 1, istrinya dan anak-anak mereka, kakak no 2, abang no 3, kakak no 4, orangtua yang sudah lanjut usia dan sakit-sakitan menggantungkan hidup padanya. Ditambah dengan seorang anak perempuan ABG dan anak laki-laki usia 5 tahun yang lahir dari rahimnya wajib dia pelihara bukan. Pikirkan teman!

Saat ini usianya tidak lagi muda. Terlihat jelas dengan make up tebal diwajah, dia berusaha keras menutupi semua itu. Persaingan teman. Diluar sana persaingan sangat ketat. Yang lebih muda, lebih cantik dan lebih segar, lebih segalanya, banyak. Namun hidup tidak akan berhenti karena semua itu kan. Bebannya tetap sama bahkan semakin berat saja.

Dan dia mengambil keputusan yang “lainnya”, beberapa waktu lalu. Pergi kesuatu ‘tempat’, menceritakan keinginannya, mendapatkan sesuatu dan pulang dengan senyum. Senyum itu ‘kematian’ bagi beberapa orang. Drama hidupnya tidak lagi sesederhana dulu. ‘Tempat’ itu menjanjikan sesuatu, kenyamanan dan keamanan baginya. Dan itu membuatnya semakin liar, tak terkendali. Bahkan pencipta jagat raya ini ditantang olehnya.

Apa yang dilakukannya salah?

Tergantung dari sisi mana menilainya teman. Saya hanya ingin melihatnya dari sisi yang lain, sisi yang berbeda. Saya tidak ingin menghakiminya. Saya hanya ingin melihat dari sudut pandang yang berbeda dari kebiasaan. Setiap orang punya prinsip hidup sendiri, dia pun. Setiap orang punya keyakinan sendiri, dia pun. Dan setiap orang punya cara hidup sendiri, dia pun…sama.

Setiap pilihan tentu ada konsekuensinya. Ada harga yang harus dibayar. Buat saya, yang terpenting dari semua itu adalah seberapa berguna harga yang kita bayar untuk sebuah pilihan. Dan seberapa pantas pilihan itu membuat kita berguna. Hidup hanya satu kali kan, membuatnya berguna rasanya itu tidak sulit.

Gambar dari: http://www.morguefile.com

20 July 2010

HIDUP TIDAK AKAN PERNAH SAMA LAGI

Saya mencintai dia setengah mati. Namun dia pergi dengan cara seperti ini. Tanpa kata perpisahaan. Saya harus siap dengan kehidupan tanpanya, disamping saya menemani seperti kemarin. Saya harus tahu cara menghadapi dunia sendirian.

Philippines,

Teroris,

Hutan belantara,

Kelelahan,

Kebingungan,

Keputusasan

dan..................

Kematian.

Saya ingat, suatu siang saya menatapnya. Mengajaknya bicara namun dia menatap dengan enggan. Saya tahu, beban ini sudah terlalu berat. Namun pada akhirnya saya putuskan untuk berkata: “Sayang,kamu harus tahu ini. Entah kamu yang mati lebih dulu atau aku. kamu harus tahu, bahwa aku bahagia ketika kamu mengajak aku menikah. Aku bahagia hidup dengan kamu. Aku bahagia menjadi istri kamu. Kamu adalah bagian terindah dan terbaik dalam hidupku. Kamu memberikan kebahagian padaku dan anak-anak kita. Terima kasih dan aku mencintai kamu selamanya”.

Tak berapa lama beselang saya menguping pembicaraan para teroris yang menyandera kami berkata bahwa tentara Philippines semakin dekat memasuki daerah persembuyian di tengah hutan belantara itu, yang saya pun tidak pasti kedalamannya. Saya dan dia senang. Namun kami tidak bisa mengekspresikan perasaan itu. Para teroris yang menyandera kami selalu berjaga-jaga. Berjalan hilir mudik sambil menggendong senapan dan terus mengawasi kami. Lelah hanya itu yang saya rasa, bahkan para teroris itu pun. 9 hari kami tanpa makan dan minum. Kami tak berdaya. Hanya selalu berdoa agar pertolongan itu segera datang. Setiap hari kami hanya bisa memupuk harapan dan semangat untuk tetap berjuang demi keluar dari tempat ini.

Saya dan dia sedang berbaring lemas di ayunan hasil karya kami. ketika tiba-tiba suara tembakan mengejutkan kami. Saya dan dia terlempar dari ayunan. Peluru itu mengenai kaki saya. Kami panik. Para teroris itu pun sama paniknya dan tidak bisa melawan. Kondisi mereka sudah sangat terjepit. tentara memborbardir kekuatan mereka & lumpuh total. Satu-satu dari mereka terkapar dengan berlumura darah. Mereka berhasil menyelamatkan para sandera. Akhirnya hari kebebasan itu datang juga.

Mereka berhasil menyelamatkan saya namun peluru dari senjata mereka ternyata juga mengenai dia. peluru itu bersarang di dada kirinya. Darah mengalir deras. Saya memanggil namanya, dia hanya mengerang. Saya memegang tangannya dan tubuh itu mengejang. Saya mendengarnya mengerang sekali lagi. Kali ini dengan nafas yang tidak biasa. Dia sekarat. Saya menaruh tangan saya pada perutnya dan merasakan nafasnya. Tiba-tiba 2 orang tentara memegang tubuh saya dan menyeret naik perlahan-lahan. Sementara pandangan saya masih terus menatap lurus tubuhnya yang tergeletak tak berdaya. Saya masih mendengar erangan nafasnya namun kali ini pelan dan lemah. Kemudian diam tak bergerak. Terakhir, ya itu nafasnya yang terakhir. Saat itu saya tahu dia telah meninggal. Tidak ada kata perpisahaan yang biasa diucapkan kebanyakan orang ketika melepas jasad orang yang dicintai. Tapi saya sadar dia tahu ucapan itu selalu ada untuknya. Mereka berhasil menyelamatkan saya namun mereka tidak berhasil menyelamatkanya, suami saya.

Tubuh saya dibawa naik ke Helikopter. Dari atas saya melihat hutan belantara tempat selama 1 tahun ini kami hidup dan berkelana sebagai sandera. Kami selalu bergerak untuk menghilangkan jejak dari tentara. Berpindah-pindah dengan kondisi seadanya. Selalunya tanpa makanan selama berhari-hari, mengikuti perintah dan kemauan para teroris. Kejam, bengis tanpa perasaan. Itulah gambara hutan itu. Namun disana juga setengah dari hati ini tertinggal. Jasad suami saya tidak pernah dikuburkan. Saya membiarkannya tergeletak begitu saja. Dan saya sangat menyesalinya. Kondisi dan kelemahan fisik saat itu membuat saya tidak bisa berfikir banyak.

…………

Terbangun, membuka kelopak mata sama beratnya dengan memaksakan hati saya menerima semua kenyataan bahwa mulai saat ini saya akan hidup tanpa dia. Hari ini adalah hari terakhir saya di Manila. Bergegas itu yang harus saya lakukan saat ini. Selesai mandi saya menatap cermin didepan, mengambil sisir dan mulai merapikan rambut. Dia ada disana. Didalam cermin. Melihatnya sedang memeluk tubuh saya lalu memandang dengan tersenyum. Saya merindukan dia. Tapi seperti katanya bahwa saya harus hidup dengan normal demi anak-anak kami. Anak-anak butuh ibu yang kuat dan tegar untuk membimbing dan mengayomi mereka.

Saya berjalan kearah jendela, Perlahan, membuka tirai dan mendapati pemandangan kota Manila yang begitu sibuk. Pemandangan itu begitu indah. Pohon, matahari, gedung-gedung, kendaraan, kesibukan bahkan kepadatan menjadi lebih indah saat ini. Untuk orang yang baru keluar dari hutan, kota ini terlihat begitu mengagumkan. Saya melangkahkan kaki, berbalik sesaat untuk melihat sekeliling kamar, menutup pintu dan berjalan menyonsong kehidupan.

Saya tahu sejak hari ini hidup akan berubah. Semua tidak akan sama lagi. Semua tidak akan berjalan seperti dulu lagi. Kebahagiaan, senyum, optimisme dan harapan itu tidak akan pernah sama lagi. Ya, semua akan berbeda namun ada satu yang tidak akan pernah berubah bahwa saya akan selalu ada untuk anak-anak kami dan…….

Selamat jalan suamiku... Hidup tidak akan pernah sama lagi… saat ini.

26 October 2009

KADO UNTUK 'KAU'

Arahkan matamu kedepan. Dan kau akan dapati betapa jalan itu masih panjang. Sangat panjang malah. Coba atur posisi berdirimu sehingga kau persis berada ditengah-tengah jalan aspal itu. Sudah. Oke, arahkan matamu kedepan sekali lagi. Ayo coba. Hey, bahkan mengangkat kepala saja kau tak berani. Kenapa? Kalau kau tak salah kenapa harus takut menatap masa depan. Jalan didepanmu masih sangat panjang. Tapi kau memilih untuk merusak hidup dan masa depanmu sendiri.

Persisnya setelah lebaran saya begitu memperhatikannya. Gayanya, baju-baju yang dipakai. Sekarang dia terlihat lebih rapi. Bahkan baju-baju yang dikenakan sepertinya baru kali ini saya lihat. Awalnya saya tidak curiga. Setelah 2 minggu kecurigaan itu terus menghantui saya. Sepertinya insting saya berkata bahwa ada yang tidak beres dengan salah satu staf saya ini. Namun saya menampiknya.

Manusia bisa berubah, saya teringat kalimat bijak itu. Kadang seorang pria urakan sekalipun bisa merubah penampilannya hanya karena cinta. Oke kecurigaan saya tidak beralasan lagi toh. Namun insting itu tetap berkata sama. Ada sesuatu yang saya rasakan tentang dia. Entah kapan mulainya tapi sore itu saya baru menyadari saya selalu mendekatinya ketika dia datang ke ruangan untuk melakukan tugasnya.

Dan ternyata itu adalah hari terakhir saya bertemu dengannya. Hari ini, ketika baru saja merasakan nyamannya duduk dikursi ini saya mendapati kenyataan yang begitu mengejutkan. Dia salah satu staf saya telah melakukan tindakan kriminal yang mungkin tak termaafkan oleh logika. Dan saya pun mengerti manusia bisa berubah seperti yang diinginkan hati. Kadang ketika logika tidak bisa lagi mengendalikan kenyataan maka hatilah akan mengambil alih tugas itu.

Kau, ya kau arahkan saja matamu kedepan. Dan kau akan dapati betapa jalan itu masih panjang. Sangat panjang malah. Coba atur posisi berdirimu sehingga kau persis berada ditengah-tengah jalan aspal itu. Sudah. Oke, arahkan matamu kedepan sekali lagi. Ayo coba. Hey, bahkan mengangkat kepala saja kau tak berani. Kenapa? Karena kau telah membelokkan arah jalan hidupmu. dan sekarang perjalananmu akan terhenti sejenak.

MAAF SAYA MENOLAK

Happy To See U 

Seringkali kita memaksakan diri. Merasa terlalu bisa melakukan sesuatu padahal ujung-ujungnya kita juga yang harus menanggung resiko malu karena tidak berhasil. Beberapa waktu lalu seorang teman mengirimkan sms ini: Ne, would you be my (English) assistance to train governor’ employees for 4 months (3 times a week)? Setelah berdiskusi dengan beberapa orang saya memutuskan untuk menolak tawaran itu. Lho kok?

Bagi teman saya mungkin sms atau ngobrol kita selama ini bisa dijadikan tolak ukur bahwa saya bisa berbahasa inggris. Karena memang saya selalu menggunakan bahasa asing itu dengan alasan untuk memperlancar saja. Biasa toh, menggunakan bahasa inggris saat ngobrol dengan teman. Buat saya itu bukan indikasi bahwa saya bisa mengajar bahasa inggris. Lancar berbahasa asing bukan berarti bisa mengajar.

Mengajar butuh kemampuan tersendiri. Tidak semua orang yang bisa berbahasa inggris dengan baik dan benar artinya bisa mengajar juga. Saya punya konsep berpikir yang beda. Dibutuhkan kapasitas tersendiri untuk bisa berdiri didepan kelas dan berbicara kepada murid. Apalagi jika penghuni kelas itu adalah pejabat ekselon. Well, ada beban mental dan moral tersendiri. Bukan karena posisi mereka adalah pejabat lebih kepada tanggungjawab untuk membuat mereka BISA.

Teman saya menawarkan bahwa saya tidak perlu menjalani tes dengan rekomendasi darinya. Dia berpikir, sangat tahu kemampuan bahasa asing saya. Hmmm, Tawaran bagus bukan. Diterima sebagai asisten karena ketebelece. Dan saya TIDAK SUKA itu. Kalau hanya ngobrol biasa saja atau diinterview sekalipun saya bisa. Saya bahkan akan menyarankan teman saya untuk menginterview jika saat itu saya bersedia untuk menjadi asistennya.

Kenapa? Karena saya tahu kemampuan saya. Saya yakin bisa lolos tes itu. Hanya tes bos, kenapa gak bisa. Trus masalahnya dimana? Ngajar bo, ngajar. Kamu pikir semua orang yang bisa ngobrol dalam bahasa inggris trus bisa ngajar juga. Oke! Kamu bisa ngobrol dalam bahasa indonesia? Bisa. Lancar? Lancar dong kan eke lokal. Kalo gitu mau gak kamu jadi asisten bahasa indonesia saya untuk melatih orang-orang amerika?

?!?

Kamu pikir ngajar bahasa indonesia cuma '”ini budi, ini ibu budi doang”. Basi, itu sih jaman kuda gigit besi. Sekarang kudanya gak doyan besi doyannya berlian. Oke, lupakan. Jadi cara mengajar bahasa indonesia di SD jadul itu sudah tidak up to date lagi. Jeng, mas, om, tante  mengajar butuh keahlian. Bahkan sebelum mengajar para guru harus mendapat pelatihan khusus dulu. Mengajar punya guide line sebagai standar yang disahkan berlaku secara nasional.

Kalaupun akhirnya kita bisa menemukan cara mengajar yang beda dari biasanya. Itu hanya kreatifitas si guru sendiri. Mungkin karena jam terbangnya *burung kali* sudah banyak. Tapi toh tidak akan keluar dari standar baku yang sudah ada. Buku yang sama dengan guru lainnya. Kerangka pelajaran yang sama dengan yang lainnya. Coba tanyakan Dewi Huges si pemilik home schooling itu dengan guru sekolah biasa yang kamu kenal. Bukankah materi pelajarannya sama?

Jadi buat saya, kita bisa berbahasa dengan baik dan benar. Mo bahasa lokal kita kek, atau bahasa asing, tapi itu tidak bisa dijadian patokan bahwa kita semua bisa menjadi guru secara formal. Saya rasa semua pekerjaan pasti lah harus disertai dengan minat. Profesi guru ada karena si guru memang punya minat untuk mengajar. Bukan karena dia tidak punya pilihan lain selain mengajar. Buat saya semua pekerjaan butuh kapasitas tersendiri.

Hal ini pun berlaku untuk seorang trainner. Saat ini saya hanya bisa berbicara bahasa inggris tapi saya tidak bisa menjadi guru atau trainner. Bahkan dibidang yang saya kuasai sekalipun, akuntansi lah emang kamu pikir apa. Belum tentu saya bisa mengajar atau train orang yang tidak bisa menjadi bisa. Untuk kamu temen maaf saya menolak tawaran itu dan penolakan ini murni karena masalah kapasitas.

17 July 2009

GUBRAK

Suatu siang yang cukup panas, terik tepatnya. Dengan latar belakang ruang kantor sebuah perusahaan.

Staf: Bu, sebentar lagi pilpres ya. Gak ada pilihan lain nih saya pasti pilih no 2.

Saya: Kamu yakin mo pilih no 2. Memang alasan kamu milih apa?

Staf: Ya, abis yang saya tahu cuma itu bu. Gini ya bu kalo no 3 kan JK-Wiranto. Trus no 2 itu kan SBY-Budiono. Nah yang no 1 nih bu saya bingung. Kok tulisannya Mega-Pro ya bu. Padahal Megawati kan pasangannya Prabowo. Emang Pro-nya apa sih bu?

Saya: Menahan ketawa. Yang akhirnya jadi ketawa beneran. Ngakak pula.

Staf: Melihat saya dan seisi ruangan dengan muka bener-benar bingung sambil terus bertanya:  Memang Pro apaan sih kok pada ketawa.

Saya: Lili, lili kemana aja kamu selama ini? Pro itu ya Prabowo Subiyanto.

Staf: Oooooooooooooo.....gitu. Diam.... Diam.... Diam...

Saya: Ketawa selesai dan kembali sibuk dengan pekerjaan.

Staf: Setengah berbisik, tapi bu Prabowo kok disingkat Pro sih....

Saya: Gubrakkkkkkkkkkkkkk......Lili lebih baik kamu kerja lagi deh daripada saya ganti nama kamu jadi bolot. Ayo pilih mana?

Staf: Bu, bolot itu apa?

Saya: SOS.....SOS.....SOS.....Tolong keluarkan saya dari sini.........

 

Dedicated to: Staf paling rajin di ruangan saya, Pratiwi Ng.

11 June 2009

WELCOME HOME DAD

Tuhan itu ada dan saya setuju. Tuhan itu hidup saya pun setuju. Tuhan itu tidak pernah tertidur saya sangat setuju. Tuhan itu membela ketidakadilan saya semakin setuju.

Sudah pernah baca entri ini atau ini. Saat itu saya terpukul dengan berita yang disampaikan oleh ibu bahwa ayah saya mulai hari ini resmi menjadi tahanan Bea Cukai dengan kasus tanpa dokumen. Dan besok siang akan dipindahkan ke Rumah Tahanan Kelas 1A Tanjungpinang. It’s a very big deal, friend. Karena saya tidak melihat alasan yang jelas atas status penahanan ayah. Fakta yang ada dilapangan dan saksi –saksi mata yang melihat kejadian ini pun setuju dengan saya bahwa kasus ayah bisa diselesaikan dengan membayar bea masuk barang. Banyak orang geleng-geleng kepala sambil mengurut dada dengan keputusan ini. Mari kita kembali lagi.

Tuhan itu ada dan saya setuju. Tuhan itu hidup saya pun setuju. Tuhan itu tidak pernah tertidur saya sangat setuju. Tuhan itu membela ketidakadilan saya semakin setuju.

Pernah dengar tentang ini: Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai ! Dan sekali lagi saya teramat sangat setuju dengan hal ini. Ketika manusia menabur kebaikan maka akan menuai kebaikan juga. Ketika manusia menabur kejahatan maka akan menuai kejahatan pula. Lihat petani apa yang ditabur dan apa yang dituai selalu sama bukan? Seringkali kita tidak sadar bahwa hukum karma, hukum tabur tuai atau apapun itu namanya tetap selalu ada selama bumi masih berputar. Kita tidak tahu apa yang ada didepan sana. Itu betul ! Tapi selama kita menyadari esensi kehidupan kita tahu bagaimana seharusnya hidup berdampingan dengan yang lain. Cukup.

Dan mereka yang telah memasukkan ayah saya ke penjara, saat ini sedang berurusan dengan pihak kepolisian dengan kasus penyeludupan kelas berat. Bukan saya. Bukan juga keluarga saya. Tapi saya yakin ini cara Tuhan membayar semua air mata ibu yang setiap malam selalu berdoa dan ketulusan ayah melewati hari-hari berat di LP. Tidak mudah bagi ayah saya ketika harus berpisah dari keluarga. Tidak mudah untuk ayah tidak melihat pertumbuhan cucunya. Tidak mudah juga menjalani hidup yang serba terbatas. “Kau pikir hidup terkurung dibalik jeruji besi bagi ayahku adalah hal mudah? Sebentar lagi kau akan merasakannya, nikmatilah seperti ayahku menjalaninya !”.

Hari ini semua hukuman itu telah lunas dibayar. Telah 10 bulan saya kehilangannya. ketika saya bangun pagi ini saya mendapati candaannya ada diantara keributan pagi rumah ini. Saya terbangun dengan tersenyum menghampirinya dan ikut larut dalam canda. Melihatnya tertawa, bercanda garing membuat saya benar-benar sadar bahwa badai itu telah berlalu. Welcome home dad. Hari ini bahkan mataharipun menyambut kepulangannya dengan sinar terindah. Dan saya masih ingin berkata: Tuhan itu ada dan saya setuju. Tuhan itu hidup saya pun setuju. Tuhan itu tidak pernah tertidur saya sangat setuju. Tuhan itu membela ketidakadilan saya semakin setuju.

 

I’m staring out into the night. Trying to hide the pain. I’m going to the place where love and feeling good don’t ever cost a thing. And the pain you feel’s a different kind of pain.

I’m going HOME. Back to the place where i belong. And where your love has always been enough for me. I’m not running from, no i think you’ve got me all wrong. I don’t regret this life i chose for me. But these places and these faces are getting old. So i’m going HOME.

The miles are getting longer it seems. The closer i get to you. I’ve not always been the best man or friend for you. But your love remains true and i don’t know why. You always seem to give me another try.

Be careful what you wish for. Cause you just might get it all. You just might get it all and then some you don’t want. Be careful what you wish for. Cause you just might get it all. You just might get it all.

HOME by Chris Daughtry

10 June 2009

SHAMPOO MENTOS

Percakapan seorang ibu 1 dan ibu 2. Dilatar belakangi oleh saya. Berlokasi di antian kasir sebuah supermarket.

Ibu 1: Ibu 2 tidak pake sampo (jangan protes, si ibu bilang sampo bukan shampoo) S lagi ya?

Ibu 2: Oh, sudah tidak lagi bu sekarang saya ganti ke sampo C.

Saya: Diam (Berdiri santai sambil menguping pembicaraan kedua ibu ini).

Ibu 1: Apa sampo itu bagus?

Ibu 2: (sambil jongkok disebelah keranjang belanjaan mengambil barang yang dimaksud) Rambut saya jadi bagus bu sejak pake ini *sambil menunjukkan botol shampoo*. Sampo ini menghilangkan ketombe. Trus ya bu ada apa tuh yang bikin kepala dingin.

Ibu 1: Menggelengkan kepala

Saya: Ikut menjawab dalam hati *saja*.

Ibu 2: Aaaa… ya itu bu ada mentosnya jadi bikin kepala tuh dingin terus. Coba deh bu.

Ibu 1: Mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

Saya: Menahan ketawa sambil melirik permen mentos rapi jali berjejer dirak samping kasir.

Sakit perut saya menahan diri supaya jangan ketawa ngakak sendirian. Ntar dikira orang stress pula kan kacau. Ya ampyun buuuuuuu yang dingin dikulit kepala itu bukan mentos tapi menthol. Huahahahaha…Setelah Indonesia merdeka puluhan tahun menthol masih saja dikenali sebagai mentos.

Ayo, ada yang berminat mencampurkan mentos pada shampoo dijamin mendinginkan kulit kepala.